Kenapa Suami Istri Jima Sering Dianjurkan Malam Jum’at?

Jamiatun Hasanah
7 Min Read
Foto: Freepik

MALAM Jumat sering dianggap sebagai malam yang istimewa bagi umat Islam. 

Banyak amalan yang dianjurkan. 

Mulai dari membaca Al-Qur’an. Memperbanyak shalawat. Berdzikir. Berdoa. Sampai mempersiapkan diri untuk sholat Jumat. 

Namun, ada satu hal yang juga sering dibicarakan. 

Yaitu tentang jima atau hubungan suami istri. 

Sebagian masyarakat mengatakan bahwa melakukan jima pada malam Jumat memiliki keutamaan tertentu. 

Lalu, apakah benar? 

Apakah ada hadis Nabi yang menganjurkannya? 

Atau sebenarnya hanya kebiasaan yang berkembang di masyarakat? 

Kapan Itu Malam Jumat? 

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu memahami istilahnya. 

Dalam perhitungan Islam, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam. 

Jadi, malam Jumat dimulai sejak Kamis setelah matahari terbenam sampai menjelang Jumat pagi. 

Karena itu, ketika orang mengatakan “malam Jumat”, biasanya yang dimaksud adalah malam sebelum hari Jumat. 

BACA JUGA:  Apa Saja Perbuatan Haram Saat Suami Istri Jima yang Jarang Disadari?

Apakah Jima Malam Jumat Itu Wajib? 

Jawabannya tidak. 

Jima antara suami dan istri merupakan sesuatu yang halal dalam Islam. 

Namun, tidak ada kewajiban bagi pasangan suami istri untuk melakukan jima khusus pada malam Jumat. 

Jika dilakukan, hukumnya pada dasarnya boleh selama dilakukan dalam pernikahan yang sah dan sesuai dengan ketentuan agama. 

Jika tidak dilakukan, tidak ada dosa. 

Jadi, jangan sampai muncul anggapan bahwa pasangan yang tidak melakukan jima malam Jumat berarti kehilangan kewajiban agama. 

Itu tidak benar. 

Bagaimana dengan Hadis Nabi? 

Ada beberapa riwayat yang sering disebut ketika membahas jima pada hari atau malam Jumat. 

Salah satunya adalah hadis yang menyebutkan keutamaan mandi, berangkat lebih awal ke masjid, dan kemudian melakukan sesuatu yang dalam sebagian riwayat dipahami sebagai hubungan dengan istri. 

Namun, para ulama berbeda dalam menilai dan memahami riwayat-riwayat tersebut. 

Ada riwayat yang dinilai lemah. 

https://s.shopee.co.id/2g93NJRzUO

Karena itu, tidak tepat mengatakan secara mutlak bahwa Rasulullah SAW menetapkan jima malam Jumat sebagai sunnah khusus yang pasti. 

Yang jelas, mandi sebelum sholat Jumat memang memiliki dasar hadis yang kuat. 

Sedangkan mengkhususkan jima malam Jumat sebagai sunnah memiliki pembahasan tersendiri di kalangan ulama. 

Jima dalam Islam Tetap Bernilai Ibadah 

Walaupun tidak ada kewajiban khusus untuk jima malam Jumat, hubungan suami istri tetap memiliki nilai yang baik dalam Islam. 

Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadis riwayat Muslim bahwa hubungan badan yang halal antara suami dan istri dapat bernilai sedekah. 

Para sahabat sempat bertanya bagaimana seseorang bisa mendapatkan pahala dari sesuatu yang berkaitan dengan syahwat. 

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa jika seseorang menyalurkan syahwatnya pada jalan yang haram, ia berdosa. Maka ketika disalurkan melalui jalan yang halal, ia mendapatkan pahala. 

Artinya, jima bukan sesuatu yang dianggap hina dalam Islam. 

Hubungan suami istri justru dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik. 

Bisa Menjadi Bentuk Kasih Sayang 

Jima juga bukan hanya soal kebutuhan biologis. 

Dalam rumah tangga, hubungan suami istri dapat menjadi salah satu bentuk kasih sayang. 

Pasangan bisa merasa lebih dekat. 

Komunikasi emosional juga dapat menjadi lebih baik. 

Hubungan yang sehat antara suami dan istri dapat membantu membangun rasa aman dan kedekatan dalam rumah tangga. 

Tentu saja, jima harus dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. 

Tidak boleh ada paksaan. 

Tidak boleh ada kekerasan. 

Islam mengajarkan agar suami memperlakukan istrinya dengan baik. 

Bagaimana dari Sisi Kesehatan? 

Dari sisi medis, hubungan seksual antara pasangan yang sehat dan dilakukan secara aman dapat memberikan beberapa manfaat. 

Misalnya membantu relaksasi. 

Mendukung kedekatan emosional. 

Dan pada sebagian orang dapat membantu mengurangi stres. 

Namun, manfaat tersebut tidak berarti jima harus dilakukan setiap malam Jumat. 

Kebutuhan seksual setiap pasangan berbeda. 

Ada pasangan yang memiliki frekuensi lebih sering. 

Ada juga yang lebih jarang. 

Keduanya dapat menjadi hal yang wajar selama tidak menimbulkan masalah dalam hubungan dan tetap memperhatikan kondisi kesehatan. 

Jangan Sampai Menjadi Kepercayaan yang Keliru 

Hal yang perlu dihindari adalah menganggap malam Jumat sebagai waktu yang “wajib” untuk melakukan jima. 

Jangan pula menganggap bahwa jima malam Jumat pasti mendatangkan rezeki tertentu atau pahala khusus tanpa dasar yang kuat. 

Dalam masalah agama, kita perlu berhati-hati. 

Tidak semua kebiasaan masyarakat bisa disebut sebagai sunnah Nabi. 

Sesuatu yang halal belum tentu memiliki keutamaan khusus pada waktu tertentu. 

Inilah pentingnya membedakan antara hukum dasar jima yang halal dan klaim tentang keutamaan khusus malam Jumat. 

Jima
Foto: Umar Faqih | Islampos

Jadi, Boleh Dilakukan atau Tidak? 

Tentu boleh. 

Selama dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. 

Dilakukan dengan cara yang baik. 

Saling rela. 

Tidak membahayakan. 

Dan tidak dilakukan pada kondisi yang memang dilarang syariat, seperti ketika istri sedang haid atau nifas. 

Jika dilakukan malam Jumat, silakan. 

Jika tidak dilakukan, juga tidak masalah. 

Tidak perlu merasa bersalah. 

BACA JUGA: Bolehkah Suami Istri Jima dengan Suara Berisik?

Kesimpulan 

Jadi, kenapa jima sering dianjurkan pada malam Jumat? 

Sebenarnya, tidak tepat jika dikatakan bahwa jima malam Jumat merupakan kewajiban atau sunnah yang pasti berdasarkan hadis sahih. 

Jima antara suami dan istri pada dasarnya adalah sesuatu yang halal. 

Bahkan dapat bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik. 

Ada riwayat yang sering dijadikan pembahasan tentang jima pada hari Jumat, tetapi kualitas dan pemahamannya menjadi pembahasan para ulama. 

Karena itu, jangan menjadikan jima malam Jumat sebagai aturan yang wajib. 

Yang lebih penting adalah menjaga keharmonisan rumah tangga. 

Saling menyayangi. 

Saling menghormati. 

Dan menjalankan hubungan suami istri dengan cara yang diridai Allah. 

Sebab, dalam Islam, sesuatu yang halal bisa menjadi ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar.  []

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *