Abu Said Al-Khudri Membersamai Rasulullah ﷺ dan Syahidnya Sang Ayah

Nasrulloh Baksolahar
5 Min Read
Foto: Freepik

KETIKA Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Said Al-Khudri berusia sepuluh tahun. Ia bersama anak-anak lainnya dari kalangan Anshar turut menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ. Pada usia ini pula, dia berbaiat kepada Rasulullah ﷺ.

Sejak pertama kali kedua matanya melihat Rasulullah ﷺ, ia terus menyertai beliau, layaknya bayangan, menyerap ilmu dan belajar akhlak dari beliau. Sebab itulah, walaupun masih belia, dia telah mencapai derajat ilmu yang tinggi, sampai-sampai dikatakan,

“Tidak ada seorang pun dari kalangan kalangan sahabat muda Rasulullah ﷺ yang lebih faqih daripada Abu Said Al-Khudri.”

Ketika usianya 13 tahun, pada bulan Syawal tahun 3 Hijriyah. Seruan jihad ke Uhud diserukan. Datanglah Abu Said Al-Khudri untuk ikut. Bahkan orang tuanya, Malik bin Sinan, mendukungnya dengan berkata,

“Wahai Rasulullah ﷺ, ia memiliki tulang yang kuat.”

BACA JUGA:  Anak-anak Berlarian Menyambut Kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah

Rasulullah ﷺ pun memandang Said Al-Khudri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasulullah ﷺ membenarkan ayahnya Said Al-Khudri, namun kemudian bersabda,

“Kembalikan dia.”

Akhirnya Said Al-Khudri kembali ke rumah dengan sangat sedih karena tidak menyertai Rasulullah ﷺ dan ayahnya yang berjihad di Uhud. Pasukan pun berangkat.

Ketika pasukan Uhud pulang, tersiar kabar bahwa Rasulullah ﷺ terluka. Abu Said Al-Khudri bersama anak-anak lainnya menyambut Nabi ﷺ untuk memastikan keselamatannya untuk dikabarkan kepada keluarga kami. Kami berpapasan dengan orang-orang yang kembali, namun Said Al-Khudri terus berusaha bertemu Nabi ﷺ.

Saat bertemu Nabi ﷺ, Said Al-Khudri mencium lututnya saat beliau berada di atas kudanya. Said Al-Khudri melihat wajah Nabi ﷺ ada luka dibeberapa bagian mukanya. Lalu bertanya siapakah yang melakukannya terhadap Rasulullah ﷺ.

https://s.shopee.co.id/BQAMIEKDQ

Setelah itu Rasulullah ﷺ bertanya,

“Apakah engkau Said Al-Khudri?”

“Ya.” Jawab Said Al-Khudri

“Semoga Allah memberikanmu pahala atas syahidnya ayahmu.”

Said Al-Khudri segera menuju jasad ayahnya dengan berlinang air mata. Said Al-Khudri pun menguburkan ayahnya di tempat wafatnya sesuai pesan Rasulullah ﷺ.

Kisah Abu Sa’id Al-Khudri bukan sekadar cerita sejarah, tetapi potret bagaimana generasi besar dibentuk sejak usia dini. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil:

1. Anak dihadirkan dalam peristiwa besar umat
Sejak usia sepuluh tahun, Abu Sa’id sudah ikut menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ dan berbaiat. Ia tidak dijauhkan dari momen penting, tetapi justru dilibatkan. Dari sinilah tumbuh rasa memiliki terhadap agama dan perjuangan umat.

2. Kedekatan dengan teladan melahirkan kedalaman ilmu
Abu Sa’id terus membersamai Rasulullah ﷺ, belajar langsung dari kehidupan beliau. Hasilnya, meskipun masih muda, ia dikenal sebagai sahabat yang faqih. Ini menunjukkan bahwa pendidikan terbaik bukan hanya teori, tetapi kedekatan dengan sosok yang hidup dengan nilai-nilai kebenaran.

3. Menanamkan semangat perjuangan sejak dini
Di usia 13 tahun, keinginannya adalah ikut berjihad. Bahkan ia merasa sedih ketika tidak diizinkan. Ini menunjukkan bahwa orientasi hidup anak sangat ditentukan oleh lingkungan dan nilai yang ditanamkan sejak kecil.

4. Orang tua mendukung keberanian, bukan melemahkan
Ayahnya, Malik bin Sinan, tidak menahan anaknya karena rasa takut. Ia justru mendukung dengan penuh keyakinan. Ini mengajarkan bahwa peran orang tua bukan hanya melindungi, tetapi juga menyiapkan anak menghadapi kehidupan yang berat.

5. Mengajarkan adab terhadap keputusan pemimpin
Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan Abu Sa’id untuk kembali, ia patuh meskipun hatinya sedih. Ini melatih anak untuk menerima keputusan dengan adab, sekalipun tidak sesuai dengan keinginannya.

BACA JUGA:  Beragam Jenis Permainan Anak Bersama Rasulullah ﷺ

6. Cinta kepada Rasulullah ﷺ ditanamkan di atas segalanya
Saat mendengar kabar Rasulullah ﷺ terluka, yang pertama ia cari adalah keselamatan Nabi ﷺ, bukan kabar ayahnya. Ini menunjukkan bahwa pendidikan hati telah mencapai tingkat yang tinggi—mendahulukan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ di atas kepentingan pribadi.

7. Keteguhan dalam menghadapi ujian dan kehilangan
Abu Sa’id menerima kabar syahidnya ayah dengan kesedihan, tetapi tidak kehilangan arah. Ia tetap menjalankan tanggung jawab, bahkan menguburkan ayahnya sesuai tuntunan. Ini menunjukkan pentingnya membentuk mental anak agar kuat menghadapi realitas hidup.

8. Anak dilatih menghadapi kenyataan, bukan dijauhkan darinya
Kisah ini menunjukkan bahwa anak tidak disembunyikan dari luka, kehilangan, dan pengorbanan. Justru dari situlah jiwanya ditempa menjadi matang dan tangguh.

—

Kisah ini memberi satu pelajaran besar:
anak-anak hebat tidak lahir dari kenyamanan semata, tetapi dari keterlibatan dalam nilai, teladan, dan peristiwa besar yang membentuk jiwa mereka.

Sumber;
Hamid Az-Zaini, The Untold Stories Sahabat Nabi, GIP, 2025, hal. 216-220

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *