Rutin Ibadah Umrah Tapi Tetangga yang Kelaparan Tak Pernah Dibantu, Bagaimana?

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Islampos AI

UMRAH adalah ibadah yang sangat mulia. Setiap muslim tentu berharap bisa menjadi tamu Allah di Tanah Suci, bahkan jika mampu, boleh melaksanakan umrah berkali-kali. Namun muncul pertanyaan yang sering menjadi bahan perbincangan di masyarakat: bagaimana jika seseorang rajin umrah setiap tahun, tetapi tidak pernah peduli kepada orang-orang yang sedang kesusahan di sekitar rumahnya?

Tetangga sakit tidak dijenguk, anak yatim di lingkungan sekitar dibiarkan, keluarga miskin di dekat rumah tidak pernah dibantu, tetapi biaya ratusan juta rupiah dihabiskan untuk umrah berkali-kali. Apakah ini sudah sesuai dengan ajaran Islam?

BACA JUGA: Mengapa Harus Umrah?

Umrah Adalah Ibadah yang Sangat Dianjurkan

Islam sangat memuliakan ibadah umrah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa umrah menjadi penghapus dosa di antara dua umrah apabila dijauhi dosa-dosa besar. Ini menunjukkan besarnya keutamaan ibadah tersebut.

Namun Islam juga mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama.

Islam Memerintahkan Peduli kepada Orang Terdekat

Allah memerintahkan kaum muslimin agar berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, hingga tetangga dekat maupun tetangga jauh.

Artinya, perhatian kepada lingkungan sekitar bukan sekadar anjuran sosial, melainkan bagian dari ajaran agama.

Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang belum sempurna imannya apabila ia kenyang sementara tetangganya kelaparan.

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya hak tetangga dalam Islam.

Jangan Sampai Sibuk dengan Ibadah Sunnah tetapi Melalaikan Kewajiban Sosial

Umrah pertama bagi yang mampu memiliki kedudukan yang sangat kuat menurut banyak ulama. Adapun umrah berikutnya hukumnya sunnah.

Sementara membantu orang yang benar-benar membutuhkan bisa menjadi kewajiban dalam kondisi tertentu, terutama jika tidak ada orang lain yang mampu menolongnya.

Misalnya:

  • Orang tua tidak memiliki biaya berobat.
  • Tetangga kelaparan.
  • Kerabat terlilit kebutuhan pokok.
  • Anak yatim membutuhkan biaya pendidikan.

Dalam kondisi seperti ini, mendahulukan membantu mereka bisa lebih utama daripada melakukan ibadah sunnah berulang kali.

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Keseimbangan

Islam tidak pernah mengajarkan seseorang hanya fokus beribadah kepada Allah tetapi mengabaikan hak manusia.

Seorang muslim ideal memiliki dua hubungan yang baik:

  • Hubungan dengan Allah (hablum minallah).
  • Hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

Keduanya harus berjalan seimbang.

https://s.shopee.co.id/2LW7k00t4k

Jangan Mudah Menghakimi

Meski demikian, kita juga tidak boleh terburu-buru menilai seseorang hanya karena sering umrah.

Bisa jadi ia memang banyak membantu orang lain tanpa diketahui siapa pun.

Bisa jadi ia menyalurkan sedekah secara diam-diam.

Atau mungkin ia membantu keluarganya dalam jumlah besar tanpa pernah dipublikasikan.

Karena itu, Islam melarang berburuk sangka tanpa bukti.

Yang bisa kita lakukan adalah menjadikan persoalan ini sebagai bahan muhasabah bagi diri sendiri.

Mana yang Lebih Utama?

Para ulama menjelaskan bahwa apabila seseorang memiliki dana besar untuk umrah sunnah, sementara di sekitarnya ada orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan mendesak, maka mengutamakan membantu mereka sering kali lebih utama daripada memperbanyak ibadah sunnah.

Hal ini karena manfaatnya langsung dirasakan oleh manusia, sekaligus menjadi bentuk ketaatan kepada Allah.

Ibadah bukan hanya sujud dan tawaf, tetapi juga mengangkat beban orang lain.

Ukuran Kemuliaan Bukan Banyaknya Perjalanan ke Tanah Suci

Bisa saja seseorang baru sekali umrah, tetapi setiap bulan membantu fakir miskin, membiayai pendidikan anak yatim, dan menolong tetangganya yang sakit.

Sebaliknya, ada orang yang berkali-kali ke Tanah Suci tetapi hubungan dengan tetangganya buruk, enggan berbagi, bahkan tidak peduli ketika ada orang di sekitarnya kesulitan.

Dalam Islam, amal saleh dinilai secara menyeluruh. Ibadah ritual dan kepedulian sosial bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.

BACA JUGA: Bolehkah Berangkat Umrah dari Hasil Korupsi?

Rutin melaksanakan umrah adalah amalan yang baik selama dilakukan dengan niat yang ikhlas dan cara yang benar. Namun jangan sampai semangat pergi ke Tanah Suci membuat kita lupa bahwa di sekitar rumah ada orang tua yang membutuhkan bantuan, tetangga yang kelaparan, anak yatim yang memerlukan biaya sekolah, atau kerabat yang sedang tertimpa musibah.

Seorang muslim yang terbaik bukan hanya yang rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga yang paling bermanfaat bagi orang lain. Jika Allah telah melapangkan rezeki hingga mampu berkali-kali umrah, alangkah indahnya apabila kelapangan itu juga dirasakan oleh orang-orang yang sedang kesusahan di lingkungan terdekat. Dengan begitu, ibadah ritual dan kepedulian sosial berjalan beriringan, mencerminkan ajaran Islam yang utuh dan penuh kasih sayang. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *