MEMASUKI sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan, suasana rumah tangga Muslim sering kali mengalami perubahan ritme yang drastis. Salah satu fenomena yang umum terjadi adalah suami yang seolah “meninggalkan ranjang” atau membatasi hubungan intim dengan istri.
Meski terdengar tidak biasa bagi pasangan baru, tindakan ini sebenarnya berakar pada tuntunan agama yang mendalam dan memiliki tujuan spiritual yang mulia.
Berikut adalah poin-poin penjelasan mengenai fenomena suami meninggalkan ranjang di penghujung Ramadhan:
BACA JUGA: Ketika Suami Ingin Poligami karena Sudah Tak Berhasrat kepada Istri Pertama
Meneladani Sunnah Rasulullah ﷺ
Praktik ini merujuk langsung pada hadis Aisyah RA yang menceritakan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi Muhammad ﷺ mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Istilah “mengencangkan ikat pinggang” ditafsirkan oleh para ulama sebagai kiasan untuk menjauhi hubungan suami istri agar fokus sepenuhnya pada ibadah kepada Allah SWT.
Mengejar Kemuliaan Lailatul Qadar
Alasan utama suami memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di masjid atau di atas sajadah adalah demi memburu Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini tersebar di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir.
Dengan mengurangi kontak fisik di ranjang, seorang suami berupaya meminimalisir hal-hal yang dapat mendistraksi kekhusyukan dan menjaga kondisi tubuh agar tetap terjaga untuk sholat malam dan dzikir.
I’tikaf sebagai Bentuk Pengasingan Diri
Banyak suami yang memilih melakukan i’tikaf (berdiam diri di masjid) secara penuh selama sepuluh hari terakhir. Secara otomatis, hal ini membuat mereka terpisah dari tempat tidur rumah.
Dalam kondisi i’tikaf, hubungan suami istri secara syariat adalah hal yang dilarang. Ini adalah bentuk pengasingan diri sementara dari urusan duniawi demi memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.
Bentuk Tarbiyah atau Pendidikan Keluarga
Tindakan suami yang “meninggalkan ranjang” bukan berarti pengabaian terhadap istri, melainkan ajakan implisit untuk bersama-sama meningkatkan kualitas ibadah. Dengan tidak mengutamakan urusan syahwat di malam-malam tersebut, suami sedang mencontohkan prioritas yang lebih tinggi.
Istri pun diharapkan dapat memahami dan turut serta menghidupkan malam dengan tilawah atau sholat, sehingga keharmonisan tetap terjaga melalui kesamaan visi spiritual.
BACA JUGA: Apa Saja yang Dibolehkan Seorang Suami terhadap Istrinya di Siang Hari Ramadhan?
Bukan Berarti Memutus Komunikasi dan Kasih Sayang
Penting untuk dipahami bahwa menjauhi ranjang dalam konteks ini hanyalah pembatasan hubungan biologis demi ibadah, bukan memutus komunikasi atau bersikap dingin.
Kasih sayang tetap bisa disalurkan melalui doa bersama, makan sahur bersama, atau saling menyemangati dalam tilawah. Setelah hari raya Idul Fitri tiba, kemesraan suami istri justru diharapkan kembali mekar dengan kualitas batin yang lebih bersih dan tenang.
Langkah ini adalah pengorbanan kecil selama sepuluh malam demi meraih keberkahan yang luar biasa sepanjang tahun. Kerja sama dan saling pengertian antara suami dan istri menjadi kunci agar sepuluh malam terakhir ini benar-benar menjadi puncak kemenangan spiritual bagi keluarga. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

