ISLAM mengajarkan persaudaraan, kasih sayang, dan saling menghormati sesama Muslim. Namun dalam kenyataannya, tidak jarang kita melihat kelompok-kelompok Muslim saling menghujat, mencela, bahkan menganggap kelompok lain lebih rendah. Fenomena ini tentu memprihatinkan karena dapat merusak ukhuwah Islamiyah dan melemahkan persatuan umat.
Lalu, apa saja penyebab kelompok Muslim saling menghujat?
1. Fanatisme Golongan yang Berlebihan
Salah satu penyebab utama adalah fanatisme terhadap kelompok, organisasi, ustaz, atau mazhab tertentu. Ketika seseorang terlalu mengagungkan kelompoknya, ia bisa memandang kelompok lain selalu salah.
BACA JUGA: Perbedaan Penjelajahan Muslim dan Eropa di Nusantara: Sebagai Mitra atau Kolonial
Padahal, para ulama terdahulu mengajarkan sikap rendah hati dan mengakui bahwa dalam banyak persoalan fikih terdapat ruang perbedaan pendapat. Fanatisme yang berlebihan sering kali membuat seseorang sulit menerima pandangan yang berbeda.
2. Kurangnya Ilmu Agama
Tidak sedikit pertengkaran muncul karena minimnya pemahaman agama. Sebagian orang hanya mengetahui satu pendapat lalu menganggap semua pendapat lain sesat.
Padahal, banyak persoalan dalam Islam yang memang diperselisihkan oleh para ulama sejak dahulu. Orang yang memahami keluasan ilmu agama biasanya lebih bijak dalam menyikapi perbedaan.
3. Mengutamakan Emosi daripada Akhlak
Saat berdiskusi, sebagian orang lebih mengedepankan emosi daripada akhlak. Akibatnya, perbedaan yang seharusnya bisa dibahas dengan santun berubah menjadi saling menghina dan mencaci.
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim menjaga lisannya. Kebenaran yang disampaikan dengan cara kasar sering kali justru menimbulkan permusuhan.
4. Pengaruh Media Sosial
Media sosial menjadi tempat yang sangat mudah untuk menyebarkan komentar, kritik, dan tuduhan. Banyak orang berani menulis kata-kata keras yang mungkin tidak akan mereka ucapkan secara langsung.
Ditambah lagi, algoritma media sosial sering mempertemukan orang-orang dengan pandangan yang sama sehingga memperkuat keyakinan bahwa kelompoknya selalu benar dan pihak lain selalu salah.
5. Kurangnya Sikap Tabayun
Sering kali seseorang langsung mempercayai potongan video, kutipan ceramah, atau informasi yang belum tentu utuh. Akibatnya muncul prasangka dan tuduhan yang sebenarnya tidak berdasar.
Islam mengajarkan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Sikap ini sangat penting untuk menghindari fitnah dan permusuhan.
6. Ambisi Mencari Pengikut dan Popularitas
Dalam sebagian kasus, perselisihan diperparah oleh keinginan mendapatkan pengaruh, pengikut, atau popularitas. Menyerang kelompok lain dianggap sebagai cara untuk menarik perhatian publik.
Akibatnya, dakwah yang seharusnya mengajak kepada kebaikan berubah menjadi ajang persaingan dan saling menjatuhkan.
7. Tidak Memahami Adab Berbeda Pendapat
Para ulama besar sepanjang sejarah sering berbeda pendapat, tetapi mereka tetap saling menghormati. Sayangnya, sebagian orang hanya mempelajari isi perbedaan pendapat tanpa mempelajari adab dalam menyikapinya.
Padahal, tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Banyak perbedaan yang masih berada dalam koridor ijtihad yang dibenarkan dalam Islam.
Dampak Buruk Saling Menghujat
Ketika sesama Muslim saling menghujat, dampaknya sangat besar, antara lain:
- Hilangnya persatuan umat.
- Timbulnya kebencian dan permusuhan.
- Masyarakat awam menjadi bingung.
- Dakwah Islam kehilangan wibawa.
- Musuh Islam diuntungkan oleh perpecahan umat.
Sikap yang Seharusnya Dilakukan
Sebagai Muslim, kita perlu mengutamakan persaudaraan dan akhlak mulia. Jika berbeda pendapat, sampaikan dengan dalil, sopan santun, dan niat mencari kebenaran, bukan memenangkan perdebatan.
Kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua persoalan agama berada pada tingkat yang sama. Ada perkara yang memang prinsip dan tidak bisa ditawar, tetapi ada pula perkara cabang yang sejak dahulu diperselisihkan para ulama.
BACA JUGA: Sebab Munculnya Hasutan dan Provokasi Setan dalam Masyarakat Muslim
Kelompok Muslim yang saling menghujat biasanya dipicu oleh fanatisme berlebihan, kurangnya ilmu, emosi yang tidak terkendali, pengaruh media sosial, minimnya tabayun, ambisi popularitas, dan tidak memahami adab berbeda pendapat. Jika setiap Muslim mengedepankan ilmu, akhlak, dan sikap saling menghormati, maka perbedaan tidak akan berubah menjadi permusuhan.
Persatuan umat bukan berarti semua harus memiliki pendapat yang sama, melainkan mampu menjaga ukhuwah dan saling menghormati meskipun terdapat perbedaan pandangan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

