Tanamkan Iman di Rumah Sebelum Anak Bergelut dengan Dunianya

Nasrulloh Baksolahar
15 Min Read
Foto: Freepik

ANAK Anda ibarat adonan yang berada di tangan Anda. Ia dapat dibentuk dan diarahkan sesuai dengan pendidikan yang diterimanya. Ketika lahir, ia masih berada dalam keadaan bersih dan murni. Ia belum mengenal jalan kebajikan maupun jalan keburukan secara mendalam. Karena itu, masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk menanamkan benih kebaikan sebelum berbagai pengaruh dari luar mengambil alih pembentukan dirinya.

Rasulullah ﷺ. bersabda,

«”Setiap anak terlahir di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari dan Muslim)»

Hadis ini seharusnya membuat setiap orang tua merenung. Anak tidak hanya tumbuh karena bertambahnya usia. Ia tumbuh melalui apa yang dilihat, didengar, dibiasakan, dan ditanamkan kepadanya. Rumah, orang tua, guru, lingkungan, dan kemudian dunia yang lebih luas, semuanya ikut membentuk dirinya.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar, “Anak saya akan menjadi apa ketika dewasa?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Nilai-nilai apa yang sedang saya tanamkan kepadanya hari ini?”

Menanamkan Agama Sejak Dini

Mengajarkan agama kepada anak bukan sekadar tambahan dalam pendidikan. Ia merupakan tanggung jawab orang tua. Rasulullah ﷺ. bersabda,

«”Perintahkan anak kalian untuk shalat ketika berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Baihaqi)»

Perintah ini menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak seharusnya menunggu anak dewasa. Shalat, misalnya, harus diperkenalkan, dibiasakan, dan ditanamkan sejak dini. Sebab, kebiasaan yang dibangun ketika kecil akan menjadi bagian dari karakter ketika dewasa.

Jika seorang anak sejak kecil tidak dibiasakan menjaga shalat, ia dapat tumbuh dengan menganggap ringan kewajiban tersebut. Padahal shalat merupakan kewajiban agung dan salah satu rukun agama. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada apa yang membuat anak berhasil memperoleh pekerjaan, harta, atau kedudukan. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang tahu untuk apa ia hidup dan kepada siapa ia akan kembali.

BACA JUGA: Benarkah Orang Tua Lebih Bangga ke Anak yang Kaya daripada Anak yang Miskin?

Ada pepatah yang mengatakan:

“Mengajar sewaktu anak masih kecil bagaikan memahat di batu. Sebaliknya, mengajar setelah ia besar bagaikan memahat air.”

Masa kecil bukan sekadar masa bermain. Ia adalah masa menanam.

Rasulullah ﷺ. juga bersabda,

«”Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Dia akan memahamkannya tentang agama.” (HR Bukhari dan Muslim)»

Maka, salah satu jasa paling berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anaknya adalah membimbingnya agar memahami agama.

Ajarkan Anak Mencintai Nabi dan Al-Qur’an

Pendidikan agama tidak cukup hanya dengan memberikan perintah dan larangan. Anak juga perlu dibangun kecintaannya kepada sumber-sumber kebaikan.

Dalam sebuah atsar disebutkan,

«”Didiklah anak-anak kalian atas tiga perkara: mencintai nabi kalian, mencintai keluarga beliau, dan membaca Al-Qur’an.”»

Anak juga perlu diperkenalkan kepada sirah Rasulullah ﷺ. sejak dini. Anak-anak menyukai cerita. Karena itu, cerita dapat menjadi pintu masuk yang sangat kuat untuk menanamkan nilai.

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dan sirah Rasulullah ﷺ. bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat keberanian, kesabaran, pengorbanan, keteguhan iman, perjuangan, dan tawakal.

Sa’ad bin Abi Waqqash pernah berkata,

“Dahulu kami mengajari anak-anak kami kisah peperangan Rasulullah ﷺ. sebagaimana kami mengajari mereka ayat Al-Qur’an.”

Betapa dalam metode pendidikan generasi terdahulu. Mereka tidak hanya mengisi kepala anak dengan informasi, tetapi juga memenuhi jiwanya dengan kisah-kisah yang membentuk cara pandang terhadap kehidupan.

https://s.shopee.co.id/BQAMIEKDQ

Nasihati Anak tentang Allah

Selain mengajarkan ilmu dan menceritakan kisah, anak membutuhkan mau’izhah atau nasihat yang menyentuh hati.

Mau’izhah berarti mengingatkan kembali seseorang terhadap sesuatu yang telah diketahuinya agar ia menempuh jalan takwa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Al-Qur’an mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya:

«”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi wejangan kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'” (QS Luqman: 13)»

Perhatikan cara Luqman berbicara. Ia memanggil anaknya dengan penuh kasih: “Wahai anakku.”

Nasihat tentang tauhid tidak disampaikan dengan dingin. Ia disampaikan dengan kasih sayang.

Pernahkah seorang ayah atau ibu duduk bersama anaknya, bukan hanya untuk membicarakan nilai sekolah, jurusan kuliah, pekerjaan, atau masa depan, tetapi juga untuk berbicara tentang Allah?

Kita sering begitu serius memikirkan masa depan dunia anak-anak kita. Kita memikirkan sekolah terbaik, pendidikan terbaik, pekerjaan terbaik, bahkan lingkungan terbaik. Semua itu baik. Namun, jangan sampai kita lupa memikirkan perkara yang jauh lebih panjang daripada masa depan dunia: masa depan akhiratnya.

Anak perlu mendengar dari orang tuanya bahwa Allah adalah tujuan hidupnya, bahwa ketaatan kepada Allah adalah kehormatan, dan bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan.

Wasiat Ya’qub: Pertanyaan tentang Apa yang Disembah

Lihatlah Nabi Ya’qub ketika mendekati ajal. Di antara hal yang ia pastikan kepada anak-anaknya bukanlah berapa banyak harta yang akan mereka miliki, pekerjaan apa yang akan mereka jalani, atau kedudukan apa yang akan mereka capai.

Allah swt. berfirman,

«”Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.'” (QS Al-Baqarah: 133)»

Menjelang kematian, yang menjadi perhatian Ya’qub adalah tauhid anak-anaknya.

Ini merupakan pelajaran besar bagi para orang tua.

Kita tentu boleh bertanya kepada anak:

“Kamu mau menjadi apa?”

Tetapi jangan lupa bertanya:

“Kamu hidup untuk siapa?”

Kita boleh bertanya:

“Kamu ingin kuliah di mana?”

Tetapi jangan lupa bertanya:

“Bagaimana hubunganmu dengan Allah?”

Kita boleh membantu mereka mengejar masa depan dunia, tetapi jangan sampai kita lupa mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang tidak berakhir.

Tanamkan Tawakal Sejak Anak Masih Kecil

Rasulullah ﷺ. sendiri mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan yang sangat mendalam kepada Ibnu Abbas ketika ia masih kecil.

Beliau bersabda,

«”Anakku, aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau membutuhkan pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah…”»

Kemudian Rasulullah ﷺ. mengajarkan bahwa seluruh manusia tidak akan mampu memberikan manfaat atau mudarat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan. (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ. membangun cara berpikir seorang anak.

Beliau tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga kepada siapa hati harus bergantung.

Anak perlu belajar bahwa manusia harus berusaha, tetapi hasil berada di tangan Allah. Ia harus belajar bahwa manusia boleh dicintai, dihormati, dan dimintai bantuan, tetapi ketergantungan tertinggi hanya kepada Allah.

Inilah tawakal yang perlu ditanamkan sejak kecil.

Ajarkan Adab Sebelum Anak Terlambat Belajar

Pendidikan Islam juga tidak berhenti pada akidah dan ibadah. Anak harus dibiasakan dengan adab dalam kehidupan sehari-hari: adab makan dan minum, buang hajat, tidur, bangun, berdoa, berbicara, dan berbagai bentuk akhlak lainnya.

Amr bin Abi Salamah menceritakan bahwa ketika ia makan bersama Rasulullah ﷺ., tangannya bergerak ke berbagai bagian nampan. Rasulullah ﷺ. kemudian bersabda,

«”Wahai anak kecil, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari bagian yang terdekat denganmu.”
(HR Bukhari dan Muslim)»

Nasihat itu sederhana. Namun, justru dari perkara-perkara sederhana itulah karakter terbentuk.

Anak yang terbiasa mengucapkan basmalah akan tumbuh dengan kesadaran bahwa aktivitas sehari-harinya berada dalam pengawasan dan keberkahan Allah. Anak yang dibiasakan dengan adab akan membawa adab itu ketika dewasa.

Karena itu, jangan meremehkan kebiasaan-kebiasaan kecil dalam pendidikan anak.

Ajarkan untuk Apa Ia Diciptakan

Ada satu perkara yang lebih mendasar lagi: seorang anak harus mengetahui tujuan hidupnya.

Ia tidak diciptakan hanya untuk bermain, belajar, bekerja, menikah, memiliki keturunan, mengumpulkan harta, lalu meninggal dunia.

Semua itu hanyalah bagian dari perjalanan hidup, bukan tujuan akhirnya.

Allah swt. berfirman,

«”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS Adz-Dzariyat: 56-58)»

Inilah visi yang harus ditanamkan sejak kecil: hidup memiliki tujuan.

Seorang anak boleh memiliki cita-cita menjadi dokter, pengusaha, ilmuwan, guru, pemimpin, atau profesi lainnya. Namun semua cita-cita itu harus ditempatkan dalam tujuan yang lebih besar: menjadi hamba Allah.

Dengan demikian, profesinya menjadi sarana ibadah, hartanya menjadi sarana kebaikan, ilmunya menjadi sarana kemanfaatan, dan kehidupannya memiliki arah.

Jangan Biarkan Dunia Menjadi Tujuan

Dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Harta harus dicari, keluarga harus dibangun, pendidikan harus diperjuangkan, dan pekerjaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Tetapi semua itu harus ditempatkan pada posisi yang benar.

Allah swt. berfirman,

«”Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, ‘Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezeki.” (QS Al-Jumu’ah: 11)»

Allah juga berfirman,

«”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al-Munafiqun: 9)»

Harta dan anak bukanlah sesuatu yang buruk. Justru keduanya merupakan nikmat dan amanah. Yang menjadi masalah adalah ketika nikmat tersebut berubah menjadi sesuatu yang melalaikan manusia dari Allah.

Karena itu, pendidikan anak bukan sekadar mengajarkan bagaimana mendapatkan dunia, tetapi juga mengajarkan bagaimana agar dunia tidak menguasai hati.

Ibu, Iman
Foto: Islampos AI

Pendidikan Masa Kecil dan Lahirnya Pemimpin

Lihatlah Umar bin Abdul Aziz. Menurut sebagian ahli sejarah, ia disebut sebagai khalifah kelima dari rangkaian Khulafaur-Rasyidin.

Ketika masih kecil, ia pernah terlambat mengikuti shalat berjamaah. Gurunya bertanya,

“Mengapa engkau terlambat shalat berjamaah?”

Ia menjawab bahwa penyisir rambutnya belum selesai menyisir rambutnya hingga iqamah dikumandangkan.

Gurunya kemudian memerintahkan agar rambut Umar dicukur sehingga ia tidak terlambat lagi mengikuti shalat berjamaah.

Kisah ini sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar.

Guru Umar tidak menganggap keterlambatan itu sebagai persoalan kecil yang boleh dibiarkan. Ia memahami bahwa kebiasaan kecil yang dibiarkan dapat menjadi karakter ketika seseorang dewasa.

Kelak, Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah. Keadilan dan kesalehannya dikenang dalam sejarah.

Tentu, keberhasilan seseorang tidak dapat disederhanakan hanya kepada satu faktor. Namun, kisah masa kecilnya menunjukkan betapa pendidikan pada masa awal kehidupan dapat meninggalkan jejak yang sangat dalam.

Apa yang kita anggap sebagai “kebiasaan kecil” hari ini mungkin sedang membentuk manusia besar di masa depan.

Jangan Serahkan Pendidikan Anak kepada Dunia

Kaum salaf dahulu memberikan perhatian besar kepada pendidikan anak-anak mereka. Mereka mencari guru-guru yang baik dan ahli untuk mengajarkan agama, akhlak, ilmu, serta memberikan nasihat yang membentuk kepribadian.

Mereka memahami satu hal yang sering kita lupakan: anak adalah amanah, bukan sekadar anggota keluarga.

Karena itu, mereka tidak sembarangan menyerahkan pendidikan anak kepada siapa pun.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini?

Kita sering begitu berhati-hati memilih sekolah anak. Kita mempertimbangkan kurikulum, fasilitas, biaya, lokasi, bahkan reputasi sekolah. Namun, setelah itu, kita justru membiarkan anak memperoleh sebagian besar nilai, kebiasaan, dan cara pandangnya dari media massa dan media sosial.

Padahal tidak semua yang ditawarkan media adalah pendidikan.

Sebagian besar justru berupa hiburan, kelalaian, dan berbagai pengaruh yang dapat merusak moral apabila diterima tanpa penyaringan.

Anak akhirnya belajar dari siapa saja yang paling sering mendapatkan perhatian mereka.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita sebagai orang tua:

Siapa sebenarnya yang sedang mendidik anak kita?

Apakah kita?

Apakah guru yang baik?

Ataukah layar yang mereka tatap berjam-jam setiap hari?

Anak adalah Amanah yang Sedang Berjalan Menuju Masa Depannya

Anak-anak kita bukan sekadar seseorang yang harus diberi makan, pakaian, pendidikan formal, dan fasilitas kehidupan.

Mereka adalah jiwa yang sedang kita antarkan menuju masa depan.

Setiap nasihat yang kita berikan, setiap kebiasaan yang kita tanamkan, setiap teladan yang kita tunjukkan, bahkan setiap kelalaian yang kita biarkan, semuanya dapat meninggalkan jejak pada diri mereka.

Karena itu, jangan menunggu anak menjadi besar untuk mengajarinya agama.

Jangan menunggu ia dewasa untuk mengenalkan Allah.

Jangan menunggu ia menghadapi masalah untuk mengajarinya tawakal.

Jangan menunggu ia kehilangan arah untuk menjelaskan tujuan hidup.

BACA JUGA:  Mengubah Keingintahuan Anak Menjadi Karya Besar

Dan jangan menunggu dunia membentuk karakternya sebelum kita mulai mendidiknya.

Masa kecil adalah masa menanam.

Tanamlah tauhid sebelum keraguan datang.

Tanamlah cinta kepada Rasulullah sebelum dunia menawarkan banyak tokoh untuk dikagumi.

Tanamlah Al-Qur’an sebelum berbagai suara memenuhi pikirannya.

Tanamlah shalat sebelum kesibukan menguasai waktunya.

Tanamlah adab sebelum kebiasaan buruk mengeras menjadi karakter.

Dan tanamlah kesadaran tentang akhirat sebelum gemerlap dunia membuatnya lupa ke mana ia akan kembali.

Sebab anak yang berada dalam genggaman kita hari ini suatu hari akan berjalan sendiri di muka bumi.

Saat itu, kita tidak lagi dapat mengawasi setiap langkahnya.

Yang dapat menyertainya adalah apa yang telah kita tanamkan di dalam jiwanya.

Maka pendidikan terbaik bukanlah sekadar membuat anak mampu menghadapi dunia.

Pendidikan terbaik adalah membentuk anak agar mampu menghadapi dunia tanpa kehilangan Allah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *