MENIKAH adalah harapan setiap pasangan untuk membangun rumah tangga yang penuh ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada istri yang harus menghadapi ujian memiliki suami yang gemar melakukan maksiat, seperti meninggalkan shalat, berjudi, mabuk, berzina, menggunakan narkoba, atau melakukan perbuatan lain yang dilarang agama.
Situasi ini tentu menyakitkan. Di satu sisi, istri ingin mempertahankan rumah tangga. Di sisi lain, ia juga ingin menjaga agama dan masa depan keluarganya. Lalu, bagaimana sikap yang seharusnya diambil menurut ajaran Islam?
BACA JUGA: Maksiat yang Menipu dan Menyadarkan
Tetap Bersabar, Tetapi Jangan Membenarkan Kemaksiatan
Islam mengajarkan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian rumah tangga. Namun, bersabar bukan berarti membenarkan atau mendukung perbuatan maksiat.
Seorang istri hendaknya tetap menunjukkan akhlak yang baik kepada suaminya, tetapi tidak ikut serta dalam perbuatan dosa. Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Karena itu, jangan membantu atau memfasilitasi perbuatan maksiat suami, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menasihati dengan Hikmah dan Lembut
Nasihat yang disampaikan dengan cara yang baik sering kali lebih mudah diterima daripada kemarahan atau celaan.
Pilih waktu ketika suasana hati suami sedang tenang. Sampaikan nasihat dengan penuh kasih sayang, bukan dengan merendahkan atau mempermalukannya. Ingatkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertobat selama masih hidup.
Jangan bosan mendoakan agar Allah SWT membuka pintu hidayah baginya.
Perbanyak Doa
Hati manusia berada dalam kekuasaan Allah SWT. Karena itu, selain berusaha menasihati, seorang istri hendaknya memperbanyak doa agar suaminya diberi petunjuk.
Doa yang dipanjatkan dengan ikhlas, terutama pada waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, dapat menjadi sebab datangnya hidayah dari Allah SWT.
Banyak kisah menunjukkan bahwa seseorang yang dahulu jauh dari agama akhirnya berubah menjadi pribadi yang saleh karena pertolongan Allah.
Libatkan Orang yang Dihormati Jika Diperlukan
Apabila nasihat istri tidak membuahkan hasil, tidak ada salahnya meminta bantuan orang yang dihormati oleh suami, seperti orang tua, saudara, sahabat yang baik, atau ustaz yang bijaksana.
Terkadang seseorang lebih mudah menerima nasihat dari pihak lain yang ia hormati.
Namun, lakukan hal ini dengan tujuan memperbaiki keadaan, bukan untuk mempermalukan suami di hadapan banyak orang.
Jaga Anak-Anak dari Pengaruh Buruk
Jika suami melakukan kemaksiatan secara terang-terangan, istri memiliki tanggung jawab untuk menjaga pendidikan agama anak-anak.
Ajarkan kepada mereka bahwa perbuatan maksiat adalah sesuatu yang harus dijauhi. Jangan sampai anak menganggap kebiasaan buruk ayahnya sebagai hal yang wajar untuk ditiru.
Tetaplah menghormati posisi ayah di hadapan anak, tetapi jelaskan dengan bijak bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan wajib bertobat.
Jangan Ikut Melakukan Maksiat
Ketaatan kepada suami memiliki batas, yaitu selama tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.”
Apabila suami memerintahkan sesuatu yang haram, seperti menipu, berjudi, meminum minuman keras, membuka aurat, atau perbuatan maksiat lainnya, maka istri tidak boleh mematuhinya.
Kapan Perceraian Menjadi Pilihan?
Islam tidak menganjurkan perceraian tanpa alasan yang kuat. Namun, apabila kemaksiatan suami terus berlanjut, tidak ada tanda-tanda ingin bertobat, bahkan membahayakan agama, keselamatan, atau kehidupan istri dan anak-anak, maka perceraian dapat menjadi jalan keluar yang dibolehkan.
Keputusan ini hendaknya tidak diambil karena emosi sesaat, tetapi setelah melalui pertimbangan yang matang, musyawarah dengan keluarga, dan meminta nasihat dari ulama atau pihak yang memahami hukum keluarga Islam.
Tujuannya bukan untuk menghukum pasangan, melainkan mencari jalan terbaik agar tidak semakin banyak mudarat yang timbul.
Tetap Introspeksi Diri
Di tengah usaha memperbaiki suami, seorang istri juga perlu terus memperbaiki dirinya sendiri. Perbanyak ibadah, menjaga akhlak, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, dan menciptakan suasana rumah yang penuh ketenangan.
Meski kemaksiatan suami adalah tanggung jawab suami sendiri, memperbaiki diri dapat menjadi salah satu sebab turunnya keberkahan dalam rumah tangga.
Memiliki suami yang gemar bermaksiat merupakan ujian yang berat. Sikap terbaik bagi seorang istri adalah tetap bersabar, tidak mendukung kemaksiatan, menasihati dengan cara yang lembut, memperbanyak doa, menjaga anak-anak, dan tidak menaati perintah yang bertentangan dengan syariat.
BACA JUGA: Nasihat Sufyan bin Uyainah: Maksiat Terjadi karena Syahwat dan Kesombongan
Apabila segala upaya telah dilakukan tetapi suami tetap tenggelam dalam kemaksiatan hingga membahayakan agama maupun keselamatan keluarga, Islam memberikan ruang untuk mencari solusi terbaik, termasuk melalui perceraian bila memang menjadi pilihan terakhir.
Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada setiap suami yang masih berada dalam jalan maksiat, menguatkan hati para istri yang sedang diuji, serta menjadikan setiap rumah tangga dipenuhi iman, kasih sayang, dan keberkahan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

