SEAKAN inilah makna yang tersirat dalam penegasan Al-Qur’an tentang perpecahan kaum Muslimin dan percekcokan internal yang kerap muncul ketika mereka meninggalkan jihad fi sabilillah—dalam pengertiannya yang luas: perjuangan terarah, disiplin kolektif, dan pengorbanan untuk kemaslahatan agama dan umat.
Sebab jihad—dengan seluruh ragamnya—berfungsi sebagai penyalur energi, potensi, dan ambisi umat ke jalan kebaikan yang terukur. Ketika saluran ini ditutup atau ditinggalkan, maka potensi yang besar itu tidak lenyap, melainkan berubah arah: menjadi konflik, kegaduhan, dan saling menjatuhkan.
Al-Qur’an mengingatkan dengan bahasa yang sangat tegas:
اِلَّا تَنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ وَّيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوْهُ شَيْـًٔاۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Jika kamu tidak berangkat (untuk berjuang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih, serta menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah [9]: 39)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kewajiban, tetapi juga hikmah sosial dan psikologis jihad: bahwa kelesuan perjuangan akan diganti oleh hukuman berupa kehancuran internal.

Penjelasan Ibnu Taimiyah: Azab Bisa Berupa Permusuhan Internal
Ibnu Taimiyah menjelaskan makna ayat ini dalam Majmū‘ al-Fatāwā:
“Kadangkala azab datang langsung dari Allah, dan kadangkala melalui tangan manusia. Apabila manusia meninggalkan jihad fi sabilillah, maka Allah menguji mereka dengan permusuhan di antara sesama mereka, sebagaimana yang sering terjadi dalam kenyataan.”
Beliau melanjutkan:
“Jika umat sibuk dengan jihad fi sabilillah, Allah akan menyatukan hati mereka dan mengarahkan potensi mereka kepada musuh-musuh mereka dan musuh Allah. Namun jika mereka berpaling, Allah mengazab mereka dengan saling bermusuhan dan berpecah belah.”
Di sini tampak jelas bahwa perpecahan bukan sekadar kegagalan etika, tetapi bisa menjadi konsekuensi spiritual dari ditinggalkannya perjuangan kolektif.
—
Potensi Menganggur dan Lahirnya Kegaduhan
Para pujangga klasik pernah merumuskan fenomena ini dengan ungkapan tajam:
“Pasukan yang tidak memiliki tugas, sangat potensial menciptakan kegaduhan.”
Potensi yang menganggur—baik fisik, intelektual, maupun emosional—tidak akan netral. Ia akan mencari medan baru. Dan pada saat inilah setan masuk dengan peran provokator.
Medan Kosong: Ladang Hasutan Setan
Sesungguhnya hasutan dan provokasi setan tidak muncul di medan yang hidup, tetapi di ruang-ruang yang mengalami kelesuan, stagnasi, dan kekosongan tujuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk menjadikan orang-orang yang shalat menyembahnya, tetapi ia tidak berputus asa untuk menghasut mereka.” (HR. Muslim)
Artinya, setan tidak lagi menargetkan akidah secara frontal, tetapi menyasar hubungan antar manusia, barisan dakwah, dan persatuan umat.
Yang lebih berbahaya, setan tidak datang dengan wajah setan. Ia tidak berkata, “Aku setan dan ini adalah hasutan.”
Ia justru bisa menyamar sebagai:
- orang zuhud,
- ahli ibadah,
- penyeru kemurnian,
atau penasihat yang tampak tulus dan fasih berbicara.
BACA JUGA: Tsiqah kepada Diri Sendiri
Tipu Daya yang Dibungkus Kebaikan
Jika hasutan itu berhasil—menciptakan kecurigaan, perpecahan, dan konflik—setan akan pergi sambil tertawa, sementara manusia saling melukai dan menyesali.
Imam al-Ghazali menggambarkan pola ini dengan sangat dalam dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn:
“Setan mengemas keburukan dalam bentuk kebaikan, hingga sulit dibedakan antara hak dan batil. Kebanyakan manusia binasa bukan karena keburukan yang jelas, tetapi karena kebaikan yang dipalsukan.”
Inilah sebab mengapa fitnah internal sering terasa “benar”, “ikhlas”, dan “demi agama”, padahal sejatinya adalah hasil provokasi yang memanfaatkan kekosongan visi dan perjuangan.
—
Penutup: Dakwah yang Hidup Menutup Pintu Setan
Maka dapat disimpulkan:
setan paling efektif bekerja ketika dakwah kehilangan arah perjuangan, dan umat kehilangan medan pengorbanan yang sah.
- Sebaliknya, ketika potensi umat disalurkan pada jihad yang benar—dalam ilmu, amal, kesabaran, dan pengorbanan—maka:
hati disatukan,
- energi diarahkan,
- dan ruang gerak setan dipersempit.
Bukan karena setan mati, tetapi karena tidak ada lagi ruang kosong untuk diisi oleh hasutannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


