KESULTANAN Seljuk Anatolia memasuki masa paling rapuh ketika Giyaseddin Keyhüsrev III naik takhta dalam usia enam tahun, menggantikan Kılıç Arslan IV. Kekuasaan yang lemah ini membuka jalan bagi sang wali, Pervane Muineddin Suleyman, untuk mengendalikan pemerintahan. Pada saat yang sama, kedaulatan Seljuk telah tergerus; wilayah mereka praktis berada di bawah dominasi Mongol, sementara sultan hanya berkuasa di sekitar Konya.
Dalam situasi terjepit itu, Pervane memainkan politik dua kaki. Di satu sisi, ia menunjukkan loyalitas kepada Mongol. Di sisi lain, ia diam-diam menjalin hubungan dengan Sultan Baibars dari Kesultanan Mamluk, yang saat itu sedang bangkit melawan kekuatan Latin dan memperluas pengaruhnya ke wilayah Syam dan Anatolia. Ambisi Pervane jelas: memanfaatkan kekuatan Mamluk untuk mengusir Mongol, sekaligus membuka jalan bagi dirinya menjadi penguasa sejati.
Strategi ini mencapai puncaknya pada tahun 1277 dalam Pertempuran Elbistan. Pasukan Baibars berhasil mengalahkan Mongol dan memasuki Anatolia, bahkan sempat menduduki Kayseri dan Konya. Namun kemenangan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu singkat, Baibars justru menarik pasukannya kembali ke Mesir—diduga karena persoalan logistik dan ancaman serangan balik Mongol.
Kepergian Baibars mengubah kemenangan menjadi bencana. Mongol, di bawah pimpinan Abaqa Khan, kembali ke Anatolia dengan kemarahan besar. Mereka menemukan bahwa pasukan Seljuk tidak benar-benar terlibat dalam pertempuran sebagaimana dijanjikan. Akibatnya, mereka menilai Pervane sebagai pengkhianat.
Balasan Mongol sangat brutal. Wilayah Anatolia dilanda pembantaian besar-besaran sebagai bentuk hukuman dan teror. Pada akhirnya, Pervane ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1277. Tidak lama kemudian, kekuasaan Seljuk semakin runtuh, bahkan Giyaseddin Keyhüsrev III sendiri dieksekusi beberapa tahun setelahnya.
Di sinilah tragedi politik berubah menjadi tragedi spiritual.
Kisah penyesalan Pervane sebelum dihukum mati oleh tentara Mongol diabadikan dalam karya Fihi Ma Fihi, di mana Jalaluddin Rumi memberikan nasihat yang dalam dan mengguncang. Rumi mengingatkan bahwa pada awalnya Pervane memiliki niat mulia: mengorbankan diri demi kejayaan Islam. Namun, ketika ia mulai bersandar pada kecerdikan akalnya sendiri dan melupakan ketergantungan kepada Allah, strategi itu justru berubah menjadi sumber kehancuran.
Rumi menegurnya dengan lembut namun tegas: bahwa akal yang tidak dituntun oleh iman akan menjerumuskan. Persekutuan dengan kekuatan zalim, sekalipun dengan dalih strategi, justru membuka pintu kehancuran yang lebih besar. Apa yang semula dimaksudkan untuk menjaga umat, berbalik menjadi sebab penderitaan mereka.
BACA JUGA: Golda Meir di Hari Pembakaran Al-Aqsa
Namun nasihat Rumi tidak berhenti pada kecaman. Ia membuka pintu harapan. Ia mengajak Pervane untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan, tetapi kembali kepada Allah dengan penuh rasa takut dan harap. Bahkan dalam dosa dan kegagalan, selalu ada jalan kembali—selama hati tidak berpaling dari-Nya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an (Yusuf: 87), manusia dilarang berputus asa dari rahmat-Nya. Pesan ini menjadi penutup yang kuat: sejarah bukan hanya tentang kekuasaan dan strategi, tetapi juga tentang hati, taubat, dan harapan.
Kisah Pervane adalah pelajaran abadi—bahwa pengkhianatan terhadap nilai dan ketergantungan pada selain Allah, betapapun cerdasnya dibungkus, pada akhirnya hanya akan melahirkan penyesalan. []
Sumber:
Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi, Penerbit Forum, 2016
https://ms.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Elbistan
https://ihram.republika.co.id/berita/qf6w41385/kala-kesultanan-seljuk-menjadi-boneka-bangsa-mongol
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

