Mengapa Harus Umrah?

5 Min Read
Foto: Islampos AI

SETIAP manusia pernah lelah.
Bukan hanya lelah bekerja.
Tetapi lelah memikul kehidupan.
Pikiran dipenuhi target.
Hati dipenuhi kecemasan.

Tubuh ikut merasakan akibatnya.
Tidur tidak nyenyak.
Nafsu makan berubah.
Kepala terasa berat.
Bahu menegang.
Jantung berdebar lebih cepat.

Di zaman yang serba cepat, kesehatan tidak hanya diuji oleh penyakit. Ia juga diuji oleh tekanan hidup yang datang tanpa henti.
Islam mengajarkan bahwa manusia bukan hanya memiliki jasad.

BACA JUGA:  Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?

Manusia juga memiliki ruh.
Keduanya saling memengaruhi.
Ketika hati tenang, tubuh sering kali ikut merasakan ketenangan.
Ketika hati gelisah, tubuh pun dapat memberi isyarat melalui berbagai keluhan.
Karena itu, Allah menghadirkan ibadah yang bukan sekadar kewajiban.
Melainkan juga kebutuhan jiwa.

Salah satunya adalah umrah.
Umrah bukan sekadar perjalanan ke kota suci.
Ia adalah perjalanan kembali kepada Allah.
Perjalanan untuk membersihkan hati.

Perjalanan untuk mengingat bahwa hidup ini sementara.
Saat seseorang mengenakan pakaian ihram, semua simbol kedudukan perlahan menghilang.
Tidak ada lagi perbedaan jabatan.
Tidak ada lagi perbedaan kekayaan.
Semua berdiri sama.
Sama-sama hamba.
Sama-sama berharap ampunan.

Kesadaran itu menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di depan Ka’bah, banyak air mata jatuh.
Bukan karena kesedihan.
Melainkan karena hati menemukan tempat pulang.

Di sana, seseorang berbicara kepada Rabb-nya tanpa sekat.
Mengakui kelemahan.
Mengungkapkan harapan.
Melepaskan beban yang selama ini disimpan sendirian.
Dalam dunia kesehatan, stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi tubuh.
Ketegangan otot meningkat.

Tekanan darah dapat ikut berubah.
Kualitas tidur menurun.
Daya tahan tubuh pun bisa melemah.
Karena itu, mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.

Bagi seorang Muslim, salah satu cara terbaik mengelola beban hidup adalah dengan mendekat kepada Allah.
Dzikir menenangkan hati.
Doa menguatkan harapan.
Salat menghidupkan jiwa.

https://s.shopee.co.id/6VLcDgGXfL

Dan umrah menghadirkan semua itu dalam satu perjalanan yang penuh makna.
Ketika thawaf mengelilingi Ka’bah, manusia belajar bahwa pusat kehidupan bukanlah harta.
Bukan pula jabatan.
Tetapi Allah.
Semua langkah mengajarkan ketundukan.
Semua putaran mengingatkan bahwa hidup memiliki tujuan.

Kemudian datang sa’i.
Berjalan di antara Bukit Shafa dan Marwah.
Mengenang perjuangan Hajar.
Seorang ibu yang tidak menyerah.
Yang terus berusaha meski belum melihat hasilnya.

Dari sa’i kita belajar.
Ikhtiar tidak boleh berhenti.
Harapan tidak boleh padam.
Allah selalu membuka jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Lalu tahallul.
Beberapa helai rambut dipotong.
Tanda bahwa ada sesuatu yang ditinggalkan.
Bukan hanya rambut.
Tetapi juga kesombongan.
Keangkuhan.
Dendam.
Dan dosa-dosa yang ingin dilepaskan.

Setelah umrah selesai, perjalanan sebenarnya baru dimulai.
Pulang dengan hati yang baru.
Dengan semangat yang baru.
Dengan cara pandang yang baru.
Itulah makna umrah yang sesungguhnya.
Bukan hanya perubahan tempat.
Tetapi perubahan diri.

Namun, ibadah umrah juga membutuhkan tubuh yang sehat.
Jamaah akan berjalan cukup jauh.
Berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Berhadapan dengan cuaca yang berbeda.

Karena itu, menjaga kesehatan sebelum berangkat adalah bagian dari ikhtiar.
Latihan berjalan kaki.
Istirahat yang cukup.
Makan makanan bergizi.
Minum air yang cukup.
Mengontrol penyakit kronis bila ada.

Semua itu membantu agar ibadah dapat dijalankan dengan nyaman.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Menjaga hati.
Sekaligus menjaga tubuh.
Sebab tubuh adalah amanah.
Dan kesehatan adalah nikmat yang sering baru disadari ketika telah berkurang.

BACA JUGA:  Gimana Caranya Bedakan Gangguan Psikologis dan Gangguan Jin?

Tidak semua penyakit dapat hilang hanya dengan umrah.
Dan tidak semua masalah hidup selesai dalam sekejap.
Namun banyak orang pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.
Hati yang lebih lapang.
Pikiran yang lebih jernih.
Semangat hidup yang kembali tumbuh.
Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Bukankah kesehatan sejati bukan hanya tentang tubuh yang kuat?

Tetapi juga hati yang damai.
Karena tubuh yang sehat tanpa ketenangan jiwa sering kali tetap merasa kosong.
Sebaliknya, hati yang dekat kepada Allah mampu memberikan kekuatan untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Umrah mengajarkan bahwa obat bagi jiwa adalah kedekatan dengan Sang Pencipta.

Dan ketika jiwa menemukan ketenangannya, tubuh pun memiliki kesempatan untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
Semoga Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya.

Memberikan kesehatan untuk menunaikan ibadah.
Melapangkan langkah menuju Baitullah.
Menerima setiap doa yang dipanjatkan.
Dan menjadikan setiap perjalanan umrah sebagai awal dari kehidupan yang lebih tenang, lebih sehat, dan lebih dekat kepada-Nya. []

Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.

Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *