TRADISI korespondensi politik dan fatwa jihad dari pusat dunia Islam—khususnya Makkah—ke Nusantara bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Dalam lintasan sejarah maritim Melayu-Indonesia, surat-surat ulama, risalah keagamaan, serta jaringan haji dan perdagangan berfungsi sebagai infrastruktur komunikasi bawah tanah yang efektif dalam menggerakkan perlawanan terhadap kolonialisme Eropa.
Melalui jalur pelayaran dan jaringan intelektual Islam, gagasan tentang jihad, keadilan, dan pembelaan terhadap umat ditransmisikan melintasi samudra. Surat-surat itu tidak hanya menjadi medium dakwah, tetapi juga instrumen mobilisasi sosial, legitimasi politik, dan konsolidasi perlawanan bersenjata.
1. Syeikh Yusuf Al-Makassari: Jaringan Tarekat dan Perlawanan Maritim
Jauh sebelum Syeikh Abdus Samad al-Palimbani, Syeikh Yusuf Al-Makassari telah membangun pola perlawanan berbasis jaringan tarekat dan hubungan lintas kerajaan Islam. Setelah Kesultanan Gowa jatuh melalui Perjanjian Bongaya (1667), ia memindahkan basis perjuangannya ke Kesultanan Banten dan menjadi mufti sekaligus penasihat utama Sultan Ageng Tirtayasa.
Dari Banten, Syeikh Yusuf aktif mengirimkan utusan dan menjalin surat-menyurat secara klandestin melalui jalur maritim Jawa–Sulawesi. Korespondensi tersebut ditujukan kepada para bangsawan dan panglima Gowa, termasuk Karaeng Galesong, agar terus melancarkan perlawanan terhadap VOC.
Dalam karya-karya tasawufnya seperti Safinat an-Najah, Syeikh Yusuf tidak hanya membahas penyucian jiwa, tetapi juga menanamkan gagasan bahwa melawan penjajahan merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah. Tasawuf, dalam kerangka ini, tidak diarahkan pada uzlah pasif, melainkan menjadi fondasi moral bagi perjuangan sosial dan politik.
BACA JUGA: Ketika Raja-Raja Nusantara Mendapatkan Gelar Sultan dari Mekah
2. Syeikh Abdus Samad al-Palimbani: Surat dari Makkah untuk Jawa
Pada abad ke-18, Syeikh Abdus Samad al-Palimbani tampil sebagai salah satu ulama Melayu paling berpengaruh dalam jaringan ulama Haramain. Keterlibatannya dalam komunitas Jawi di Makkah membuatnya sangat responsif terhadap perkembangan politik dan kolonialisme di Nusantara.
Di tengah runtuhnya satu demi satu kerajaan Muslim Melayu akibat ekspansi Eropa, al-Palimbani menulis sejumlah risalah jihad dan surat politik kepada penguasa Jawa, khususnya Kesultanan Mataram. Surat-surat tersebut ditujukan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono I dan Pangeran Paku Negara.
Dalam surat-suratnya, al-Palimbani menggabungkan bahasa spiritual, motivasi jihad, dan legitimasi politik. Ia menegaskan bahwa mempertahankan agama dan melawan penjajahan merupakan bagian dari kemuliaan seorang pemimpin Muslim.
Salah satu petikan suratnya berbunyi:
> “Allah telah menjanjikan bahwa para Sultan akan masuk surga karena keluhuran budi, kebajikan, dan keberanian mereka melawan musuh dari agama lain.”
Dalam bagian lain, ia mengingatkan ayat Al-Qur’an tentang kemuliaan syuhada:
> “Janganlah mengira bahwa mereka yang gugur di jalan Allah itu mati.” (QS. Al-Baqarah: 154)
Al-Palimbani juga mengirimkan panji-panji simbolik dan air zam-zam sebagai penguat moral perjuangan. Dalam salah satu surat kepada Pangeran Paku Negara, ia menulis bahwa panji tersebut dikirim sebagai simbol kemenangan dan perlindungan bagi kaum Muslimin.
Namun, sebagian besar surat itu tidak pernah sampai ke tujuan. VOC berhasil menyita dan menerjemahkannya di Semarang pada tahun 1772 sebelum akhirnya menghancurkannya. Meski demikian, semangat dan gagasan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dalam tradisi perlawanan Jawa, hingga akhirnya menemukan manifestasinya dalam Perang Diponegoro beberapa dekade kemudian.
Menurut sejarawan M.C. Ricklefs, surat-surat tersebut merupakan bukti penting keterlibatan jaringan ulama internasional dalam membangkitkan perlawanan anti-kolonial di Nusantara.
3. Teungku Chik di Tiro dan Hikayat Prang Sabi
Pada akhir abad ke-19, tradisi surat jihad kembali muncul dalam Perang Aceh. Ketika sebagian uleebalang mulai berkompromi dengan Belanda, Teungku Chik di Tiro mengambil peran sebagai pemimpin moral dan spiritual perlawanan.
Ia mengirimkan surat kepada para pemimpin lokal agar memutus hubungan dengan kolonial Belanda dan kembali bersatu dalam perang sabil. Selain surat, ia juga menyebarkan Hikayat Prang Sabi, sebuah karya sastra religius yang dibacakan di meunasah-meunasah sebelum pasukan turun ke medan perang.
Teks tersebut membangun narasi bahwa perang melawan Belanda bukan sekadar konflik politik, melainkan bagian dari pembelaan terhadap agama dan kehormatan umat. Melalui pendekatan ini, ketakutan terhadap kematian diubah menjadi semangat pengorbanan.
4. Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi: Fatwa dari Masjidil Haram
Memasuki awal abad ke-20, jaringan ulama Nusantara di Makkah kembali memainkan peran penting melalui figur Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sebagai Imam Besar mazhab Syafi’i di Masjidil Haram, ia memiliki pengaruh besar terhadap para pelajar Nusantara, termasuk KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan.

Di tengah kebijakan pajak kolonial Belanda yang menekan masyarakat Minangkabau, Ahmad Khatib mengirimkan fatwa yang mengecam kerja sama dengan sistem kolonial. Ia menolak keterlibatan umat Islam dalam struktur hukum dan administrasi Belanda.
Fatwa tersebut kemudian menjadi salah satu landasan moral bagi berbagai gerakan perlawanan rakyat di Sumatera Barat, termasuk pemberontakan anti-pajak di Manggopoh dan Kamang pada tahun 1908.
5. Resolusi Jihad dan Kelanjutan Tradisi Ulama
Puncak modern dari tradisi “surat ulama” ini terlihat pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut lahir sebagai respons terhadap kedatangan pasukan Sekutu dan NICA yang hendak mengembalikan kekuasaan kolonial di Indonesia.
Melalui fatwa itu, umat Islam diwajibkan mempertahankan kemerdekaan. Bagi masyarakat Muslim yang berada dalam radius tertentu dari Surabaya, mengangkat senjata diposisikan sebagai kewajiban individual (fardhu ‘ain).
Secara substansi, gagasan yang dibawa Resolusi Jihad memiliki kesinambungan dengan tradisi ulama sebelumnya: mempertahankan tanah air Muslim dipahami sebagai bagian dari pembelaan terhadap agama, sementara gugur dalam perjuangan dipandang sebagai syahid.
Literatur dan Referensi Historis
Beberapa karya akademik penting yang mengulas jaringan ulama dan perlawanan anti-kolonial di Nusantara antara lain:
1. M.C. Ricklefs — Jogjakarta Under Sultan Mangkubumi 1749–1792
Mengulas arsip VOC terkait intersepsi surat-surat Syeikh Abdus Samad al-Palimbani dan kekhawatiran Belanda terhadap jaringan pan-Islamisme di Jawa.

2. Azyumardi Azra — Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII
Membahas hubungan intelektual ulama Haramain dengan Nusantara dan menjelaskan bagaimana neo-sufisme berkembang menjadi gerakan aktivisme sosial-politik.
3. Peter Carey — The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java
Menjelaskan kesinambungan ide-ide keislaman, mesianisme, dan perlawanan yang berkembang dari era al-Palimbani hingga Perang Diponegoro.
BACA JUGA: Syekh Nawawi Al-Bantani: Sang Sayyidu Ulama’ al-Hijaz dari Nusantara
4. Michael F. Laffan — Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The Umma Below the Winds
Menguraikan fungsi Makkah sebagai pusat jaringan politik dan distribusi literatur anti-kolonial ke Nusantara melalui jalur haji.
5. Ibrahim Alfian — Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912
Menganalisis Hikayat Prang Sabi dan instrumen sastra religius sebagai alat mobilisasi perang rakyat Aceh.
Kesimpulan
Surat-surat para ulama Nusantara bukan sekadar dokumen keagamaan, melainkan instrumen strategis dalam membangun kesadaran politik umat. Dari Makassar, Palembang, Aceh, Minangkabau, hingga Surabaya, jaringan ulama membentuk mata rantai intelektual dan spiritual yang melampaui batas geografis.
Melalui jalur haji, tarekat, dan pendidikan Islam, lahir sebuah tradisi perlawanan yang memadukan tasawuf, fatwa, dan perjuangan sosial. Meskipun banyak surat disita dan dihancurkan kolonial, gagasan yang terkandung di dalamnya terus hidup, bergerak dari generasi ke generasi, hingga menjadi salah satu fondasi penting dalam sejarah perlawanan Nusantara terhadap hegemoni Eropa. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

