Mana yang Lebih Penting, Bekerja atau Beribadah?

Yudi
By Yudi
4 Min Read
Foto: Unsplash

BANYAK orang bertanya, manakah yang lebih penting: bekerja atau beribadah? Sebagian orang begitu sibuk mencari nafkah hingga hampir tidak memiliki waktu untuk beribadah. Sebaliknya, ada pula yang terlalu fokus pada ibadah sunnah tetapi melalaikan kewajiban mencari nafkah bagi dirinya dan keluarganya. Lalu, berapa porsi kerja dan porsi ibadah yang ideal menurut Islam?

Islam Mengajarkan Keseimbangan

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia demi akhirat, maupun melupakan akhirat demi mengejar dunia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an agar manusia mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian mereka di dunia.

BACA JUGA: Bolehkah Istri Ngomel saat Suami Baru Pulang Kerja?

Artinya, seorang Muslim dituntut untuk menjaga keseimbangan. Bekerja adalah kebutuhan hidup, sedangkan ibadah adalah kebutuhan ruhani. Keduanya tidak boleh dipertentangkan.

Bekerja Juga Bisa Bernilai Ibadah

Banyak orang mengira ibadah hanya sebatas shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, atau berdzikir. Padahal dalam Islam, bekerja mencari nafkah yang halal juga dapat bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

Seorang ayah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seorang ibu yang membantu ekonomi rumah tangga dengan cara yang halal, atau seorang pedagang yang jujur dalam usahanya, semuanya bisa mendapatkan pahala ibadah.

Karena itu, waktu kerja tidak selalu terpisah dari ibadah. Ketika niatnya benar dan caranya sesuai syariat, pekerjaan sehari-hari dapat menjadi ladang pahala.

Jangan Sampai Kerja Melalaikan Kewajiban

Meskipun bekerja adalah hal yang mulia, pekerjaan tidak boleh membuat seseorang meninggalkan kewajiban agama. Shalat lima waktu tetap harus menjadi prioritas utama.

Tidak sedikit orang yang rela lembur berjam-jam, tetapi berat meluangkan beberapa menit untuk menunaikan shalat. Padahal keberkahan rezeki bukan hanya ditentukan oleh banyaknya jam kerja, melainkan juga oleh ketaatan kepada Allah.

Ketika waktu shalat tiba, seorang Muslim hendaknya berusaha menghentikan aktivitasnya sejenak untuk memenuhi panggilan Allah.

Jangan Pula Beribadah Sampai Melalaikan Tanggung Jawab

Di sisi lain, Islam juga tidak menganjurkan seseorang meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawab keluarganya demi memperbanyak ibadah sunnah.

Rasulullah SAW mencontohkan kehidupan yang seimbang. Beliau beribadah dengan sungguh-sungguh, tetapi juga berdakwah, memimpin masyarakat, berdagang, membantu keluarga, dan menjalankan berbagai urusan kehidupan.

Ibadah yang baik bukanlah yang membuat seseorang menjadi beban bagi orang lain.

https://s.shopee.co.id/20pLWwsJjd

Bagaimana Porsi yang Ideal?

Tidak ada angka baku seperti 50 persen untuk kerja dan 50 persen untuk ibadah. Yang terpenting adalah seluruh kewajiban terpenuhi.

Porsi ideal dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Shalat wajib lima waktu tidak boleh ditinggalkan.
  2. Mencari nafkah yang halal sesuai kebutuhan diri dan keluarga.
  3. Menyisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan ibadah sunnah.
  4. Memberikan waktu yang cukup untuk keluarga.
  5. Menjaga kesehatan dan istirahat yang memadai.

Jika seseorang bekerja delapan hingga sepuluh jam sehari tetapi tetap menjaga shalat tepat waktu, meluangkan waktu membaca Al-Qur’an, serta menjalankan tanggung jawab keluarga, maka itu sudah termasuk pola hidup yang baik.

Kualitas Lebih Penting daripada Kuantitas

Terkadang seseorang hanya memiliki sedikit waktu untuk beribadah karena kesibukan pekerjaan. Namun jika ibadah tersebut dilakukan dengan ikhlas dan khusyuk, nilainya bisa sangat besar di sisi Allah.

Sebaliknya, ada orang yang memiliki banyak waktu luang tetapi ibadahnya dilakukan tanpa kesungguhan.

Karena itu, yang paling penting bukan sekadar berapa jam yang digunakan untuk bekerja atau beribadah, melainkan bagaimana kualitas keduanya.

BACA JUGA: Sampai Kapan Bekerja?

Porsi kerja dan ibadah yang ideal bukanlah soal membagi waktu dengan angka tertentu, melainkan menjaga keseimbangan antara hak Allah, hak diri sendiri, dan hak keluarga. Seorang Muslim yang baik adalah mereka yang rajin bekerja mencari rezeki halal, namun tetap menjaga ibadah dan tidak melupakan akhirat.

Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lupa kepada Allah. Namun jangan pula semangat beribadah membuat kita mengabaikan tanggung jawab yang telah Allah amanahkan. Keseimbangan itulah yang menjadi jalan menuju kehidupan yang berkah di dunia dan keselamatan di akhirat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *