PERNAHKAH kita merasa sanggup begadang sampai tengah malam bahkan dini hari hanya demi menonton pertandingan sepak bola, tetapi ketika diajak bangun untuk shalat tahajud, tubuh terasa sangat berat? Untuk pertandingan yang kita sukai, mata yang sudah mengantuk tiba-tiba terasa kuat. Bahkan ketika pertandingan berlangsung sampai pukul dua atau tiga pagi, kita rela bertahan, membuat kopi, menyediakan makanan, dan terus mengikuti jalannya pertandingan sampai selesai.
Namun ketika malam yang sama digunakan untuk beribadah, kondisinya bisa berbeda. Alarm sudah dipasang, tetapi ketika berbunyi tangan justru mencari tombol snooze. Kita berkata, “Lima menit lagi,” lalu tertidur kembali sampai azan Subuh terdengar. Mengapa untuk hiburan kita mampu mengorbankan waktu tidur, tetapi untuk tahajud terasa begitu sulit?
BACA JUGA: Apakah Boleh Hanya Shalat Witir Saja, tanpa Tahajud?
Karena hati mengejar sesuatu yang dianggap menarik
Salah satu jawabannya adalah apa yang kita anggap penting. Ketika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, ia biasanya sanggup melakukan berbagai usaha untuk mendapatkannya. Penggemar sepak bola bisa rela begadang karena pertandingan dianggap menarik, menegangkan, dan tidak boleh dilewatkan.
Apalagi jika pertandingan tersebut mempertemukan dua tim favorit atau menentukan siapa yang menjadi juara. Rasa penasaran membuat tubuh seolah mendapatkan energi tambahan. Kita takut ketinggalan gol, takut tidak mengetahui hasil pertandingan, dan ingin ikut membicarakannya keesokan hari.
Sementara tahajud sering kali tidak memberikan kesenangan instan seperti menonton pertandingan. Tidak ada sorakan penonton, tidak ada gol, tidak ada komentator yang membuat jantung berdebar. Yang ada justru suasana sunyi, rasa kantuk, dan perjuangan melawan tempat tidur yang terasa sangat nyaman.
Di sinilah kualitas keimanan seseorang diuji. Apakah kita hanya mampu melakukan sesuatu yang kita sukai, atau mampu melakukan sesuatu yang kita tahu dicintai Allah meskipun terasa berat?
Kita sering mengorbankan tidur untuk dunia
Coba perhatikan kehidupan sehari-hari. Ada orang yang mengatakan tidak sanggup bangun tahajud karena kurang tidur. Tetapi pada malam sebelumnya ia bisa bermain game sampai larut malam. Ada yang mengaku terlalu lelah untuk membaca Al-Qur’an, tetapi masih kuat menonton film berjam-jam.
Ada pula yang mengatakan tubuhnya sudah tidak kuat untuk shalat malam, tetapi ketika ada pertandingan penting, rasa lelah itu seperti hilang sementara. Ini bukan berarti tubuh kita tidak pernah lelah. Tubuh memang membutuhkan tidur dan istirahat. Persoalannya adalah terkadang kita lebih rela mengurangi waktu tidur untuk sesuatu yang kita cintai daripada untuk sesuatu yang mendekatkan kita kepada Allah.
Karena itu, masalahnya tidak selalu terletak pada kemampuan fisik. Ada persoalan prioritas di dalam hati.
Tahajud memang membutuhkan perjuangan
Shalat tahajud bukan ibadah yang mudah bagi semua orang. Bangun ketika sebagian besar manusia sedang terlelap membutuhkan kemauan yang kuat. Kita harus meninggalkan kasur, mengambil wudhu, menghilangkan rasa kantuk, kemudian berdiri menghadap Allah.
Justru karena ada perjuangan itulah tahajud memiliki nilai yang besar. Allah menggambarkan orang-orang yang menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur untuk berdoa kepada-Nya dalam QS. As-Sajdah ayat 16.
Artinya, bangun malam memang membutuhkan pengorbanan. Kalau tahajud selalu terasa mudah, mungkin perjuangannya tidak sebesar ketika kita harus melawan rasa malas dan kantuk.
Jadi, jangan heran jika pada awalnya tahajud terasa berat. Yang perlu dilakukan bukan langsung menyerah, melainkan melatih diri sedikit demi sedikit.
Jangan salahkan diri karena belum bisa setiap malam
Ada orang yang setelah membaca tentang keutamaan tahajud justru merasa bersalah karena tidak mampu melakukannya setiap malam. Perasaan tersebut bisa menjadi motivasi yang baik, tetapi jangan sampai berubah menjadi putus asa.
Jika selama ini kita hampir tidak pernah tahajud, jangan langsung membuat target yang terlalu berat. Cobalah mulai dari satu atau dua kali dalam seminggu. Setelah terbiasa, tingkatkan secara perlahan.
Misalnya, tidur lebih awal daripada biasanya. Kurangi penggunaan ponsel sebelum tidur. Pasang alarm jauh dari jangkauan tangan agar kita harus bangun untuk mematikannya. Jika memungkinkan, mintalah pasangan atau anggota keluarga membangunkan.
Yang paling penting adalah membangun kebiasaan. Sesuatu yang awalnya terasa berat dapat menjadi lebih ringan ketika dilakukan secara konsisten.
Jangan sampai hiburan mengalahkan ibadah
Menonton sepak bola pada dasarnya bukan persoalan utama selama tontonan tersebut tidak mengandung sesuatu yang haram dan tidak membuat seseorang meninggalkan kewajiban. Yang menjadi persoalan adalah ketika hiburan mendapatkan tempat yang lebih tinggi daripada ibadah.
Jika kita rela mengatur jadwal tidur demi pertandingan, tetapi tidak pernah mau mengatur tidur demi tahajud, mungkin kita perlu mengevaluasi kembali hati kita.
Pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya kita prioritaskan?
Kita mungkin berkata bahwa Allah adalah yang paling kita cintai. Tetapi kecintaan tidak hanya dibuktikan melalui ucapan. Ia juga terlihat dari apa yang rela kita korbankan untuk mendapatkan ridha-Nya.
Kalau demi klub sepak bola kita rela mengorbankan tidur, seharusnya demi mendekat kepada Allah kita juga belajar melakukan pengorbanan.
Tahajud bukan sekadar mengejar keinginan dunia
Salah satu keindahan shalat malam adalah kesempatan untuk berbicara kepada Allah ketika suasana sangat tenang. Tidak ada keramaian, tidak ada notifikasi media sosial, tidak ada pekerjaan yang mengganggu.
Pada waktu seperti itu, seseorang bisa mengadu tentang masalah hidupnya, memohon ampun, meminta petunjuk, dan berdoa untuk keluarganya. Tahajud menjadi ruang untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Sayangnya, banyak orang baru mencari Allah ketika masalah sudah besar. Ketika sedang sakit, banyak berdoa. Ketika kehilangan pekerjaan, banyak berdoa. Ketika memiliki utang, banyak berdoa. Padahal sebelum masalah datang, kita juga perlu membangun hubungan dengan Allah.
Tahajud bisa menjadi salah satu bentuk latihan untuk itu.
Jangan menunggu menjadi orang saleh untuk mulai tahajud
Ada anggapan bahwa tahajud hanya untuk orang yang sudah sangat alim atau memiliki iman yang kuat. Padahal justru orang yang merasa dirinya banyak kekurangan membutuhkan ibadah untuk mendekat kepada Allah.
Jangan berkata, “Saya belum baik, jadi belum pantas tahajud.” Mulailah tahajud sambil memperbaiki diri. Jangan menunggu hati menjadi sempurna karena manusia memang tidak pernah sempurna.
Jika malam ini kita gagal bangun, jangan berhenti mencoba pada malam berikutnya. Jika alarm berbunyi tetapi kita kembali tidur, evaluasi apa yang membuat kita gagal. Mungkin tidur terlalu larut, terlalu lama bermain ponsel, atau memang belum memiliki niat yang kuat.
Perbaiki penyebabnya satu per satu.
Coba tanyakan kepada diri sendiri
Kalau kita mampu begadang demi pertandingan yang hasilnya mungkin hanya membuat kita senang selama beberapa jam, mengapa kita merasa begitu berat bangun untuk menghadap Allah?
Pertanyaan ini bukan untuk menghukum diri sendiri. Pertanyaan ini adalah bahan introspeksi.
Mungkin selama ini kita bukan tidak punya waktu. Kita hanya belum memberikan prioritas yang cukup kepada ibadah tersebut. Kita bisa mencari waktu untuk sesuatu yang kita cintai, tetapi sulit mencari waktu untuk sesuatu yang seharusnya menjadi bekal kehidupan akhirat.
BACA JUGA: Berapa Jumlah Rakaat Shalat Tahajud yang Dianjurkan?
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kita boleh menonton bola atau tidak. Persoalannya adalah jangan sampai kita menjadi orang yang begitu bersemangat mengejar hiburan dunia, tetapi begitu berat ketika diajak mengejar pahala akhirat.
Kalau malam ini ada pertandingan penting, kita mungkin sudah menyiapkan alarm agar tidak ketinggalan. Maka sesekali, cobalah pasang alarm bukan hanya untuk mengetahui skor pertandingan, tetapi untuk bangun menghadap Allah.
Sebab pertandingan akan selesai, pemain akan pensiun, klub akan berganti, dan skor akan dilupakan. Tetapi amal yang kita lakukan karena Allah adalah sesuatu yang kita harapkan menjadi bekal ketika kehidupan dunia benar-benar berakhir. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

