PRAKTIK mendekap, memangku, dan menggendong anak-anak yang dicontohkan oleh Muhammad ﷺ bukan sekadar luapan spontan rasa sayang, tetapi bagian dari metode pendidikan anak (tarbiyah al-awlad) yang sangat mendalam.
Dua riwayat berikut menunjukkan dua pilar utama pengasuhan dalam Islam: pembentukan identitas psikologis melalui kedekatan fisik dan penegakan keadilan emosional di antara anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan.
Validasi Eksistensi Anak dan Pentingnya Nama yang Baik
Dalam riwayat sahih tentang Mundzir bin Abi Usaid, tampak bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan perhatian penuh kepada seorang anak kecil, bahkan di tengah kesibukan beliau sebagai pemimpin umat.
Dari Sahl bin Sa’d ra diriwayatkan:
“Mundzir bin Abi Usaid dibawa kepada Rasulullah ﷺ ketika ia baru lahir. Beliau memangkunya, sementara Abu Usaid duduk bersama beliau. Ketika Nabi ﷺ sedang sibuk dengan sesuatu di hadapannya, Abu Usaid memberi isyarat agar anak itu diambil dari pangkuan beliau lalu dibawa pulang. Setelah Rasulullah ﷺ selesai dari urusannya, beliau bertanya, ‘Di mana anak kecil tadi?’ Abu Usaid menjawab, ‘Kami telah membawanya pulang, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Siapa namanya?’ Abu Usaid menjawab dengan menyebut sebuah nama. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Bukan, tetapi namanya adalah Mundzir.’” (HR. Muslim)
BACA JUGA: Abdullah bin Masud: Anak Pengembala Kambing yang Dipenuhi Ilmu
Riwayat ini menunjukkan bahwa memangku anak bukanlah aktivitas yang dianggap remeh oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bahkan menyadari ketika anak tersebut tidak lagi berada di pangkuannya.
Perhatian beliau terhadap nama sang anak juga menunjukkan pentingnya identitas yang baik bagi perkembangan jiwa seorang anak. Nama “Mundzir” yang berarti pemberi peringatan atau pembawa nasihat mengandung doa dan harapan moral yang luhur.
Dengan demikian, pangkuan Rasulullah ﷺ tidak hanya menghadirkan kehangatan fisik, tetapi juga menjadi ruang penanaman identitas dan penghargaan terhadap eksistensi anak.
Keadilan Emosional antara Anak Laki-Laki dan Perempuan
Islam juga menegaskan pentingnya keadilan emosional dalam memperlakukan anak-anak.
Dari Anas bin Malik ra diriwayatkan:
Ada seorang laki-laki yang duduk bersama Nabi ﷺ. Anak laki-lakinya datang, lalu ia mencium dan memangkunya di atas pahanya. Kemudian anak perempuannya datang, lalu ia mendudukkannya di lantai. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Mengapa engkau tidak berlaku adil di antara keduanya?” (HR. Al-Baihaqi)
Teguran Rasulullah ﷺ ini memiliki makna yang sangat besar. Pada masa Arab Jahiliyah, anak perempuan sering dipandang lebih rendah daripada anak laki-laki. Perlakuan fisik yang berbeda dalam hadis tersebut mencerminkan sisa budaya patriarki yang masih melekat.
Rasulullah ﷺ kemudian meluruskan cara pandang itu dengan menegaskan bahwa keadilan tidak hanya berlaku dalam urusan materi, tetapi juga dalam kasih sayang, perhatian, pelukan, pangkuan, dan penghormatan emosional.
Dengan kata lain, Islam menolak diskriminasi afeksi di dalam keluarga.
Pandangan Ulama tentang Pentingnya Memangku Anak
Para ulama klasik menjelaskan bahwa kedekatan fisik dengan anak merupakan bagian dari akhlak dan pendidikan Islami.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tindakan Rasulullah ﷺ memangku anak-anak menunjukkan anjuran bagi orang tua dan pemimpin untuk bersikap lembut serta rendah hati kepada anak kecil.
Sementara Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan bahwa pangkuan merupakan simbol perlindungan dan rasa aman. Ketika seorang anak dipangku, ia merasakan ketenangan emosional dan kedekatan batin dengan orang yang melindunginya.
Ibnu Hajar juga mengingatkan riwayat tentang Rasulullah ﷺ yang menggendong cucunya, Umamah binti Zainab, saat shalat. Ketika berdiri beliau menggendongnya, dan ketika sujud beliau meletakkannya. Hal itu menunjukkan bahwa kasih sayang kepada anak tidak bertentangan dengan kekhusyukan ibadah.
Adapun Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa diskriminasi kasih sayang dapat menanamkan rasa iri, terluka, dan rendah diri dalam hati anak. Karena itu, keadilan dalam pelukan, ciuman, dan perhatian sangat penting untuk menjaga kesehatan jiwa anak dan keharmonisan keluarga.
Penjelasan Psikologi Modern
Temuan psikologi perkembangan modern ternyata sejalan dengan hikmah Sunnah Nabawiyah ini.
Ketika seorang anak dipangku atau dipeluk, tubuhnya mengalami penurunan stres melalui aktivasi sistem saraf parasimpatis. Sentuhan fisik yang hangat membantu menenangkan denyut jantung, mengurangi kecemasan, dan menciptakan rasa aman.

Teori secure attachment yang dikembangkan John Bowlby menjelaskan bahwa kedekatan fisik dengan orang tua membentuk fondasi emosional yang kuat bagi anak.
Anak yang mendapatkan pelukan, pangkuan, dan perhatian emosional secara cukup cenderung tumbuh lebih percaya diri, stabil secara emosi, dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat.
Sebaliknya, perlakuan diskriminatif dalam kasih sayang dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam, terutama pada anak perempuan yang merasa dirinya kurang dihargai dibanding saudara laki-lakinya.
Karena itu, teguran Rasulullah ﷺ dalam hadis tersebut sangat relevan bahkan dalam perspektif psikologi modern.
Implementasi dalam Keluarga Modern
Sunnah memangku dan mendekap anak dapat diterapkan kembali dalam kehidupan keluarga hari ini.
Orang tua dapat menyediakan waktu khusus untuk memeluk, memangku, dan berbicara dengan anak tanpa gangguan gawai atau distraksi lainnya.
BACA JUGA: Anak-anak Berlarian Menyambut Kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah
Ketika anak sedang marah, takut, atau mengalami tantrum, pendekatan kelembutan sering kali lebih efektif daripada hukuman keras. Pangkuan dan pelukan dapat menjadi ruang pemulihan emosional sebelum nasihat diberikan.
Selain itu, orang tua perlu menjaga keadilan afeksi di antara anak-anak. Jangan sampai ada anak yang merasa kurang dipeluk, kurang diperhatikan, atau kurang dihargai dibanding saudaranya.
Keadilan emosional inilah yang akan melahirkan rasa aman, cinta, dan kedekatan yang sehat di dalam keluarga.
Penutup
Sunnah Rasulullah ﷺ dalam memangku, mendekap, dan memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang bukan sekadar ekspresi kelembutan pribadi, tetapi metode pendidikan yang membangun jiwa manusia sejak usia dini.
Melalui pangkuan, pelukan, dan perhatian yang adil, seorang anak belajar tentang cinta, keamanan, penghargaan diri, dan kemuliaan dirinya di hadapan Allah.
Karena itu, keluarga yang dipenuhi sentuhan kasih sayang dan keadilan emosional akan lebih mudah melahirkan generasi yang sehat jiwanya, kuat karakternya, dan lembut hatinya. []
Sumber:
Nizar Abazhah, Sahabat Cilik Rasulullah, Zaman, 2011
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

