Anak Tidak Mau Ngaji Tapi Betah Main Game, Bagaimana?

Yudi
By Yudi
11 Min Read
Foto: Unsplash

SALAH satu kegelisahan orang tua zaman sekarang adalah melihat anak begitu sulit diajak mengaji, tetapi bisa betah bermain game selama berjam-jam. Ketika diminta membaca Al-Qur’an beberapa menit saja, anak mulai mengeluh, mengantuk, atau mencari alasan. Namun ketika sudah memegang HP atau konsol untuk bermain game, waktu terasa berlalu begitu cepat dan anak seolah tidak mengenal lelah.

Kondisi seperti ini tentu membuat orang tua khawatir. Jangan-jangan anak semakin jauh dari Al-Qur’an dan lebih mencintai permainan daripada ilmu agama. Namun sebelum memarahi anak, orang tua perlu memahami bahwa masalah tersebut tidak selalu selesai hanya dengan melarang game.

Yang perlu dibangun adalah keseimbangan. Anak perlu belajar bahwa bermain adalah sesuatu yang boleh, tetapi ada kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.

BACA JUGA: Kenapa Banyak Anak SMP dan SMA yang Sudah Tidak Pernah Mengaji?

Jangan Langsung Menyimpulkan Anak Malas Mengaji

Ketika anak tidak mau mengaji, jangan buru-buru memberikan label “malas”, “nakal”, atau “tidak punya iman”.

Anak mungkin belum menemukan pengalaman yang menyenangkan ketika belajar Al-Qur’an. Bisa jadi metode mengajinya terlalu monoton, gurunya kurang cocok, waktu mengaji bertepatan dengan saat anak sedang lelah, atau anak merasa mengaji selalu identik dengan teguran dan hukuman.

Sebaliknya, game memberikan rangsangan yang sangat menarik. Anak mendapatkan tantangan, hadiah, level baru, suara, karakter, kemenangan, dan target yang jelas. Tidak mengherankan jika permainan digital terasa lebih menarik bagi sebagian anak.

Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar berkata, “Jangan main game!” tetapi mencari cara agar aktivitas mengaji juga memiliki pengalaman positif bagi anak.

Game Tidak Harus Langsung Diharamkan atau Dilarang Total

Tidak semua permainan otomatis haram. Hukum sebuah permainan perlu dilihat dari isi dan dampaknya. Jika di dalamnya terdapat unsur yang haram atau permainan tersebut membuat anak meninggalkan kewajiban, merusak perilaku, atau menyebabkan kecanduan, tentu orang tua harus mengambil tindakan.

Namun apabila permainan yang sesuai usia dimainkan secara terbatas dan tidak mengganggu kewajiban, orang tua dapat mengaturnya.

Pendekatan yang lebih realistis adalah membuat aturan keluarga yang jelas. Misalnya, anak menyelesaikan kewajiban mengaji, belajar, membantu orang tua, dan kewajiban lainnya terlebih dahulu, kemudian memperoleh waktu bermain.

Prinsipnya bukan menjadikan Al-Qur’an sebagai “harga” untuk mendapatkan game, tetapi mengajarkan anak tentang prioritas.

Jangan Jadikan Mengaji sebagai Hukuman

Kesalahan yang cukup sering dilakukan adalah mengatakan, “Kalau kamu nakal, nanti disuruh mengaji.”

Kalimat seperti ini bisa membuat anak memiliki asosiasi negatif terhadap mengaji. Seolah-olah mengaji merupakan hukuman yang diberikan ketika anak melakukan kesalahan.

Padahal Al-Qur’an seharusnya diperkenalkan sebagai sesuatu yang mulia dan dekat dengan kehidupan seorang Muslim.

Lebih baik orang tua membangun suasana yang menyenangkan. Misalnya, orang tua mengaji bersama anak, membacakan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, menjelaskan makna ayat dengan bahasa sederhana, atau mengajak anak menghafal surat pendek secara bertahap.

Anak juga perlu melihat bahwa orang tuanya sendiri mencintai Al-Qur’an.

Anak Lebih Mudah Meniru daripada Mendengar Ceramah

Orang tua bisa puluhan kali berkata, “Jangan terlalu sering main HP!”

Namun kalau anak melihat ayah dan ibunya sendiri selalu memegang HP, sibuk dengan media sosial saat makan, atau bermain ponsel ketika anak sedang berbicara, pesan tersebut menjadi kurang kuat.

Anak belajar dari contoh.

Panduan American Academy of Pediatrics pada 2026 juga menekankan pentingnya orang tua menjadi teladan dalam penggunaan media digital serta membuat waktu dan tempat bebas layar untuk seluruh keluarga.

Karena itu, kalau ingin anak dekat dengan Al-Qur’an, orang tua juga perlu memperlihatkan kedekatan dengan Al-Qur’an.

Tidak harus setiap hari membaca berjam-jam. Membaca beberapa ayat setelah Maghrib secara konsisten bisa menjadi kebiasaan yang jauh lebih kuat daripada menyuruh anak mengaji sambil orang tua sendiri sibuk dengan HP.

Buat Jadwal yang Jelas

Anak membutuhkan batasan yang konsisten.

Misalnya:

  • Setelah Maghrib: shalat dan mengaji.
  • Setelah mengaji: makan atau kegiatan keluarga.
  • Setelah tugas sekolah selesai: waktu bermain.
  • Menjelang tidur: tidak ada game dan gadget.

Jadwal tidak harus kaku. Yang terpenting anak memahami bahwa ada waktu untuk ibadah, belajar, bermain, dan istirahat.

AAP juga menyarankan keluarga membuat aturan penggunaan media yang disesuaikan dengan rutinitas masing-masing, menyediakan waktu tanpa layar untuk tidur, belajar, bermain, membaca, aktivitas fisik, dan keluarga.

Dengan demikian, orang tua tidak perlu setiap hari berdebat, “Matikan gamenya sekarang!”

Aturannya sudah disepakati sebelumnya.

Jangan Menunggu Anak Mau Mengaji Sendiri

Ada orang tua yang berkata, “Kalau anak sudah besar nanti juga sadar sendiri.”

Padahal kebiasaan perlu dibentuk sejak kecil.

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar anak dibiasakan dengan shalat sejak usia tujuh tahun. Hadis ini menunjukkan pentingnya pendidikan ibadah secara bertahap sejak anak masih kecil.

Mengajarkan Al-Qur’an juga demikian. Anak tidak selalu langsung mencintai sesuatu yang baru dikenalnya. Orang tua perlu mengenalkan, membimbing, mengulang, memberikan contoh, dan membangun kebiasaan.

Jangan berharap anak tiba-tiba menjadi rajin mengaji jika sejak kecil tidak pernah dibiasakan.

Kurangi Game Secara Bertahap Jika Sudah Berlebihan

Jika anak sudah terbiasa bermain game selama berjam-jam setiap hari, memotongnya secara mendadak mungkin memicu pertengkaran besar.

Orang tua dapat mengurangi durasinya secara bertahap sambil menggantinya dengan kegiatan lain yang menarik.

Misalnya, setelah mengaji anak boleh bermain di luar, bersepeda, bermain bersama orang tua, membaca buku cerita, membantu memasak, atau melakukan aktivitas kreatif.

AAP pada panduan terbarunya menekankan bahwa masalah media bukan sekadar menghitung menit di depan layar. Kualitas konten, konteks penggunaan, tidur, aktivitas fisik, membaca, bermain, dan hubungan keluarga juga perlu diperhatikan.

Jadi, jangan hanya mengambil game dari tangan anak. Berikan alternatif yang membuat anak tetap memiliki kegiatan menyenangkan.

https://s.shopee.co.id/9AOEeA5GOG

Jangan Membandingkan Anak dengan Anak Lain

“Kenapa kamu tidak seperti anak tetangga? Dia rajin mengaji!”

Kalimat seperti ini mungkin keluar karena orang tua merasa frustrasi. Tetapi perbandingan sering kali justru membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.

Lebih baik katakan, “Ayah ingin kamu dekat dengan Al-Qur’an karena Al-Qur’an penting untuk hidup kita.”

Fokuslah pada perkembangan anak sendiri.

Jika sebelumnya anak hanya mau mengaji lima menit kemudian sekarang sudah mampu sepuluh menit, itu kemajuan. Jika sebelumnya belum hafal satu surat kemudian berhasil menghafalnya, berikan apresiasi.

Pendidikan agama membutuhkan kesabaran.

Berikan Pujian atas Usaha, Bukan Hanya Hasil

Anak membutuhkan penghargaan ketika berusaha.

Ketika anak berhasil menyelesaikan bacaan meskipun masih terbata-bata, orang tua dapat berkata, “Alhamdulillah, hari ini kamu sudah berusaha. Besok kita coba lagi.”

Jangan setiap kali membaca Al-Qur’an hanya mencari kesalahan tajwidnya.

Jika setiap sesi mengaji dipenuhi teguran, anak bisa merasa bahwa mengaji adalah kegiatan yang membuat dirinya selalu salah.

Tentu kesalahan bacaan tetap perlu diperbaiki. Tetapi perbaikan sebaiknya dilakukan dengan cara yang membuat anak ingin mencoba lagi, bukan membuatnya takut membuka Al-Qur’an.

Jangan Jadikan Game sebagai Musuh

Game bukan satu-satunya penyebab anak jauh dari mengaji.

Bisa saja masalah sebenarnya adalah kurangnya kedekatan dengan orang tua, tidak adanya rutinitas ibadah di rumah, metode belajar yang tidak cocok, atau anak memang sedang mengalami kesulitan tertentu.

Karena itu, orang tua perlu melihat masalah secara menyeluruh.

Bahkan game bisa menjadi pintu masuk untuk mendekati anak. Orang tua dapat bertanya tentang game yang dimainkan, memahami apa yang membuatnya menarik, kemudian perlahan mengajarkan konsep tentang disiplin, target, kesabaran, dan tanggung jawab.

Anak yang merasa dipahami biasanya lebih mudah menerima arahan.

Buat Target Mengaji yang Ringan

Jangan langsung menetapkan target yang terlalu berat.

Jika anak belum terbiasa, mulailah dengan 5–10 menit sehari. Setelah itu, tingkatkan perlahan sesuai kemampuan.

Yang lebih penting adalah konsistensi daripada durasi yang panjang tetapi hanya dilakukan sesekali.

Misalnya, daripada memaksa anak membaca Al-Qur’an satu jam setiap hari lalu akhirnya ia membenci kegiatan tersebut, lebih baik membangun kebiasaan 10–15 menit yang dilakukan secara rutin dan penuh pendampingan.

Lama-kelamaan, anak dapat meningkat sendiri.

Jika Anak Marah Ketika Game Dimatikan

Ini menjadi tanda bahwa aturan penggunaan game perlu diperbaiki.

Jangan menunggu sampai anak sedang berada di tengah pertandingan atau permainan yang belum selesai lalu tiba-tiba berkata, “Matikan sekarang!”

Berikan peringatan terlebih dahulu.

“Sepuluh menit lagi waktunya selesai.”

Kemudian beri pengingat lagi.

“Lima menit lagi ya.”

Setelah waktunya habis, aturan harus dijalankan secara konsisten.

AAP merekomendasikan keluarga membuat batasan media, menggunakan parental controls bila diperlukan, dan menciptakan waktu bebas layar yang konsisten.

Dengan aturan yang konsisten, anak belajar bahwa batasan bukan bentuk kebencian orang tua terhadap dirinya.

Yang Paling Penting: Jangan Putus Asa

Anak yang hari ini sulit diajak mengaji bukan berarti akan selamanya jauh dari Al-Qur’an.

Masa kanak-kanak adalah masa pendidikan. Ada hari ketika anak patuh, ada hari ketika ia membantah. Ada masa ketika ia rajin mengaji, ada masa ketika ia lebih tertarik bermain.

Tugas orang tua adalah terus membimbing.

Jangan hanya mendoakan anak menjadi saleh, tetapi juga ciptakan lingkungan yang membantu kesalehan itu tumbuh.

Kurangi konflik, perbanyak keteladanan. Kurangi ancaman, perbanyak pendampingan. Kurangi membandingkan, perbanyak apresiasi.

Dan yang tidak kalah penting, orang tua juga perlu berdoa kepada Allah agar anak diberi hati yang mencintai iman dan Al-Qur’an.

BACA JUGA: Tidak Bisa Shalat Karena dari Kecil Tidak Pernah Ngaji, Bagaimana?

Sebab pada akhirnya, orang tua hanya mampu berusaha dan mendidik. Hidayah adalah milik Allah.

Jadi, ketika anak betah bermain game tetapi tidak mau mengaji, jangan hanya bertanya, “Bagaimana cara membuat anak berhenti bermain game?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana membuat anak mengenal Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ia cintai, bukan sesuatu yang selalu ia takuti?”

Ketika anak mulai mencintai Al-Qur’an, game tidak lagi menjadi pusat kehidupannya. Ia akan belajar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar memenangkan sebuah permainan: yaitu menjadi anak yang dekat dengan Allah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *