Bagaimana Sikap Kita Melihat Teman Belum Bayar Utang, Tapi Bisa Jalan-Jalan?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH kita merasa kesal melihat seseorang yang masih memiliki utang kepada kita, tetapi di media sosial justru terlihat sedang jalan-jalan, makan di restoran, atau menikmati liburan? Perasaan seperti itu sangat manusiawi, apalagi jika kita sendiri sedang membutuhkan uang yang dipinjamnya. Muncul pertanyaan dalam hati, “Untuk jalan-jalan ada uang, tetapi kenapa utang saya belum dibayar?”

Situasi seperti ini memang bisa menguji kesabaran sekaligus hubungan pertemanan. Kita tidak ingin dianggap pelit hanya karena menagih uang sendiri, tetapi di sisi lain kita juga tidak ingin terus-menerus merasa dimanfaatkan. Lalu, bagaimana sebenarnya sikap yang tepat ketika menghadapi teman yang seperti ini?

BACA JUGA: Terlanjur Punya Utang Riba, Bagaimana Cara Taubatnya?

1. Jangan langsung menyimpulkan dari media sosial

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan seseorang secara keseluruhan.

Bisa saja perjalanan yang dia lakukan dibayari orang lain, menggunakan uang yang memang sudah disiapkan sebelumnya, mendapatkan tiket murah, atau bahkan merupakan perjalanan yang sudah direncanakan jauh sebelum dia meminjam uang kepada kita. Kita tidak mengetahui seluruh keadaan hanya dari beberapa foto atau video yang dia unggah.

Karena itu, jangan langsung menuduh bahwa dia sengaja tidak membayar utang hanya karena mampu jalan-jalan. Cari tahu terlebih dahulu keadaan sebenarnya sebelum memberikan penilaian.

2. Tetapi jangan pula mengabaikan kewajiban membayar utang

Tidak menyimpulkan secara tergesa-gesa bukan berarti kita harus membiarkan utang tanpa kejelasan. Jika seseorang memang memiliki utang kepada kita, dia tetap memiliki kewajiban untuk membayarnya sesuai kesepakatan.

Dalam Islam, utang bukan perkara ringan. Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap persoalan utang, karena utang menyangkut hak manusia. Bahkan orang yang memiliki kemampuan membayar tetapi sengaja menunda pembayaran termasuk melakukan kezaliman.

Karena itu, kalau teman tersebut sebenarnya memiliki kemampuan untuk membayar tetapi memilih menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi dan terus menunda utangnya, persoalannya bukan lagi sekadar soal jalan-jalan. Ada tanggung jawab yang sedang diabaikan.

3. Bedakan orang yang belum mampu dengan orang yang tidak mau

Ini bagian yang sangat penting. Ada orang yang benar-benar ingin membayar utangnya, tetapi kondisi ekonominya belum memungkinkan. Penghasilannya mungkin sedang turun, usahanya mengalami masalah, atau ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi.

Ada pula orang yang sebenarnya mampu, tetapi sengaja menunda karena merasa utangnya bukan prioritas. Bahkan ketika ditagih, dia masih bisa mengeluarkan uang untuk hal-hal yang bersifat hiburan dan gaya hidup.

Kedua kondisi tersebut tidak bisa diperlakukan sama.

Jika seseorang memang sedang kesulitan, memberikan kelonggaran adalah akhlak yang mulia. Al-Qur’an bahkan mengajarkan agar orang yang memberikan utang memberi tenggang waktu kepada orang yang sedang dalam kesulitan.

Namun jika orang tersebut mampu membayar tetapi sengaja menunda, kita juga tidak perlu merasa bersalah ketika meminta hak kita.

4. Menagih utang bukan berarti kita jahat

Ada orang yang merasa tidak enak hati ketika harus menagih teman. Takut dianggap perhitungan, pelit, atau tidak punya rasa kasihan.

Padahal, meminta seseorang mengembalikan uang yang memang menjadi hak kita bukanlah sebuah kejahatan. Apalagi jika uang tersebut memang sedang kita perlukan untuk kebutuhan keluarga.

Kita bisa menagih dengan cara yang baik tanpa harus mempermalukannya.

Misalnya dengan mengatakan, “Bro, maaf mau mengingatkan soal uang yang waktu itu saya pinjamkan. Kalau memang sudah ada, saya sedang membutuhkannya. Kira-kira kapan bisa dikembalikan?”

Kalimat seperti itu jauh lebih baik daripada langsung menulis sindiran di media sosial.

5. Jangan menagih dengan mempermalukannya di depan orang lain

Rasa kesal terkadang membuat seseorang ingin mengunggah status sindiran.

“Utang belum dibayar, tapi jalan-jalan terus.”

Atau:

“Kalau punya uang untuk liburan, jangan lupa masih punya utang.”

Mungkin kita merasa lega setelah menulisnya. Tetapi masalahnya bisa menjadi lebih besar karena harga diri teman tersebut ikut tersentuh.

Kalau memang ingin menyelesaikan masalah, bicarakan secara pribadi. Tujuan menagih adalah mendapatkan hak kita kembali, bukan mempermalukan orang lain.

Jika persoalannya dapat diselesaikan melalui percakapan empat mata, tidak perlu melibatkan seluruh dunia melalui media sosial.

https://s.shopee.co.id/60QNjLAHyP

6. Jangan ikut iri terhadap kesenangannya

Kesalahan berikutnya adalah membiarkan rasa kesal berubah menjadi iri.

Kita melihat dia jalan-jalan, kemudian berpikir, “Enak sekali hidupnya. Uang saya dipakai, dia malah bersenang-senang.”

Perasaan tersebut memang bisa muncul. Tetapi jangan sampai membuat hati kita terus dipenuhi kebencian.

Fokuslah pada persoalan yang sebenarnya: utang harus diselesaikan.

Kita tidak perlu mengurusi ke mana dia pergi, restoran apa yang dia datangi, atau barang apa yang dia beli. Yang perlu kita pastikan adalah kapan kewajiban tersebut akan diselesaikan.

7. Berikan batas waktu yang jelas

Jika utang sudah terlalu lama dan tidak ada kepastian, jangan hanya menunggu.

Tanyakan dengan sopan kapan dia bisa membayar. Jika belum mampu melunasi seluruhnya, tanyakan apakah bisa dicicil.

Misalnya, “Kalau belum bisa mengembalikan semuanya sekarang, bagaimana kalau dicicil setiap minggu atau setiap bulan?”

Cara seperti ini membuat persoalan menjadi lebih konkret.

Daripada setiap beberapa bulan hanya bertanya, “Kapan bayar?”, lebih baik memiliki kesepakatan yang jelas. Dengan begitu, kedua belah pihak mengetahui apa yang harus dilakukan.

8. Kalau dia benar-benar kesulitan, berikan kelonggaran

Islam mengajarkan kita untuk memiliki kasih sayang kepada orang yang sedang kesulitan.

Jika teman tersebut benar-benar tidak mampu, kita dapat memberikan waktu tambahan sesuai kemampuan kita. Bahkan jika kita memiliki kemampuan dan mengikhlaskan sebagian atau seluruh utangnya, itu merupakan kebaikan yang besar.

Namun memberikan kelonggaran tidak berarti kita harus membiarkan diri terus-menerus dimanfaatkan.

Kebaikan tetap membutuhkan kebijaksanaan. Jangan sampai karena ingin terlihat baik, kita justru mengorbankan kebutuhan keluarga sendiri.

9. Jadikan pengalaman untuk lebih berhati-hati

Kalau ternyata teman tersebut memang sering menunda utang sementara gaya hidupnya tetap berjalan seperti biasa, kita boleh mengambil pelajaran.

Bukan berarti harus memutuskan pertemanan. Tetapi untuk urusan uang, kita perlu lebih berhati-hati.

Tidak semua orang yang dekat dengan kita cocok menjadi tempat meminjamkan uang. Ada orang yang sangat baik sebagai teman ngobrol, tetapi buruk dalam mengelola utang.

Jika suatu hari dia kembali meminta pinjaman, kita berhak mengatakan tidak apabila merasa tidak nyaman atau khawatir kejadian yang sama terulang.

Menolak memberikan pinjaman bukan berarti membenci seseorang.

10. Jangan sampai utang merusak persaudaraan

Uang memang penting, tetapi jangan sampai persoalan utang membuat kita kehilangan kendali.

Tetap tegas, tetapi jangan kasar. Tetap menagih, tetapi jangan menghina. Tetap menjaga hak kita, tetapi jangan sengaja membuka aib orang lain.

Jika teman tersebut memang bersalah, biarkan dia bertanggung jawab atas kewajibannya. Kita tidak perlu membalas kesalahan dengan kesalahan.

Pada akhirnya, persoalan utang sebenarnya bukan hanya tentang uang. Utang juga menguji kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan kualitas sebuah pertemanan.

BACA JUGA: Kurban Dulu ataukah Bayar Utang Dulu?

Kalau melihat teman yang belum membayar utang tetapi bisa jalan-jalan, jangan langsung marah, tetapi jangan pula diam selamanya. Cari tahu kondisinya, komunikasikan dengan baik, dan minta kepastian pembayaran.

Jika dia benar-benar sedang kesulitan, berikan kelonggaran sesuai kemampuan kita. Tetapi jika dia mampu membayar dan sengaja menunda demi kesenangan pribadi, kita tidak perlu merasa bersalah untuk menagih.

Sebab memaafkan adalah kebaikan, tetapi menagih hak dengan cara yang baik juga bukan sebuah dosa.

Dan satu hal yang perlu diingat: jangan jadikan media sosial sebagai tempat menyelesaikan persoalan utang. Selesaikan empat mata, jaga harga diri masing-masing, dan kalau hubungan pertemanan memang berharga, jangan biarkan persoalan uang menjadi alasan untuk saling mempermalukan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *