Hati Panas dan Kesal Saat Tetangga Beli Mobil Baru, Bagaimana?

Yudi
By Yudi
10 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH kita melihat tetangga membeli mobil baru, lalu tiba-tiba hati terasa panas? Padahal tetangga tersebut tidak melakukan kesalahan apa pun kepada kita. Ia tidak pamer, tidak mengejek, bahkan mungkin hanya mengunggah foto mobil barunya di media sosial. Namun entah mengapa, muncul rasa kesal dalam hati.

“Enak banget hidupnya.”

“Kenapa dia bisa beli mobil baru, sedangkan saya masih pakai mobil lama?”

“Padahal saya merasa lebih lama tinggal di sini.”

“Jangan-jangan dia sengaja pamer.”

Perasaan seperti ini mungkin pernah muncul tanpa kita sadari. Lalu, apakah munculnya rasa iri dan panas hati tersebut sudah termasuk dosa? Bagaimana Islam mengajarkan kita menghadapi perasaan ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat yang belum kita miliki?

BACA JUGA: Suami Sering Membandingkan Istri dengan Istri Tetangga, Apa Hukumnya?

Munculnya Rasa Iri di Dalam Hati

Manusia memang memiliki perasaan. Kita bisa senang, sedih, kecewa, takut, bahkan iri.

Karena itu, ketika melihat tetangga membeli mobil baru lalu hati kita merasa sedikit tidak nyaman, jangan langsung menyimpulkan bahwa kita adalah orang paling buruk.

Perasaan yang muncul secara spontan belum tentu sama dengan tindakan yang kita pilih setelahnya.

Yang perlu diperhatikan adalah apa yang kita lakukan setelah rasa tersebut muncul.

Jika dalam hati muncul rasa iri, kemudian kita segera menyadarinya dan berusaha menghilangkannya, itu merupakan bentuk perjuangan melawan penyakit hati.

Namun, jika rasa iri tersebut dipelihara sampai berubah menjadi kebencian, berharap nikmat tetangga hilang, menyebarkan fitnah, mencela, atau berusaha menjatuhkannya, persoalannya menjadi jauh lebih serius.

Iri Tidak Selalu Sama

Dalam Islam, ada perbedaan antara iri yang tercela dan keinginan memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang darinya.

Misalnya kita melihat tetangga membeli mobil baru kemudian berkata dalam hati:

“Masya Allah, bagus sekali. Semoga saya juga suatu hari diberi rezeki sehingga bisa membeli kendaraan seperti itu.”

Ini berbeda dengan pikiran:

“Semoga mobilnya cepat rusak.”

Atau:

“Semoga dia bangkrut supaya tidak punya mobil itu lagi.”

Yang kedua jelas jauh lebih berbahaya karena kita bukan sekadar menginginkan nikmat yang sama, tetapi berharap nikmat orang lain dicabut.

Karena itu, ketika muncul rasa iri, arahkan perasaan tersebut menjadi motivasi untuk berusaha, bukan menjadi kebencian terhadap orang lain.

Mengapa Kita Kesal Melihat Orang Lain Lebih Beruntung?

Sering kali masalahnya bukan pada mobil.

Masalah sebenarnya adalah perbandingan.

Kita melihat kehidupan orang lain dari luar, kemudian membandingkannya dengan kehidupan kita sendiri.

Tetangga membeli mobil baru. Kita melihat mobilnya, tetapi tidak melihat cicilan atau tabungannya.

Kita melihat rumahnya bagus, tetapi tidak mengetahui berapa banyak perjuangan yang telah ia lakukan.

Kita melihat usahanya berkembang, tetapi tidak mengetahui berapa kali ia mengalami kegagalan.

Kita hanya melihat hasil akhirnya.

Media sosial bahkan membuat masalah ini semakin besar. Orang biasanya menampilkan momen terbaik dalam hidupnya. Akibatnya, kehidupan orang lain terlihat sempurna sementara kehidupan kita terlihat biasa-biasa saja.

Padahal, setiap orang memiliki ujian masing-masing.

Jangan Menganggap Rezeki Orang Lain Mengurangi Rezeki Kita

Salah satu penyakit hati adalah merasa bahwa ketika orang lain mendapatkan banyak, berarti jatah kita menjadi lebih sedikit.

Padahal tidak demikian.

Rezeki manusia berada dalam ketetapan Allah. Keberhasilan seseorang tidak otomatis membuat Allah mengurangi apa yang telah Dia tetapkan untuk kita.

Tetangga membeli mobil seharga ratusan juta rupiah bukan berarti kesempatan kita mendapatkan rezeki menjadi lebih kecil.

Allah bisa memberikan rezeki melalui jalan yang sama sekali tidak kita sangka.

Karena itu, daripada sibuk menghitung berapa banyak harta yang dimiliki tetangga, lebih baik kita bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki kehidupan saya?”

Pertanyaan tersebut jauh lebih produktif.

Bahaya Jika Iri Dipelihara

Rasa iri yang dibiarkan bisa berkembang menjadi penyakit hati.

Awalnya hanya merasa kesal melihat mobil baru.

Kemudian mulai mencari-cari kekurangan tetangga.

“Paling juga mobilnya kredit.”

“Paling uangnya dari utang.”

“Paling sebenarnya tidak mampu.”

Lama-kelamaan kita mulai membicarakannya kepada orang lain.

Padahal belum tentu semua yang kita pikirkan itu benar.

Inilah bahayanya ketika iri tidak dikendalikan. Kita bisa terjerumus kepada prasangka buruk, ghibah, fitnah, bahkan permusuhan hanya karena seseorang mendapatkan nikmat yang sebenarnya tidak merugikan kita.

Bagaimana Jika Tetangga Memang Pamer?

Ini juga perlu dibedakan.

Jika tetangga memang sengaja memamerkan kekayaannya, kita tetap tidak boleh membalas kesombongan dengan kesombongan.

Jangan berkata:

“Dia memang kaya, tapi belum tentu masuk surga.”

Jangan pula mencari-cari kesalahannya untuk membuat diri kita merasa lebih baik.

Kita tidak mengetahui isi hati orang lain.

Jika ia benar-benar sombong, itu urusannya dengan Allah.

Tugas kita adalah menjaga hati sendiri.

Kalaupun perilakunya mengganggu, kita bisa menjaga jarak secara wajar tanpa harus menyimpan kebencian.

https://s.shopee.co.id/Lmprk1SyM

Ucapkan “Masya Allah” dan Doakan Kebaikan

Salah satu cara sederhana ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat adalah membiasakan diri mendoakan kebaikan.

Ketika melihat tetangga membeli mobil baru, kita bisa berkata:

“Masya Allah, semoga berkah dan bermanfaat.”

Ucapan tersebut bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia.

Tetapi kita sedang mendidik hati agar tidak berubah menjadi dengki.

Mendoakan kebaikan orang lain juga membantu kita keluar dari pola pikir bahwa keberhasilan orang lain adalah ancaman bagi kehidupan kita.

Justru, kita belajar menerima kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rezekinya masing-masing.

Ingat Nikmat yang Sudah Kita Miliki

Ketika iri muncul, coba berhenti sejenak dan hitung nikmat yang ada dalam hidup kita.

Mungkin kita belum punya mobil baru, tetapi masih memiliki kesehatan.

Mungkin rumah kita sederhana, tetapi keluarga masih berkumpul bersama.

Mungkin kendaraan kita sudah tua, tetapi masih bisa digunakan untuk bekerja.

Mungkin penghasilan kita belum sebesar tetangga, tetapi kebutuhan pokok masih tercukupi.

Sering kali kita merasa kekurangan bukan karena benar-benar tidak memiliki apa-apa, tetapi karena terlalu sering membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain.

Syukur membantu kita melihat kembali nikmat yang selama ini sering dianggap biasa.

Tidak Salah Ingin Memiliki Mobil Baru

Islam tidak melarang seseorang bercita-cita memiliki kendaraan yang lebih bagus.

Kalau setelah melihat tetangga membeli mobil baru kita berkata:

“Semoga suatu hari saya juga mampu membeli mobil seperti itu.”

Ini bukan sesuatu yang tercela selama tidak disertai keinginan agar nikmat tetangga hilang.

Bahkan rasa ingin memiliki sesuatu bisa menjadi motivasi untuk bekerja lebih keras.

Yang harus dijaga adalah caranya.

Jangan sampai keinginan membeli mobil baru membuat seseorang mengambil utang yang memberatkan, menghalalkan segala cara, menipu orang lain, atau mengorbankan kebutuhan keluarga.

Jangan mengejar mobil dengan mengorbankan ketenangan hidup.

Rezeki Tidak Selalu Berbentuk Mobil

Ada satu hal yang sering kita lupakan.

Kita terlalu mudah mengukur keberhasilan berdasarkan benda.

Mobil baru dianggap sukses.

Rumah besar dianggap sukses.

Pekerjaan dengan gaji tinggi dianggap sukses.

Padahal belum tentu.

Ada orang yang memiliki mobil mahal tetapi hidupnya penuh tekanan.

Ada orang yang rumahnya sederhana tetapi keluarganya harmonis.

Ada orang yang penghasilannya tidak fantastis tetapi hatinya tenang.

Ada orang yang tidak memiliki banyak harta tetapi sangat dekat dengan Allah.

Karena itu, jangan menjadikan harta orang lain sebagai standar kebahagiaan kita.

Jika Hati Panas, Segera Lakukan Ini

Ketika suatu hari tetangga membeli mobil baru dan kita merasa iri, coba lakukan beberapa hal.

Pertama, akui perasaan tersebut tanpa membiarkannya menguasai diri.

Kedua, jangan langsung membuat prasangka tentang sumber kekayaannya.

Ketiga, doakan agar nikmat tersebut diberkahi.

Keempat, ingat kembali nikmat yang sudah kita miliki.

Kelima, jika memang ingin memiliki mobil baru, jadikan sebagai motivasi untuk bekerja dan menabung.

Keenam, jangan membicarakan keburukan tetangga hanya karena merasa iri.

Dan yang tidak kalah penting, perbanyak doa agar Allah membersihkan hati dari dengki.

Sebab penyakit hati sering kali tidak terlihat oleh manusia, tetapi dampaknya bisa merusak hubungan kita dengan orang lain dan dengan Allah.

Jadi, bolehkah hati panas dan kesal saat tetangga membeli mobil baru?

Jika rasa tersebut muncul secara spontan, jangan langsung merasa bahwa diri kita pasti berdosa. Tetapi jangan pula membiarkannya tumbuh menjadi dengki.

Perasaan harus diarahkan.

BACA JUGA: Punya Tetangga Kaya Raya tapi Tak Pernah Bersosialisasi, Bagaimana Sikap Kita?

Kalau kita melihat nikmat orang lain lalu berharap nikmat tersebut hilang, itu adalah sikap yang berbahaya.

Sebaliknya, jika kita berkata, “Masya Allah, semoga berkah. Semoga suatu hari saya juga diberi rezeki seperti itu,” lalu kita berusaha dengan cara yang halal, maka rasa tersebut bisa diarahkan menjadi motivasi.

Ingatlah, mobil tetangga tidak mengurangi rezeki kita. Rumah tetangga tidak mengambil jatah kita. Kesuksesan orang lain bukan berarti kegagalan kita.

Allah membagikan rezeki kepada manusia dengan cara dan waktu yang berbeda.

Mungkin hari ini tetangga kita membeli mobil baru.

Tidak perlu panas hati.

Bisa jadi, Allah sedang mengajarkan kita satu hal yang jauh lebih berharga: belajar bahagia melihat orang lain mendapatkan nikmat, sambil tetap berusaha dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *