TSIQOH kepada diri sendiri bukan berarti ia angkuh dan merasa dirinya hebat dibandingkan orang lain. Bukan pula menganggap bahwa posisi orang lain berada di bawahnya karena talenta dan kapasitas yang ia miliki.
Akan tetapi, yang dimaksud dengan tsiqah kepada diri sendiri adalah merasakan kemuliaan dan nikmat teragung yang Allah berikan kepadanya dalam kehidupan ini, yaitu Islam dan dakwah, dimana dia tidak ragu sekejap pun terhadap nikmati ini.
Seperti ungkapan Umar bin Khattab, “Kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka barangsiapa yang mencari kemuliaan di luar Islam, niscaya Allah hinakan dia.”
Bersama Islam dan dakwah inilah muncul tsiqah kepada dirinya, meyakini bahwa Allah pasti menolongnya dan memuliakan agama-Nya. Yakin, bersama kesulitan akan ada kemudahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ۨالَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ
(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya, tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Ḥajj [22]:40)
BACA JUGA: Minimal Menjadi Orang yang Bertaubat
Yakin, masa depan bagi yang beriman adalah menjadi pemimpin, aman sentosa dan dimenangkan oleh Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik.” (An-Nūr [24]:55)
Tsiqah terhadap pertolongan Allah ini membuat hatinya dipenuhi rasa tenteram, ridha dan sabar. Jiwa teguh dan kokoh menghadapi apapun tantangan kehidupan. Inilah shibghah, yang mewarnai interaksi seorang mukmin dengan dirinya.
Pada sisi lain, shibghah ini juga mewujudkan senantiasa mencurigai dan merasa lalai sehingga menganggap dirinya sebagai seorang yang paling kerdil. Sehingga, merasa bahwa seluruh kebaikan merupakan dari Allah, sedangkan keburukan yang membersamainya berasal dari dirinya sendiri.
Dalam sejarah Islam, tsiqah kepada diri sendiri tampak jelas pada kisah Mughirah bin Syu’bah ketika berhadapan dengan panglima Persia, Rustum Farrokhzad, menjelang Pertempuran Qadisiyah. Pertemuan itu bukan sekadar negosiasi politik, tetapi benturan dua peradaban dan dua cara pandang hidup yang sangat berbeda.
Saat memasuki kemah Rustum, Mughirah memperlihatkan kontras yang sangat tajam. Rustum duduk di atas singgasana emas, dikelilingi permadani sutra, bantal-bantal mewah, serta para pengawal bersenjata lengkap dengan pakaian megah.
Sebaliknya, Mughirah datang dengan penampilan sederhana. Ia membawa pedang dengan sarung kayu yang diikat tali usang dan menunggangi kuda biasa. Kesederhanaan itu menjadi pernyataan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak terletak pada materi, melainkan pada keyakinan.
Salah satu momen paling berani terjadi ketika Mughirah berjalan melewati para pejabat Persia lalu duduk di samping Rustum di atas singgasananya.
Para pengawal Persia segera menariknya turun dengan kasar. Namun, Mughirah berkata dengan tenang:
“Kami mengira kalian adalah bangsa yang bijak. Namun aku melihat kalian memperbudak satu sama lain. Di antara kami, tidak ada yang menyembah manusia selain Allah. Jika kalian memaksaku turun, ketahuilah bahwa singgasanamu ini tidak menambah kemuliaanmu di mataku.”
Keberanian itu membuat Rustum terkesan hingga memerintahkan pengawalnya membiarkan Mughirah berbicara.
Rustum berusaha merendahkan kaum Muslim dengan menyebut mereka sebagai bangsa Arab yang miskin dan kelaparan. Ia bahkan menawarkan harta agar pasukan Muslim pulang.
Mughirah menjawab dengan menjelaskan perubahan besar yang dialami kaum Muslim:
Dahulu mereka adalah bangsa yang saling bermusuhan dan menyembah berhala.
Allah kemudian mengutus Rasul-Nya untuk membawa mereka dari kegelapan menuju cahaya.
BACA JUGA: Tsiqah kepada Allah: Kunci Ketenangan dan Pertolongan Allah
Karena itu, mereka datang membawa tiga pilihan:
1. Masuk Islam dan menjadi saudara seiman.
2. Membayar jizyah dengan tetap mendapatkan perlindungan dan keamanan.
3. Jika semua ditolak, maka perang akan menjadi jalan terakhir.
Ketegasan Mughirah membuat Rustum mulai menyadari bahwa orang-orang ini tidak dapat dibeli dengan emas ataupun ditakuti dengan kemewahan.
Setelah Mughirah pergi, Rustum berkata kepada para pembesarnya:
“Celakalah kalian. Orang ini telah berbicara dengan kejujuran yang dapat menghancurkan kerajaan kita.”
Kisah ini menjadi gambaran nyata tentang izzah dan tsiqah seorang mukmin. Kemuliaan tidak lahir dari kekayaan, jabatan, atau kemegahan dunia, melainkan dari keyakinan kepada Allah dan keberanian untuk berdiri di atas kebenaran. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


