DI kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang-orang yang dikenal baik: suka menolong, jujur, ramah, dan peduli terhadap sesama. Namun, di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang masih meninggalkan shalat. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa seseorang bisa baik secara sosial, tetapi lalai dalam kewajiban spiritual?
1. Memahami “Baik” Hanya dari Sisi Sosial
Banyak orang menganggap kebaikan hanya sebatas hubungan antar manusia (hablum minannas), seperti membantu orang lain atau bersikap sopan. Padahal dalam Islam, kebaikan juga mencakup hubungan dengan Allah (hablum minallah).
Shalat adalah bentuk utama hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Tanpa shalat, ada bagian penting dari kebaikan yang belum terpenuhi.
BACA JUGA: Makmum Tidak Membaca Apa Pun Saat Shalat—Apakah Sah?
2. Kurangnya Pemahaman Tentang Pentingnya Shalat
Sebagian orang tidak sepenuhnya memahami bahwa shalat adalah kewajiban utama dalam Islam, bahkan menjadi pembeda antara iman dan kekufuran menurut banyak ulama.
Karena kurangnya ilmu, mereka merasa cukup dengan berbuat baik kepada sesama, tanpa menyadari bahwa shalat adalah fondasi utama ibadah.
3. Menunda dan Meremehkan
Ada juga yang sebenarnya ingin shalat, tetapi terus menunda. Awalnya karena sibuk, lama-lama menjadi kebiasaan.
Perasaan “nanti saja” ini berbahaya, karena waktu terus berjalan dan hati bisa semakin terbiasa meninggalkan kewajiban.
4. Lingkungan yang Tidak Mendukung
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan seseorang. Jika seseorang berada di lingkungan yang tidak menjaga shalat, maka ia pun akan lebih mudah meninggalkannya.
Sebaliknya, lingkungan yang baik akan saling mengingatkan dan menguatkan dalam ibadah.
5. Hati yang Belum Tersentuh
Dalam Islam, hidayah adalah kunci. Seseorang bisa saja baik secara akhlak, tetapi belum mendapatkan dorongan kuat dalam hatinya untuk menjalankan shalat.
Ini bukan berarti ia buruk, tetapi menunjukkan bahwa perjalanan spiritual setiap orang berbeda.
6. Menganggap Kebaikan Sudah Cukup
Ada anggapan bahwa selama seseorang tidak menyakiti orang lain dan sudah berbuat baik, maka itu sudah cukup.
Padahal dalam Islam, kebaikan kepada manusia tidak bisa menggantikan kewajiban kepada Allah. Keduanya harus berjalan seimbang.
7. Rasa Malu atau Takut Tidak Konsisten
Sebagian orang enggan mulai shalat karena merasa belum siap atau takut tidak bisa istiqamah.
Padahal, memulai meskipun belum sempurna jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
BACA JUGA: Tata Cara Shalat Hajat yang Harus Diketahui Muslim
Menjadi orang baik adalah hal yang mulia, tetapi dalam Islam, kebaikan sejati adalah yang mencakup hubungan dengan sesama manusia dan juga dengan Allah.
Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa. Ia adalah sumber ketenangan, petunjuk, dan penguat hidup.
Bagi siapa pun yang belum menjaga shalat, pintu untuk kembali selalu terbuka. Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai—karena justru dengan shalat, kita belajar menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
