Berapa Hari Manusia Tahan Tidak Makan?

6 Min Read
Foto: Freepik

BANYAK orang penasaran, sebenarnya berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa makan? Pertanyaan ini sering muncul ketika membahas puasa, orang yang tersesat di alam, atau kasus-kasus tertentu yang membuat seseorang tidak memperoleh makanan dalam waktu lama.

Jawabannya ternyata tidak sesederhana menyebut angka tertentu. Ketahanan setiap orang berbeda-beda, tergantung pada usia, kondisi kesehatan, berat badan, cadangan lemak, aktivitas fisik, suhu lingkungan, dan yang paling penting, apakah masih mendapatkan air minum atau tidak.

Secara umum, manusia dapat bertahan tanpa makanan selama beberapa minggu jika masih memiliki akses terhadap air. Namun, tanpa air, ketahanan tubuh biasanya hanya sekitar tiga hingga lima hari, bahkan bisa lebih singkat pada kondisi cuaca yang panas atau aktivitas fisik yang berat.

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Tidak Makan?

Ketika seseorang berhenti makan, tubuh tidak langsung kehabisan energi.

Selama beberapa jam pertama, tubuh masih menggunakan glukosa yang berasal dari makanan terakhir. Setelah itu, tubuh mulai mengambil cadangan glikogen yang tersimpan di hati dan otot. Cadangan ini umumnya hanya cukup bertahan sekitar satu hari.

Setelah glikogen habis, tubuh mulai memecah lemak sebagai sumber energi. Pada tahap ini, berat badan mulai turun dan tubuh menghasilkan zat yang disebut keton sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk otak.

BACA JUGA:  Apa Dampak Buruk Makan Makanan UPF ketika Sarapan?

Jika kelaparan berlangsung lebih lama lagi, tubuh mulai memecah protein dari otot untuk memenuhi kebutuhan energi. Inilah tahap yang paling berbahaya karena otot-otot penting, termasuk otot jantung, perlahan ikut berkurang.

Berapa Lama Manusia Bisa Bertahan?

Tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua orang.

Beberapa laporan medis dan pengamatan terhadap kasus kelaparan menunjukkan bahwa manusia dapat bertahan sekitar 30 hingga 60 hari tanpa makanan apabila kebutuhan cairan tetap terpenuhi. Namun, kondisi tersebut biasanya disertai penurunan berat badan yang drastis, kelemahan berat, serta gangguan fungsi berbagai organ.

https://s.shopee.co.id/6ffAxhwoiH

Pada orang yang sangat kurus, lanjut usia, atau memiliki penyakit kronis, ketahanan tersebut bisa jauh lebih singkat.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki cadangan lemak lebih banyak mungkin mampu bertahan lebih lama. Meski demikian, hal itu bukan berarti tubuhnya tetap sehat. Kerusakan organ tetap dapat terjadi selama proses kelaparan berlangsung.

Apa Saja Gejala Kelaparan?

Pada hari-hari awal, seseorang biasanya merasakan lapar yang sangat kuat. Lambung terasa kosong, tubuh mulai lemas, dan konsentrasi menurun.

Setelah beberapa hari, rasa lapar kadang justru berkurang. Namun, kondisi tubuh semakin memburuk. Berat badan turun dengan cepat, tekanan darah menurun, tubuh mudah merasa dingin, pusing, sulit berpikir jernih, dan tenaga semakin habis.

Jika berlangsung berminggu-minggu, tubuh mulai mengalami kekurangan vitamin dan mineral. Sistem kekebalan tubuh melemah sehingga lebih mudah terkena infeksi. Luka juga menjadi lebih sulit sembuh.

Pada tahap akhir, fungsi jantung, ginjal, hati, dan organ-organ lainnya mulai terganggu. Risiko kematian pun meningkat secara signifikan.

Puasa Berbeda dengan Kelaparan

Sebagian orang mengira puasa sama dengan tidak makan dalam waktu lama. Padahal keduanya sangat berbeda.

Puasa yang dilakukan sesuai syariat Islam berlangsung dalam waktu terbatas, yaitu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Setelah berbuka dan sahur, tubuh kembali memperoleh asupan makanan dan cairan yang dibutuhkan.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan oleh orang sehat umumnya aman, bahkan dapat memberikan sejumlah manfaat apabila pola makan saat sahur dan berbuka tetap seimbang.

Sebaliknya, kelaparan terjadi ketika tubuh tidak memperoleh makanan dalam waktu yang sangat lama tanpa kepastian kapan kebutuhan gizinya akan dipenuhi. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yang serius.

Nasi Padang, puasa, ramadhan, Hipertensi, Makan
Foto: Umar Faqih | Islampos

Islam Mengajarkan Menjaga Tubuh

Islam mengajarkan keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan jasmani. Makan memang tidak boleh berlebihan, tetapi tubuh juga tidak boleh dibiarkan rusak karena sengaja menelantarkan diri.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan adab makan yang penuh hikmah, yaitu tidak berlebihan dan mencukupkan diri sesuai kebutuhan.

BACA JUGA:  Apa Dampak Buruk Makan Seblak Setiap Hari?

Beliau bersabda:

“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, dinilai hasan sahih)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam menganjurkan pola makan yang seimbang, bukan berlebihan dan bukan pula menyiksa diri dengan membiarkan tubuh kelaparan.

Kesimpulan

Manusia memang dapat bertahan tanpa makanan selama beberapa minggu apabila masih memperoleh air minum yang cukup. Namun, kemampuan tersebut sangat bergantung pada kondisi masing-masing orang dan bukan berarti tubuh tetap dalam keadaan sehat.

Semakin lama seseorang tidak makan, semakin besar risiko kerusakan otot, gangguan organ, penurunan daya tahan tubuh, hingga kematian. Karena itu, jangan pernah menganggap remeh kebutuhan tubuh terhadap makanan yang bergizi dan air yang cukup.

Tubuh adalah amanah dari Allah. Menjaganya dengan pola makan yang baik, tidak berlebihan, dan tidak menelantarkannya merupakan bagian dari rasa syukur atas nikmat kesehatan yang telah diberikan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *