Kalau Ada Pilihan Hidup Kaya dengan Riba, Apakah Akan Kamu Ambil?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Freepik

SETIAP orang tentu ingin hidup berkecukupan. Memiliki rumah yang nyaman, kendaraan yang layak, tabungan yang cukup, serta mampu memenuhi kebutuhan keluarga adalah impian yang wajar. Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi kaya, karena Islam pun tidak melarang seorang muslim memiliki harta yang banyak. Yang menjadi persoalan adalah ketika kekayaan itu ditawarkan melalui jalan yang bertentangan dengan aturan Allah, salah satunya melalui riba.

Coba renungkan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi cukup dalam. Jika ada dua pilihan di hadapan kita, hidup kaya raya tetapi seluruh kekayaan itu dibangun dari riba, atau hidup sederhana dengan penghasilan halal meskipun tidak berlimpah, mana yang akan kita pilih? Secara teori mungkin banyak orang menjawab bahwa mereka akan memilih yang halal. Namun ketika kesempatan mendapatkan uang besar benar-benar datang, godaan itu sering kali tidak lagi terasa sederhana.

BACA JUGA: Terlanjur Punya Utang Riba, Bagaimana Cara Taubatnya?

Riba sering terlihat menarik karena menjanjikan keuntungan yang cepat dan pasti. Seseorang bisa mendapatkan modal besar, membeli rumah, mengembangkan usaha, atau meningkatkan gaya hidup dalam waktu singkat. Di mata manusia, hidupnya tampak berhasil karena memiliki banyak harta. Namun pertanyaannya, apakah semua yang terlihat berhasil itu benar-benar membawa ketenangan?

Kaya Belum Tentu Berkah

Kekayaan dan keberkahan adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa memiliki miliaran rupiah, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan, konflik keluarga, dan rasa tidak pernah puas. Sebaliknya, ada orang yang penghasilannya sederhana, tetapi rumah tangganya harmonis, anak-anaknya baik, dan hatinya merasa cukup.

Islam mengajarkan bahwa harta bukan hanya soal jumlah. Harta adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa digunakan menjadi pertanyaan penting. Karena itu, harta yang sedikit tetapi halal bisa jauh lebih bernilai daripada harta yang banyak tetapi diperoleh dengan cara yang dilarang.

Sering kali manusia hanya melihat hasil akhirnya. Kita melihat rumah besar, mobil mahal, dan kehidupan yang tampak mewah. Kita tidak melihat kegelisahan yang mungkin tersembunyi di balik semua itu. Tidak semua orang kaya hidup bahagia, dan tidak semua orang sederhana hidup menderita.

Godaan Riba di Zaman Sekarang

Di zaman sekarang, riba hadir dalam berbagai bentuk yang semakin mudah dijangkau. Pinjaman cepat, cicilan konsumtif, utang berbunga, hingga berbagai produk keuangan membuat orang merasa bahwa semua keinginan bisa segera dipenuhi. Tinggal mengajukan pinjaman, lalu barang impian bisa langsung dibawa pulang.

Masalahnya, kemudahan itu sering membuat seseorang tidak berpikir panjang. Awalnya hanya ingin membeli satu barang, kemudian muncul cicilan lain. Lama-kelamaan, sebagian besar penghasilan habis untuk membayar kewajiban setiap bulan. Bukannya merasa kaya, justru hidup menjadi tertekan karena selalu dikejar utang.

Banyak orang masuk ke dalam lingkaran riba bukan karena ingin menjadi jahat. Mereka hanya ingin hidup lebih baik. Namun niat yang baik tetap harus ditempuh dengan jalan yang benar. Keinginan memiliki rumah, kendaraan, atau usaha tidak boleh membuat seseorang menghalalkan cara yang dilarang.

Jika Riba Membuat Kaya, Apakah Layak Diambil?

Inilah inti pertanyaannya. Seandainya benar-benar dijamin bahwa riba akan membuat kita kaya, apakah itu cukup untuk membuatnya layak diambil? Bagi seorang muslim, jawabannya seharusnya tidak hanya diukur dengan keuntungan dunia.

Hidup di dunia sangat singkat dibandingkan kehidupan akhirat. Kekayaan yang dikumpulkan puluhan tahun pada akhirnya akan ditinggalkan. Rumah, mobil, rekening, dan aset tidak ikut masuk ke dalam kubur. Yang tersisa adalah amal dan pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan.

Karena itu, seorang muslim diajak untuk melihat lebih jauh daripada sekadar keuntungan sesaat. Tidak semua yang menguntungkan secara materi akan menguntungkan secara spiritual. Kadang-kadang, meninggalkan sesuatu yang terlihat menjanjikan justru merupakan bentuk ketaatan yang nilainya jauh lebih besar.

Rezeki Tidak Hanya Berupa Uang

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap rezeki hanya berupa uang. Padahal kesehatan, keluarga yang harmonis, anak yang saleh, tidur yang nyenyak, dan hati yang tenang juga merupakan rezeki yang sangat besar. Sayangnya, banyak orang baru menyadari nilainya setelah kehilangan.

Ada orang yang uangnya banyak tetapi tidak punya waktu menikmati keluarganya. Ada yang rumahnya besar tetapi penghuninya saling bermusuhan. Ada pula yang hartanya melimpah, tetapi setiap malam sulit tidur karena memikirkan utang dan masalah bisnis.

Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang bisa makan bersama dengan penuh rasa syukur. Mungkin tidak ada kemewahan, tetapi ada ketenangan. Dalam pandangan Islam, ketenangan hati dan rasa cukup adalah nikmat yang tidak bisa dibeli dengan uang.

https://s.shopee.co.id/7VFUibaZ7J

Memilih Halal Memang Tidak Selalu Mudah

Harus diakui, memilih jalan halal tidak selalu mudah. Kadang prosesnya lebih lambat. Kita harus menabung lebih lama untuk membeli rumah, menunda membeli kendaraan, atau memulai usaha dari kecil. Di saat orang lain tampak lebih cepat berhasil, kita mungkin merasa tertinggal.

Namun kesabaran itulah yang menjadi ujian. Apakah kita tetap memegang prinsip ketika jalan yang dilarang tampak jauh lebih mudah? Apakah kita tetap percaya bahwa rezeki Allah tidak akan tertukar meskipun kita menolak sesuatu yang haram?

Tidak sedikit orang yang akhirnya bersyukur karena dulu memilih bersabar. Barang yang diinginkan memang datang lebih lambat, tetapi tidak disertai beban utang yang berat. Usaha tumbuh perlahan, tetapi mereka bisa tidur dengan hati yang lebih tenang.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Mungkin kita tidak sedang dihadapkan pada pilihan ekstrem antara kaya dengan riba atau miskin tanpa riba. Namun dalam kehidupan sehari-hari, pilihan-pilihan kecil sering muncul. Apakah kita akan mengambil pinjaman berbunga untuk memenuhi gaya hidup? Apakah kita akan menambah utang demi terlihat sukses? Ataukah kita memilih menunda dan hidup sesuai kemampuan?

Jawaban atas pertanyaan besar itu sebenarnya dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil setiap hari. Seseorang yang terbiasa menjaga dirinya dari perkara yang meragukan akan lebih kuat ketika menghadapi godaan yang lebih besar. Sebaliknya, jika sedikit demi sedikit mulai menganggap riba sebagai hal biasa, hati bisa menjadi semakin terbiasa.

Pada akhirnya, pertanyaan “Kalau ada pilihan hidup kaya dengan riba, apakah akan kamu ambil?” bukan sekadar soal uang. Pertanyaan itu menguji apa yang sebenarnya paling kita hargai dalam hidup. Apakah kekayaan yang terlihat oleh manusia, atau keberkahan yang mungkin tidak selalu terlihat tetapi membawa ketenangan?

Setiap orang tentu ingin hidup kaya. Namun kekayaan sejati bukan hanya tentang berapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang seberapa tenang hati kita dengan apa yang dimiliki. Jika harus memilih antara harta yang banyak tetapi diperoleh dari jalan yang dilarang dan harta yang sederhana tetapi halal, seorang muslim diajak untuk meyakini bahwa keberkahan jauh lebih berharga daripada kemewahan sesaat.

BACA JUGA: Mana yang Lebih Berbahaya: Riba, Judi, atau Zina?

Sebab pada akhirnya, kita tidak hanya akan ditanya berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan. Kita juga akan dimintai pertanggungjawaban dari mana harta itu datang dan bagaimana kita menggunakannya. Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah kamu ingin kaya?” tetapi “Apakah kamu ingin kaya dengan cara yang membuatmu tenang di dunia dan selamat di akhirat?”

Bagaimana menurutmu? Jika benar-benar ada pilihan untuk menjadi sangat kaya melalui riba, apakah kamu akan mengambilnya, atau tetap memilih hidup sederhana tetapi halal? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *