Kenapa Banyak Orang Anggap Zina Biasa, tapi Heboh saat Ada yang Poligami?

Yudi
By Yudi
4 Min Read
Foto: Freepik

DI zaman sekarang, ada fenomena yang cukup aneh dalam masyarakat. Perbuatan yang jelas-jelas diharamkan seperti zina justru sering dianggap biasa. Bahkan dalam banyak tayangan film, sinetron, hingga media sosial, hubungan tanpa ikatan pernikahan sering digambarkan sebagai sesuatu yang normal, romantis, bahkan dianggap bagian dari gaya hidup modern.

Namun di sisi lain, ketika ada seorang laki-laki yang ingin menjalankan poligami—yang jelas memiliki dasar dalam syariat Islam—justru banyak orang yang langsung heboh, marah, mengecam, bahkan menghina.

Ini menunjukkan adanya standar ganda dalam cara masyarakat memandang dosa dan syariat.

BACA JUGA: Ketika Suami Ingin Poligami karena Sudah Tak Berhasrat kepada Istri Pertama

Zina yang Dianggap Lumrah

Zina adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Allah bahkan tidak hanya melarang perbuatannya, tetapi juga melarang mendekatinya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”

Namun realitas hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Banyak orang yang berpacaran bertahun-tahun tanpa ikatan halal. Bahkan ada yang tinggal bersama tanpa menikah. Hal ini sering dianggap sebagai hal yang wajar.

Ironisnya, sebagian masyarakat justru lebih memaklumi hubungan haram ini daripada hubungan yang sah secara agama.

Poligami yang Halal Justru Dipermasalahkan

Sementara itu, ketika ada laki-laki yang menikah lagi secara sah—dengan akad nikah, mahar, dan tanggung jawab—justru dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.

Padahal poligami adalah sesuatu yang diizinkan dalam Islam dengan syarat-syarat tertentu, seperti mampu berlaku adil dan mampu memberi nafkah.

https://s.shopee.co.id/60LPl3PdxE

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah satu saja.”

Artinya, poligami bukan kewajiban, tetapi juga bukan sesuatu yang haram.

Pengaruh Pola Pikir Sekuler

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Salah satu penyebabnya adalah pengaruh pola pikir sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Dalam pola pikir ini, kebebasan pribadi sering dianggap lebih penting daripada aturan agama. Akibatnya, hubungan di luar nikah dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak perlu dipermasalahkan.

Sebaliknya, poligami sering dianggap sebagai sesuatu yang kuno, tidak modern, atau merendahkan perempuan.

Padahal jika dilihat dari sudut pandang syariat, justru hubungan haram adalah perbuatan yang merusak moral dan merusak masyarakat.

Dampak Sosial Zina

Zina bukan hanya dosa pribadi. Ia juga membawa dampak besar bagi masyarakat.

Beberapa dampaknya antara lain:

  • Banyaknya anak yang lahir tanpa ayah yang jelas.

  • Rusaknya kehormatan keluarga.

  • Penyebaran penyakit menular seksual.

  • Hancurnya nilai kesetiaan dalam hubungan.

Sebaliknya, poligami justru tetap berada dalam sistem pernikahan yang sah dan memiliki tanggung jawab hukum serta moral.

Saat Dosa Tidak Lagi Dianggap Dosa

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat sudah mulai kehilangan sensitivitas terhadap dosa. Perbuatan yang dulu dianggap memalukan kini justru dianggap biasa.

Sebaliknya, sesuatu yang sebenarnya halal justru dipandang negatif.

Inilah salah satu tanda rusaknya standar moral dalam masyarakat. Ketika halal dianggap aneh dan haram dianggap biasa, maka itu pertanda bahwa nilai-nilai agama mulai tersingkir dari kehidupan.

Kembali kepada Standar Agama

Sebagai seorang Muslim, standar benar dan salah seharusnya bukan ditentukan oleh tren, opini publik, atau budaya populer. Standar itu harus kembali kepada ajaran agama.

BACA JUGA: Hukum Lelaki yang Suka Bercanda Pengen Poligami

Zina tetaplah dosa besar, meskipun banyak orang melakukannya. Dan poligami tetaplah sesuatu yang dibolehkan, meskipun banyak orang tidak menyukainya.

Yang paling penting bukan mengikuti arus opini manusia, tetapi mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Allah.

Karena pada akhirnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban bukanlah pendapat manusia, melainkan amal perbuatan kita di hadapan Tuhan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *