PERANG mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (1945–1949) berlangsung dalam banyak fase. Tidak seluruhnya terjadi di bulan Ramadhan, tetapi beberapa momentum penting dalam periode revolusi fisik memang beririsan dengan bulan suci. Berikut catatan yang paling menonjol secara historis.
—
1. Agresi Militer Belanda I (Operatie Product) – Ramadhan 1366 H
Agresi Militer Belanda I
Belanda melancarkan agresi militer pertamanya pada 21 Juli 1947. Dalam kalender Hijriah, periode operasi ini beririsan dengan Ramadhan 1366 H (sekitar Juli–Agustus 1947).
Serangan dilakukan secara serentak di Jawa dan Sumatra dengan dalih “aksi polisionil”, tetapi pada hakikatnya adalah upaya merebut kembali wilayah ekonomi strategis Republik—terutama perkebunan dan pelabuhan.
Di berbagai front, pasukan TNI dan laskar rakyat bertahan dengan persenjataan terbatas. Di Sumatra Timur, Jawa Barat, hingga Jawa Timur, pertempuran berlangsung dalam kondisi logistik minim. Bagi banyak pejuang Muslim, Ramadhan kala itu bukan alasan untuk menghentikan perlawanan. Justru puasa berjalan beriringan dengan patroli, penyergapan, dan pertahanan garis depan.
Agresi ini memicu tekanan internasional yang kemudian melahirkan Perjanjian Renville (1948), meski perjanjian tersebut justru mempersempit wilayah Republik.
BACA JUGA: Ramadhan dan Lahirnya Indonesia
2. Agresi Militer Belanda II – Ramadhan 1368 H
Agresi Militer Belanda II
Serangan kedua dimulai 19 Desember 1948, ketika Belanda menduduki Yogyakarta dan menawan Presiden serta Wakil Presiden. Periode operasi militer dan perlawanan gerilya yang menyusul memasuki Ramadhan 1368 H (sekitar Juli 1949).
Dalam fase ini, strategi perang berubah total. Panglima Besar Sudirman memimpin perang gerilya dalam kondisi sakit paru-paru yang parah. TNI bergerak dari desa ke desa, dari hutan ke pegunungan.
Di sejumlah daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, bulan Ramadhan 1949 dijalani dalam suasana perang terbuka dan penyergapan sporadis. Pasukan Republik mengandalkan mobilitas, dukungan rakyat, dan disiplin moral yang kuat. Puasa bukan sekadar ibadah pribadi, melainkan menjadi bagian dari ketahanan psikologis pasukan.
Tekanan diplomatik dunia internasional akhirnya memaksa Belanda kembali ke meja perundingan. Perjuangan bersenjata dan diplomasi berjalan beriringan hingga pengakuan kedaulatan pada Desember 1949.
3. Operasi Gerilya dan Front Lokal di Bulan Ramadhan
Selain dua agresi besar, banyak pertempuran skala lokal selama Revolusi 1945–1949 terjadi dalam bulan Ramadhan, terutama karena perang berlangsung bertahun-tahun tanpa jeda. Di berbagai wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatra, operasi sapu bersih dan perlawanan rakyat terus terjadi tanpa memandang kalender ibadah.
Bagi sebagian laskar dan santri pejuang, perang mempertahankan kemerdekaan dipahami sebagai kelanjutan jihad melawan kolonialisme. Ramadhan menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus konsolidasi moral.
BACA JUGA: Ramadhan dan Jejak Kemerdekaan Negara-negara Muslim
Catatan Historis
Secara faktual, tidak ada satu pertempuran tunggal yang menjadi “ikon Ramadhan” dalam Revolusi Indonesia seperti Fathu Makkah dalam sejarah Islam klasik. Namun karena perang kemerdekaan berlangsung selama empat tahun penuh, Ramadhan beberapa kali hadir di tengah fase genting—terutama pada 1947 dan 1949.
Artinya, bulan puasa tidak menghentikan revolusi. Ia justru hadir di tengahnya.
Dalam konteks Indonesia, Ramadhan bukan hanya bulan Proklamasi (9 Ramadhan 1364 H), tetapi juga menjadi saksi bahwa mempertahankan kemerdekaan menuntut daya tahan fisik dan spiritual yang panjang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

