Adipati Unus: Sepenuh Hidupnya untuk Jihad Maritim Melawan Portugis di Malaka

Nasrulloh Baksolahar
5 Min Read
Foto: Islampos

KETIKA Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, banyak penguasa di Nusantara memilih membaca situasi. Namun tidak dengan Adipati Unus. Ia tidak sekadar membaca ancaman—ia menjadikannya panggilan hidup.

Di tangan pemuda pesisir dari Demak ini, perang melawan Portugis bukan sekadar konflik dagang, tetapi perjuangan ideologis, ekonomi, dan peradaban. Dan seperti Shalahuddin Al-Ayyubi yang menghabiskan hidupnya untuk membebaskan Al-Quds, Adipati Unus menempatkan seluruh hidupnya pada satu tujuan: mengusir Portugis dari Malaka.

—

Seruan dari Bintan: Awal Sebuah Jihad Maritim

Setelah terusir, Sultan Mahmud Syah membangun basis di Pulau Bintan. Dari sanalah seruan bantuan dikirim ke berbagai kekuatan Muslim, termasuk ke Kesultanan Demak.

Adipati Unus merespons lebih cepat dari yang lain. Ia memahami satu hal yang belum tentu disadari semua penguasa saat itu:
Portugis tidak bisa dilawan di darat sebelum dikalahkan di laut.

—

Membangun Kekuatan: Menghidupkan Warisan Majapahit

Langkah pertamanya bukan menyerang, tetapi membangun.

  • Di Jepara dan Semarang, ia menghidupkan kembali tradisi maritim lama:
  • Produksi kapal jong raksasa
  • Penggunaan cetbang (meriam isian belakang)
  • Rekrutmen pelaut dan teknisi, termasuk Muslim Tionghoa

Selama bertahun-tahun, ia tidak tampil di medan perang—ia mempersiapkan medan itu sendiri.

Ini mengingatkan pada strategi Shalahuddin Al-Ayyubi yang membangun kekuatan sebelum merebut Yerusalem. Bedanya, panggung Adipati Unus adalah lautan.

—

Ekspedisi Pertama (1513): Laut sebagai Medan Jihad

  • Awal 1513, sekitar 100 kapal berangkat dari Jepara. Armada ini membawa:
  • 5.000–12.000 pasukan
  • Sekitar 30 jong besar berlapis pelindung tebal
  • Artileri buatan Jawa
  • Armada ini tidak sendiri. Ia bergabung dengan:
  • Pasukan Palembang
  • Kekuatan Melayu loyalis Malaka

Pertempuran di Selat Malaka berlangsung sengit. Catatan Portugis bahkan mengakui kehebatan kapal-kapal Jawa yang sulit ditembus meriam.

Namun hasilnya pahit:

  • Puluhan kapal hancur
  • Ratusan prajurit gugur
  • Malaka belum berhasil direbut

Tetapi dari kegagalan itu lahir sesuatu yang lebih besar:
nama Adipati Unus menggema sebagai “Pangeran Sabrang Lor”—pangeran yang menyeberangi lautan demi jihad.

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Antara Kekalahan dan Tekad: Jalan yang Tidak Berhenti

Di sinilah perbandingan dengan Shalahuddin Al-Ayyubi menemukan titik relevansinya.

Keduanya:

  • Menghadapi musuh yang unggul secara teknologi
  • Mengalami fase kegagalan
  • Tidak menghentikan perjuangan

Adipati Unus tidak berhenti setelah 1513. Ia justru memperbesar kekuatan.

—

Ekspedisi Kedua (1521): Jalan Menuju Syahid

Delapan tahun kemudian, armada baru disiapkan:

  • ±375 kapal
  • Koalisi yang lebih luas
  • Persiapan lebih matang
  • Serangan kedua ke Malaka berlangsung lebih brutal:
  • Pertempuran 3 hari 3 malam
  • Pertempuran laut dan darat sekaligus

Namun di tengah pertempuran itulah, Adipati Unus gugur.

Ia tidak wafat di istana.
Ia tidak mati dalam kenyamanan kekuasaan.
Ia jatuh di garis depan, di laut yang sejak awal ia pilih sebagai medan jihadnya.

—

Warisan yang Dilanjutkan

Kematian Adipati Unus tidak menghentikan perlawanan.

Generasi setelahnya melanjutkan:

Ratu Kalinyamat mengirim ratusan kapal

Koalisi dengan Aceh dan Johor terus dibangun

Tekanan terhadap Portugis berlanjut hingga ke Maluku

Bahkan pada 1575, Portugis terusir dari Ternate—sebuah efek domino dari perlawanan panjang ini.

BACA JUGA: Adipati Unus: Remaja 17 Tahun yang Melawan Monster Lautan dari Portugis

Analisis: Antara Sejarah dan Simbol

Menyamakan Adipati Unus dengan Shalahuddin Al-Ayyubi bukan berarti menyamakan skala sejarah mereka. Tapi ada kesamaan pola yang sulit diabaikan:

Dedikasi total pada satu tujuan

Kesediaan berjuang meski peluang kecil

Kematian di jalan perjuangan, bukan dalam kekuasaan

Namun ada satu perbedaan penting: Shalahuddin berhasil merebut Yerusalem.
Adipati Unus tidak berhasil merebut Malaka.

Tetapi sejarah tidak hanya mencatat kemenangan. Ia juga mencatat siapa yang memilih untuk tetap berjuang meski tahu risikonya.

Penutup

Kisah Adipati Unus adalah kisah tentang pilihan hidup.

Ia bisa saja menjadi penguasa biasa di Demak.
Ia bisa menikmati stabilitas dan kekuasaan.

Namun ia memilih laut.
Memilih perang.
Memilih jalan yang berujung pada kematian di Malaka.

Dan di situlah ia menemukan tempatnya dalam sejarah:
bukan sebagai raja yang panjang umur,
tetapi sebagai pemimpin yang menghabiskan hidupnya untuk satu perjuangan—hingga gugur di medan jihadnya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *