6 Hal yang Membuatmu Rugi di Bulan Ramadhan

Umar Faqih
2 Min Read
Foto: Freepik

BULAN Ramadhan adalah musim pahala. Setiap detiknya bernilai ibadah. Setiap amal dilipatgandakan. Namun tidak semua orang benar-benar beruntung melewatinya. Ada yang justru keluar dari Ramadhan tanpa membawa perubahan berarti. Bahkan ada yang merugi. Kerugian ini bukan karena kurangnya waktu, tetapi karena kelalaian diri sendiri.

Pertama, tidak berpuasa dan tidak beribadah dengan maksimal.

Ramadhan adalah momentum memperbanyak amal. Jika seseorang masih bermalas-malasan, menunda ibadah, dan lebih sibuk dengan urusan dunia, maka ia kehilangan banyak kesempatan pahala. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menghidupkan hati dengan ketaatan.

BACA JUGA: Apa dan Berapa Banyak Kaffarat Suami Istri yang Berhubungan di Siang Hari Ramadhan?

Kedua, tidak menjaga shalat.

Shalat adalah tiang agama. Ramadhan seharusnya membuat shalat semakin terjaga, bukan justru lalai. Menunda shalat, mengerjakannya di akhir waktu, atau bahkan meninggalkannya, menjadi tanda kerugian besar. Ibadah puasa tidak akan sempurna tanpa shalat yang baik.

Ketiga, puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Inilah kerugian yang sering tidak disadari. Lisan tetap berdusta, hati dipenuhi iri dan dengki, serta perilaku jauh dari akhlak mulia. Puasa seperti ini tidak memberi dampak ruhani. Tubuh memang menahan makan dan minum, tetapi jiwa tidak ikut berpuasa.

https://s.shopee.co.id/2Vlfst3K1Z

Keempat, tidak mengikuti shalat tarawih hingga selesai.

Shalat tarawih adalah ibadah istimewa di malam Ramadhan. Sayang sekali jika dikerjakan setengah-setengah. Padahal, menyempurnakan tarawih bersama imam hingga selesai bernilai pahala besar dan menjadi bukti kesungguhan dalam ibadah.

Kelima, tidak membiasakan membaca Al-Qur’an.

Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Ironis jika seorang muslim jarang membacanya di bulan ini. Tilawah Al-Qur’an menenangkan hati, membersihkan jiwa, dan melipatgandakan pahala. Tanpanya, Ramadhan terasa hampa.

BACA JUGA:  10 Terakhir Ramadhan, Apakah Rasulullah ﷺ hanya Ber-i’tikaf?

Keenam, menjadi pribadi yang lebih buruk daripada tahun lalu.

Ramadhan seharusnya membentuk pribadi yang lebih taat, sabar, dan dekat kepada Allah. Jika setelah Ramadhan akhlak tetap buruk, ibadah tetap lalai, bahkan lebih parah dari sebelumnya, maka itulah tanda kerugian terbesar.

Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan. Isi hari-harinya dengan ibadah terbaik. Karena bisa jadi, inilah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *