Strategi Dakwah Sunan Bonang dan Sunan Giri

Nasrulloh Baksolahar
5 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

TIDAK jauh dari Surabaya terdapat Bukit Giri, sebuah kawasan perbukitan yang menghadap ke laut. Di tempat inilah dimakamkan Raden Paku, yang lebih dikenal dengan gelar Sunan Giri. Ia adalah putra Maulana Ishak, sahabat Maulana Malik Ibrahim—dua tokoh awal penyebaran Islam di Jawa.

Sejak kecil, kehidupan Raden Paku telah ditempa oleh dinamika dakwah. Karena ayahnya kembali ke Pasai dan lama tidak pulang, ia diasuh oleh seorang perempuan terpandang, Nyi Gede Maloka. Setelah dewasa, ia belajar agama di Ampel bersama Makhdum Ibrahim—putra Sunan Ampel—yang kelak dikenal sebagai Sunan Bonang.

Pendidikan dan Pembentukan Keilmuan

Kedua pemuda ini dikenal memiliki kecerdasan dan kedalaman ilmu dibandingkan rekan-rekannya sesama Walisongo. Melihat potensi tersebut, Sunan Ampel mendorong mereka memperdalam ilmu ke luar Jawa. Perjalanan itu membawa mereka singgah di Pasai, Aceh—pusat studi Islam penting di kawasan Asia Tenggara saat itu.

BACA JUGA:  Wayang, Gamelan, dan Suluk: Jalan Walisongo Memasuki Jiwa Masyarakat Jawa

Di Pasai, berkembang kuat tradisi tasawuf yang pada masa itu disebut sebagai “ilmu sejati”. Banyak ulama dari India dan Persia membuka majelis di sana. Catatan sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan penelitian modern seperti A.H. Johns tentang jaringan ulama Nusantara menunjukkan bahwa Pasai memang menjadi simpul intelektual Islam awal di kawasan ini.

Di sanalah Raden Paku kembali bertemu dengan ayahnya dan memperdalam tasawuf. Dalam beberapa tradisi lokal, ia disebut memperoleh kedalaman spiritual yang tinggi hingga mendapat gelar Ainul Yaqin. Sementara itu, Makhdum Ibrahim memperkaya diri dengan pendekatan dakwah berbasis budaya dan politik.

Setelah memperoleh ijazah dari para guru mereka, keduanya kembali ke Jawa. Namun arah dan strategi dakwah mereka berkembang sesuai karakter dan visi masing-masing.

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Diferensiasi Strategi Dakwah

1. Pendekatan Elit-Politik: Sunan Bonang

Sunan Bonang menempatkan dakwah pada lingkaran kekuasaan. Ia berpengaruh di lingkungan keraton Majapahit dan kemudian di Demak. Salah satu strategi pentingnya adalah membina Raden Patah—yang kelak menjadi Sultan Demak.

Dengan membangun basis politik di Demak (Bintoro), ia turut berkontribusi pada lahirnya Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Strateginya menitikberatkan pada transformasi dari pusat kekuasaan, sehingga perubahan sosial dapat berlangsung lebih luas dan terstruktur.

Selain itu, Sunan Bonang juga dikenal menggunakan media budaya seperti gamelan dan tembang untuk menyisipkan nilai-nilai tauhid. Pendekatan kultural ini memperhalus proses islamisasi tanpa benturan frontal.

—

2. Pendekatan Grassroots dan Ekspansi Regional: Sunan Giri

Berbeda dengan Sunan Bonang, Sunan Giri membangun basis dakwah di Giri Kedaton. Ia menghimpun rakyat jelata, mendidik kader, dan membentuk pusat pembelajaran yang mandiri.

Strateginya berorientasi pada pengiriman dai dan jaringan sosial. Dari Giri, para muridnya menyebar ke Madura, Bawean, Kangean, bahkan hingga Ternate dan Maluku. Sejumlah penelitian sejarah, termasuk karya Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since c. 1200, menyinggung peran Giri sebagai pusat otoritas keagamaan yang berpengaruh hingga Indonesia Timur.

Sunan Giri juga dikenal menciptakan permainan dan tembang anak-anak bernuansa Islami sebagai sarana internalisasi ajaran tauhid sejak usia dini—sebuah strategi pendidikan yang sistematis dan berjangka panjang.

—

Dua Poros, Satu Tujuan

Jika dirangkum, perbedaan strategi keduanya dapat dilihat sebagai berikut:

Sunan Bonang:

  • Fokus pada elite politik dan budaya keraton
  • Menyiapkan basis kekuasaan Islam (Demak)
  • Transformasi dari pusat kekuasaan

Sunan Giri:

  • Fokus pada pendidikan rakyat dan kaderisasi
  • Mengirim dai ke berbagai wilayah Nusantara
  • Transformasi dari akar masyarakat

Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Satu membangun legitimasi politik, satu lagi memperluas jaringan sosial dan pendidikan.

BACA JUGA:  Masjid Demak dan Kota Cirebon: Konseptor Walisongo, Arsitek dari Majapahit

Kesimpulan

Strategi dakwah Sunan Bonang dan Sunan Giri menunjukkan bahwa islamisasi di Jawa bukan proses spontan, melainkan gerakan terencana dan bertahap. Ada pendekatan struktural melalui kekuasaan, dan ada pendekatan kultural melalui masyarakat.

Sinergi dua model ini membuat Islam tidak hanya berdiri sebagai identitas politik di Demak, tetapi juga berakar kuat dalam kehidupan sosial Nusantara—terutama di wilayah Indonesia Timur.

Dari Giri hingga Demak, dakwah bergerak dalam dua jalur berbeda, namun menuju tujuan yang sama: menanamkan tauhid dan membangun peradaban Islam di tanah Jawa dan sekitarnya. []

Sumber: Buya Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, GIP, 2017

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *