Tiap Hari Shalat Dhuha Tapi Tidak Pernah Shalat Rawatib, Bolehkah?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Islampos AI

ADA orang yang setiap pagi berusaha melaksanakan shalat Dhuha, bahkan menjadikannya sebagai rutinitas harian. Ia berharap mendapatkan pahala, keberkahan rezeki, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Namun, ketika waktu shalat Zuhur, Maghrib, atau Isya tiba, ia tidak pernah mengerjakan shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardhu tersebut.

Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan: apakah orang yang rajin shalat Dhuha tetapi meninggalkan shalat rawatib berarti telah salah dalam beribadah? Apakah shalat Dhuha yang dilakukannya menjadi sia-sia karena tidak mengerjakan shalat sunnah lainnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami kedudukan kedua ibadah ini dan bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapinya.

BACA JUGA: Shalat Dhuha di Tempat Kerja, Apakah Termasuk Korupsi Waktu?

1. Shalat Dhuha Tetap Bernilai Pahala

Pertama-tama, orang yang rutin mengerjakan shalat Dhuha tidak perlu menganggap ibadahnya sia-sia hanya karena ia belum mengerjakan shalat rawatib. Shalat Dhuha merupakan salah satu shalat sunnah yang dianjurkan dalam Islam, dan terdapat hadis sahih yang menjelaskan keutamaannya.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dua rakaat shalat Dhuha dapat mencukupi sedekah bagi persendian tubuh manusia. Hadis ini menunjukkan bahwa shalat Dhuha memiliki keutamaan tersendiri sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas nikmat tubuh dan kehidupan yang diberikan kepada manusia.

Karena itu, apabila seseorang telah membiasakan diri mengerjakan shalat Dhuha, hendaknya ia mempertahankan kebiasaan baik tersebut. Namun, jangan sampai ia menganggap bahwa satu amalan sunnah sudah cukup sehingga tidak perlu mempelajari atau mengerjakan amalan sunnah lainnya yang juga dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

2. Shalat Rawatib Juga Memiliki Keutamaan Besar

Shalat rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu, baik sebelum shalat wajib maupun sesudahnya. Shalat sebelum shalat fardhu disebut qabliyah, sedangkan shalat sesudahnya disebut ba’diyah. Di antara shalat rawatib yang sangat ditekankan adalah dua rakaat sebelum Subuh, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya, selain shalat sunnah lain yang juga termasuk dalam rangkaian rawatib menurut penjelasan para ulama.

Dalam hadis riwayat Muslim, Ummu Habibah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyampaikan keutamaan orang yang mengerjakan dua belas rakaat shalat sunnah dalam sehari semalam, yaitu dibangunkan sebuah rumah di surga. Hadis tersebut menjadi salah satu dalil tentang keutamaan menjaga shalat rawatib.

Dengan demikian, shalat rawatib bukanlah amalan yang sebaiknya dianggap remeh. Jika seseorang sudah memiliki waktu untuk mengerjakan shalat Dhuha setiap hari, ia dapat mulai membiasakan diri menambah shalat rawatib secara bertahap agar kesempatan memperoleh pahala dari berbagai ibadah sunnah tidak terlewatkan.

3. Apakah Berdosa Jika Tidak Pernah Mengerjakan Shalat Rawatib?

Secara umum, shalat rawatib termasuk shalat sunnah, bukan shalat wajib. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkannya tidak otomatis berdosa sebagaimana orang yang sengaja meninggalkan shalat fardhu. Meskipun demikian, meninggalkan kebiasaan sunnah yang sangat dianjurkan secara terus-menerus tentu membuat seseorang kehilangan kesempatan memperoleh keutamaan yang besar.

Perlu dibedakan antara tidak mengerjakan shalat rawatib karena belum mengetahui keutamaannya, karena keterbatasan waktu, dan karena sengaja meremehkan sunnah Rasulullah SAW. Ketiganya tidak tepat disamaratakan begitu saja, sebab niat dan keadaan seseorang berbeda-beda. Namun, setiap Muslim sebaiknya terus belajar agar ibadahnya semakin baik dan tidak berhenti pada amalan yang sudah biasa dikerjakan saja.

Hal yang paling penting adalah menjaga shalat lima waktu terlebih dahulu. Jangan sampai seseorang begitu bersemangat mengerjakan shalat Dhuha, tetapi justru menunda atau meninggalkan shalat Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, atau Isya. Shalat wajib memiliki kedudukan yang jauh lebih utama dan harus menjadi prioritas sebelum memperbanyak ibadah sunnah.

https://s.shopee.co.id/4Va5LkY16Z

4. Jangan Sampai Memilih Ibadah Hanya Berdasarkan Keinginan Pribadi

Ada orang yang sangat menyukai shalat Dhuha karena mendengar ceramah tentang rezeki, kelancaran usaha, atau kemudahan memperoleh kebutuhan hidup. Akibatnya, ia berusaha menjaga shalat Dhuha setiap hari, tetapi kurang memperhatikan ibadah sunnah lainnya. Padahal, seorang Muslim sebaiknya menjalankan ibadah karena ingin menaati Allah SWT, bukan semata-mata karena mengharapkan keuntungan duniawi tertentu.

Memohon rezeki yang halal, kesehatan, dan kemudahan hidup tentu diperbolehkan. Namun, kita tidak seharusnya menganggap shalat Dhuha sebagai jaminan bahwa seseorang pasti kaya, bebas dari masalah keuangan, atau selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Keutamaan ibadah tidak boleh dipahami sebagai transaksi yang memastikan setiap keinginan duniawi akan terpenuhi.

Begitu pula dengan shalat rawatib, yang memiliki keutamaan tersendiri dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Daripada mempertentangkan shalat Dhuha dan rawatib, lebih baik seorang Muslim berusaha mengerjakan keduanya sesuai kemampuan, sambil tetap mengutamakan seluruh kewajiban agama.

5. Mana yang Sebaiknya Didahulukan?

Apabila seseorang ingin memperbaiki kebiasaan ibadahnya, langkah pertama adalah memastikan bahwa shalat wajibnya telah dilaksanakan dengan baik dan tepat waktu. Setelah itu, ia dapat menjaga shalat sunnah yang sudah rutin dikerjakan, kemudian menambahkan shalat rawatib sedikit demi sedikit. Pendekatan seperti ini lebih realistis daripada memaksakan banyak amalan sekaligus, tetapi akhirnya tidak mampu mempertahankannya.

Sebagai contoh, seseorang yang setiap pagi mengerjakan dua rakaat Dhuha dapat mulai membiasakan dua rakaat qabliyah Subuh. Setelah kebiasaan itu terjaga, ia bisa menambahkan rawatib setelah Maghrib dan Isya, lalu mempelajari shalat sunnah sebelum dan sesudah Zuhur. Dengan cara tersebut, ibadah sunnahnya berkembang secara bertahap tanpa mengabaikan tanggung jawab lain dalam kehidupan.

Yang perlu diingat, shalat Dhuha dan shalat rawatib merupakan ibadah yang berbeda. Keduanya tidak otomatis saling menggantikan, karena masing-masing memiliki waktu dan kedudukan tersendiri. Jadi, seseorang tidak bisa menganggap shalat Dhuha yang dikerjakannya sudah menggantikan shalat rawatib yang ditinggalkan.

6. Jangan Merasa Sudah Cukup Saleh karena Rajin Shalat Dhuha

Rajin mengerjakan shalat Dhuha merupakan kebiasaan baik yang patut disyukuri. Namun, seseorang hendaknya tidak menjadikan satu amalan sebagai alasan untuk merasa sudah cukup dalam menjalankan agama. Masih banyak aspek lain yang perlu diperhatikan, seperti menjaga shalat wajib, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, menunaikan amanah, menjaga lisan, dan menghindari perbuatan yang merugikan orang lain.

Kesalehan tidak hanya terlihat dari satu jenis ibadah yang dilakukan secara rutin, melainkan juga dari kesungguhan seseorang dalam menjalankan kewajiban dan memperbaiki perilakunya. Orang yang rajin shalat Dhuha tetap perlu berusaha menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan peduli kepada sesama. Demikian pula, orang yang belum terbiasa mengerjakan banyak shalat sunnah tidak boleh langsung dianggap buruk, sebab setiap orang memiliki perjalanan belajar dan memperbaiki diri yang berbeda.

Karena itu, nasihat tentang shalat rawatib sebaiknya disampaikan dengan cara yang mendorong seseorang menambah kebaikan, bukan membuatnya merasa bahwa seluruh ibadah yang telah dilakukannya tidak berarti. Tujuan beragama adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki kehidupan, bukan saling merendahkan karena perbedaan kebiasaan ibadah.

BACA JUGA: Kapan Waktu Terbaik untuk Melaksanakan Shalat Dhuha?

Bagaimana jika seseorang setiap hari mengerjakan shalat Dhuha, tetapi tidak pernah mengerjakan shalat rawatib? Shalat Dhuha yang dilakukannya tetap merupakan ibadah sunnah yang bernilai, sedangkan meninggalkan shalat rawatib tidak otomatis membuatnya berdosa karena rawatib bukan shalat wajib. Namun, ia kehilangan kesempatan mendapatkan berbagai keutamaan shalat sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Sikap terbaik bukanlah meninggalkan shalat Dhuha, melainkan mempertahankannya sambil mulai membiasakan diri mengerjakan shalat rawatib. Jangan lupa bahwa shalat lima waktu tetap menjadi prioritas utama, sementara amalan sunnah merupakan kesempatan untuk menambah kebaikan dan menyempurnakan ibadah.

Pada akhirnya, jangan hanya bersemangat mengerjakan satu amalan yang kita sukai, tetapi berusahalah mengenal dan menjalankan tuntunan agama secara lebih menyeluruh. Sebab, semakin baik pemahaman seseorang terhadap ibadah, semakin besar pula kesempatan baginya untuk memperbaiki kualitas ketaatan kepada Allah SWT. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *