JABIR bin Abdullah masih sangat belia, 14 tahun, saat diajak oleh ayahnya untuk berhaji. Namun, di Mekah, mereka bertemu Rasulullah ﷺ dan menghadiri malam Aqabah kedua. Jabir, ayahnya dan rombongan lain dari Yastrib pun memeluk dan berjanji setia membela Rasulullah saw seperti darah dagingnya sendiri.
Saat Rasulullah ﷺ hijrah, Jabir menyebut Rasulullah ﷺ dengan hati yang bergembira. Dia selalu menyertai Rasulullah ﷺ untuk mendapatkan ilmu, petunjuk dan akhlak beliau yang menyejukkan.
Di perang Badar dan Uhud Jabir tidak bisa ikut berperang karena masih kecil. Sebelum berangkat perang Uhud, sang ayah memanggilnya, lalu berkata,
“Aku tidak melihat melainkan diriku akan syahid. Bahkan aku akan menjadi orang pertama yang syahid. Sungguh, aku tidak akan meninggalkan orang yang paling aku cintai setelah Rasulullah ﷺ selain engkau. Aku memiliki hutang, maka lunasilah hutang itu dan berbuat baiklah kepada saudari-saudarimu.”
BACA JUGA: Teka-Teki Rasulullah ﷺ kepada Anak-Anak
Setelah ayahnya syahid. Jabir pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku meninggalkan hutang, sedangkan aku tidak memiliki sesuatu yang aku gunakan untuk membayarnya kecuali dengan harta hasil penjualan miliknya.”
Jabir melanjutkan,
“Jika aku membayar dengan cara ini maka bertahun-tahun aku tidak akan pernah bisa membayar hutangnya. Sedangkan aku tidak pernah mempunyai harta lain yang dapat aku infakkan kepada saudari-saudariku selain hasil penjualan kurma tersebut.”
Rasulullah ﷺ lantas berdiri dan beranjak menuju Baidar, kebun kurma milik Jabir. Lalu bersabda,
“Panggil orang-orang yang memberi hutang kepada ayahmu.”
Aku pun memanggil mereka, lalu beliau menimbang kurma untuk mereka hingga Allah melunasi seluruh hutang milik ayahku dari hasil kebun kurma di tahun tersebut.
Dan ketika aku melihat kebun kurma tersebut, ternyata aku menemukannya seperti semula, seakan-akan tidak berkurang satu butir pun darinya.
Kisah Jabir bin Abdullah bukan sekadar kisah tentang hutang yang terlunasi. Di dalamnya terdapat pelajaran besar tentang bagaimana seorang ayah mendidik anaknya dengan iman, tanggung jawab, dan kepercayaan sejak usia muda. Beberapa hikmah pendidikan anak dari kisah ini antara lain:
1. Menanamkan iman sejak kecil
Jabir masih sangat muda ketika diajak ayahnya menghadiri Baiat Aqabah dan bertemu Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa anak sebaiknya dilibatkan dalam lingkungan iman, majelis ilmu, dan perjuangan Islam sejak dini. Jiwa anak dibentuk oleh suasana yang ia lihat dan rasakan.
2. Anak perlu dikenalkan kepada tokoh teladan
Kedekatan Jabir dengan Rasulullah ﷺ menjadikannya tumbuh sebagai sahabat yang berilmu dan matang secara ruhani. Anak yang dekat dengan orang saleh, ulama, dan lingkungan baik akan lebih mudah menyerap akhlak mulia dibanding hanya menerima nasihat lisan.
3. Memberikan tanggung jawab membentuk kedewasaan
Ayah Jabir tidak memanjakannya meski usianya masih muda. Ia justru mengamanahkan pelunasan hutang dan penjagaan saudari-saudarinya. Ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya memberi kenyamanan, tetapi juga melatih amanah dan keberanian memikul beban hidup.

4. Kejujuran dan amanah diwariskan melalui keteladanan
Ayah Jabir sangat memikirkan hutangnya sebelum wafat. Ia tidak ingin meninggalkan tanggungan yang membebani orang lain. Dari sini Jabir belajar bahwa seorang mukmin harus menjaga hak manusia bahkan menjelang kematian.
5. Anak yang dipercaya akan tumbuh kuat
Banyak orang tua meragukan kemampuan anak karena usia mereka masih muda. Namun kisah ini menunjukkan bahwa kepercayaan dapat melahirkan kematangan. Jabir tidak lari dari masalah, tetapi berusaha menyelesaikan amanah ayahnya.
6. Pendidikan keluarga adalah pendidikan pengorbanan
Ayah Jabir tidak hanya meninggalkan pesan tentang hutang, tetapi juga tentang menjaga saudari-saudarinya. Artinya, anak laki-laki dididik untuk menjadi pelindung keluarga, bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.
BACA JUGA: Anak-anak Berlarian Menyambut Kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah
7. Dekat dengan Allah melahirkan pertolongan yang tidak disangka
Ketika Jabir jujur dan bersungguh-sungguh ingin melunasi hutang ayahnya, Allah menghadirkan pertolongan melalui Rasulullah ﷺ. Ini mendidik anak bahwa tanggung jawab yang dijalankan dengan iman tidak akan ditelantarkan oleh Allah.
8. Pendidikan terbaik adalah perpaduan cinta dan amanah
Ayah Jabir mengatakan bahwa Jabir adalah orang yang paling ia cintai setelah Rasulullah ﷺ. Namun cinta itu tidak membuatnya memanjakan anak, melainkan mempercayakan amanah besar kepadanya. Cinta dalam pendidikan bukan sekadar melindungi anak dari kesulitan, tetapi mempersiapkannya menghadapi kehidupan.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa generasi besar lahir bukan hanya dari kenyamanan, tetapi dari iman, tanggung jawab, dan kedekatan dengan orang-orang saleh. Jabir tumbuh menjadi salah satu sahabat besar perawi hadits karena sejak kecil dididik untuk hidup bersama amanah dan perjuangan. []
Sumber:
Mahmud Al-Misri, Ensiklopedia Sahabat Nabi, Pustaka Imam Syafi‘i, 2016, hal. 211-214.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

