SUATU ketika, Khalifah Harun Al-Rasyid mengirimkan 500 dinar kepada Imam Malik. Kabar itu sampai kepada Al-Laits bin Sa’d. Mendengarnya, Imam Al-Laits justru mengirimkan 1.000 dinar kepada Imam Malik.
Harun Al-Rasyid kemudian berkata kepada Al-Laits:
> “Aku memberinya 500 dinar, sedangkan engkau memberinya 1.000 dinar, padahal engkau adalah rakyatku.”
Imam Al-Laits menjawab dengan tenang:
> “Wahai Amirul Mukminin, setiap hari aku memperoleh seribu dinar dari hasil panenku. Maka aku memandang baik untuk memberinya sejumlah itu, karena nilainya bahkan tidak lebih dari pendapatan sehari.”
Menurut sejumlah riwayat, Imam Al-Laits bahkan tidak pernah terkena kewajiban zakat atas hartanya. Bukan karena ia miskin, tetapi karena hartanya tidak pernah mencapai haul. Semua segera habis dibagikan kepada manusia.
—
Ulama Besar yang Hartanya Melimpah
Di antara para ulama salaf, ada sosok yang memadukan keluasan ilmu, kekayaan yang halal, dan kedermawanan yang luar biasa. Ia adalah Imam Al-Laits bin Sa‘ad, ahli fikih dan hadits terbesar di Mesir pada abad kedua Hijriah.
Ia bukan bangsawan dan bukan pula pejabat istana. Namun Allah memberkahinya dengan kekayaan besar dari pertanian, perdagangan, dan hasil kebunnya di Mesir.
Dalam riwayat yang disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’, disebutkan bahwa pendapatan Imam Al-Laits mencapai puluhan ribu dinar setiap tahun. Namun hampir tidak ada hartanya yang tersisa, sebab semuanya habis untuk sedekah, menjamu tamu, dan membantu penuntut ilmu.
Ia pernah berkata:
> “Kekayaan itu amanah, bukan kebanggaan. Aku lebih takut kehilangan pahala dari hartaku daripada kehilangan hartaku itu sendiri.”
BACA JUGA: Sisi Lain Muhammad Hatta: 3 Ulama Besar Minangkabau yang Membentuk Dirinya
Rumah yang Menjadi Jamuan untuk Banyak Orang
Rumah Imam Al-Laits seperti dapur umum yang tidak pernah sepi. Setiap hari, ratusan orang makan di rumahnya: fakir miskin, penuntut ilmu, musafir, hingga tamu-tamu yang datang dari luar negeri.
Disebutkan dalam sejumlah riwayat bahwa selama dua puluh tahun, Imam Al-Laits tidak pernah makan sendirian, baik siang maupun malam, kecuali ia mengundang orang lain untuk makan bersamanya. Bahkan lauk yang disediakan sering berupa daging, sesuatu yang pada masa itu tergolong mewah.
Dalam Tārīkh Dimasyq, Ibnu Asakir menulis:
> “Al-Laits bin Sa‘ad memberi makan lebih dari 300 orang setiap hari.”
Kedermawanannya tidak mengenal status sosial. Ia tidak bertanya siapa yang datang, dari mana asalnya, atau apa kedudukannya.
—
Kemewahan yang Tidak Menguasai Hatinya
Pada suatu hari, Imam Al-Laits keluar dengan pakaian yang indah, kendaraan yang bagus, dan cincin mahal. Orang-orang memperkirakan nilai seluruh penampilannya mencapai 18.000 hingga 20.000 dirham.
Namun kemewahan itu tidak menjadikannya sombong ataupun bakhil. Hartanya tetap mengalir kepada manusia.
Suatu ketika, ia menghadiahkan tiga puluh ekor burung pipit kepada Imam Malik saat berkunjung ke rumah putri Imam Malik. Sebagian burung itu disembelih untuk dimakan, sementara sisanya dijual dan menghasilkan 500 dinar.
Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa Imam Al-Laits tidak memusuhi kekayaan. Ia hanya menolak diperbudak olehnya.
Memberi tanpa Membuat Orang Merasa Rendah
Asad bin Musa pernah bercerita bahwa ketika ia berkunjung ke Mesir, Imam Al-Laits memberinya 100 dinar.
Padahal, saat itu Asad sendiri masih memiliki 1.000 dinar di sakunya. Karena itu, ia mencoba menolak pemberian tersebut.
Namun Imam Al-Laits berkata:
> “Ini adalah hadiah, bukan sedekah.”
Asad lalu berkata:
> “Aku khawatir ketika pulang nanti aku menjadi orang kaya.”
Maka Imam Al-Laits menjawab:
> “Kalau begitu, berikan uang itu kepada para penuntut hadits yang membutuhkan.”
Ia memberi bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan orang lain, tetapi juga untuk menjaga kehormatan mereka.
—
Menolong Ulama dan Orang yang Tertimpa Musibah
Dalam riwayat lain, Imam Al-Laits pernah mengutus tiga orang untuk membawa sedekah masing-masing sebesar 1.000 dinar.
Salah satunya dikirim kepada Ibnu Lahi’ah yang rumahnya terbakar. Sebagian lainnya diberikan kepada Imam Malik dan seorang qadhi bernama Manshur bin Ammar.
Ia memahami bahwa ulama dan penuntut ilmu membutuhkan dukungan ekonomi agar dapat terus menjaga ilmu dan melayani umat.
Karena itu, Imam Al-Laits tidak hanya bersedekah kepada fakir miskin, tetapi juga menopang ekosistem ilmu dengan hartanya.
—
Ilmu dan Kedermawanan dalam Satu Tarikan Nafas
Keluasan ilmu Imam Al-Laits diakui oleh para ulama besar. Bahkan Imam Syafi’i pernah berkata:
> “Al-Laits lebih alim daripada Malik, hanya saja murid-muridnya tidak menjaga dan menuliskan ilmunya sebagaimana murid-murid Malik.”
Namun yang membuatnya begitu dicintai bukan hanya ilmunya, melainkan cara ia menghidupkan ilmu itu melalui amal dan kedermawanan.
Ia menanggung biaya penuntut ilmu, menyediakan makanan bagi mereka, bahkan membelikan tinta dan kertas agar mereka dapat terus belajar.
Ia pernah berkata:
> “Ilmu tanpa nafkah akan menjadi beban bagi jiwa. Maka aku menafkahkan hartaku agar ilmu menjadi cahaya, bukan sekadar hafalan.”

Kekayaan yang Tidak Pernah Mengendap
Kekayaan Imam Al-Laits terus mengalir seperti sungai Nil yang membelah Mesir. Ia tidak suka menahan harta terlalu lama di tangannya.
Ibnu Wahb pernah berkata:
> “Aku tinggal di rumah Al-Laits selama beberapa tahun. Aku tidak pernah melihat makanan tersimpan di rumahnya lebih dari sehari, kecuali segera dibagikan kepada tamu dan fakir miskin.”
Ketika ditanya berapa banyak harta yang telah ia keluarkan, Imam Al-Laits menjawab:
> “Aku tidak pernah menghitungnya. Aku hanya menghitung dosa-dosaku, sebab itulah yang akan ditanyakan di akhirat.”
BACA JUGA: Kitab yang Pertama Ditulis oleh Ulama
Wafatnya Seorang Raja Tanpa Mahkota
Ketika Imam Al-Laits wafat pada tahun 175 H di Mesir, masyarakat Fusthath diliputi kesedihan. Ribuan orang menghadiri pemakamannya: ulama, pedagang, pejabat, hingga fakir miskin.
Mereka merasa kehilangan seorang ulama yang bukan hanya mengajar dengan lisan, tetapi juga dengan hartanya.
Adz-Dzahabi menulis:
> “Tidak ada di Mesir orang sebaik Al-Laits bin Sa‘ad. Ia adalah bukti bahwa ilmu dan kekayaan, bila bersatu dalam ketulusan, dapat membangun peradaban.”
—
Pelajaran dari Kekayaan yang Bersujud
Kisah Imam Al-Laits bin Sa‘ad menunjukkan bahwa zuhud bukan berarti miskin, dan kaya bukan berarti cinta dunia.
Zuhud sejati adalah ketika harta tidak menguasai hati.
Imam Al-Laits menjadikan hartanya sebagai sarana ibadah: memberi makan orang lapar, menopang penuntut ilmu, membantu orang berutang, dan menjaga kehormatan manusia.
Ia tidak menjadikan kekayaan sebagai perhiasan kesombongan, tetapi sebagai jalan mendekat kepada Allah.
Jika Abdullah bin Al-Mubarak dikenal sebagai “saudagar surga dari Khurasan”, maka Al-Laits bin Sa‘ad layak dikenang sebagai “dermawan Nil yang tidak membiarkan hartanya menggenang.”
Di zaman ketika banyak orang takut miskin, Imam Al-Laits justru takut menjadi kaya tanpa amal. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

