DI zaman media sosial, anak muda bisa mendapatkan informasi tentang hampir segala hal hanya dalam hitungan detik. Mereka mengikuti berbagai influencer yang setiap hari muncul di TikTok, Instagram, YouTube, dan platform lainnya, sehingga apa yang disampaikan seorang influencer terkadang terasa lebih dekat daripada nasihat yang disampaikan oleh ustaz. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya lebih mudah menerima perkataan tokoh internet daripada penjelasan ulama atau guru agama.
Fenomena ini sebenarnya tidak selalu berarti anak muda membenci ustaz atau tidak menyukai ajaran agama. Salah satu penyebabnya adalah cara penyampaian informasi di media sosial yang sangat cepat, ringan, dan sesuai dengan kebiasaan mereka sehari-hari. Influencer biasanya berbicara dengan bahasa yang sederhana, menggunakan contoh kehidupan nyata, serta membahas persoalan yang sedang ramai sehingga mudah menarik perhatian.
BACA JUGA: Apa Penyebab Anak Tak Mau Mengurus Orang Tua yang Sedang Sakit?
Sementara itu, sebagian kajian agama mungkin disampaikan dengan bahasa yang lebih formal dan membutuhkan konsentrasi lebih panjang. Bagi anak muda yang terbiasa dengan video berdurasi pendek, penjelasan agama yang membutuhkan waktu lama terkadang terasa kurang menarik. Akibatnya, mereka bisa lebih cepat mempercayai seseorang yang mampu menyampaikan pendapat dalam satu menit dibandingkan mendengarkan penjelasan ustaz yang disertai dalil dan pembahasan yang lebih panjang.
Masalahnya, popularitas tidak selalu menunjukkan kebenaran. Seseorang bisa memiliki jutaan pengikut, tetapi jumlah pengikut tersebut bukan bukti bahwa semua perkataannya benar. Dalam urusan agama, ukuran kebenaran bukanlah jumlah penonton, jumlah komentar, atau banyaknya orang yang memberikan tanda suka, melainkan kesesuaian perkataan tersebut dengan Al-Qur’an, Sunnah, serta penjelasan para ulama yang memiliki ilmu.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 43 agar orang yang tidak mengetahui bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan. Ayat ini memberikan pelajaran bahwa ketika seseorang tidak mengetahui suatu perkara, ia seharusnya mencari penjelasan kepada pihak yang memang memiliki ilmu. Dalam persoalan agama, sikap seperti ini sangat penting agar seseorang tidak menjadikan popularitas sebagai pengganti keilmuan.
Namun, bukan berarti semua influencer harus dicurigai atau dianggap tidak bisa memberikan manfaat. Ada banyak pendakwah, ustaz, akademisi, dan tokoh yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan ilmu dengan cara yang menarik dan mudah dipahami anak muda. Yang perlu dilakukan adalah membedakan antara orang yang memang memiliki kapasitas dalam suatu bidang dengan orang yang sekadar terkenal karena kontennya.
Seorang influencer mungkin sangat ahli dalam bidang olahraga, bisnis, hiburan, kecantikan, teknologi, atau gaya hidup. Keahliannya di bidang tersebut tentu patut dihargai, tetapi tidak otomatis membuat semua pendapatnya tentang agama menjadi benar. Begitu juga seorang ustaz tidak otomatis menjadi ahli dalam semua persoalan hanya karena ia pandai berbicara, sehingga setiap informasi tetap perlu dilihat berdasarkan ilmu dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu persoalan yang sering terjadi adalah anak muda menerima potongan video tanpa mengetahui konteks pembicaraan secara keseluruhan. Sebuah pernyataan yang sebenarnya memiliki penjelasan panjang bisa dipotong menjadi beberapa detik sehingga terdengar sangat meyakinkan. Jika informasi agama diterima dengan cara seperti ini, seseorang bisa mengambil kesimpulan yang keliru hanya karena terpikat oleh cara penyampaian yang menarik.
Algoritma media sosial juga turut memengaruhi kebiasaan tersebut. Ketika seseorang sering menonton konten dari seorang influencer, platform akan terus memberikan konten serupa sehingga pandangan orang tersebut semakin sering muncul di hadapannya. Lama-kelamaan, sesuatu yang sering terlihat dapat terasa benar hanya karena sudah sangat familiar, padahal frekuensi kemunculan tidak menentukan kebenaran.
Karena itu, anak muda perlu memiliki kemampuan untuk melakukan tabayyun dan memeriksa informasi. Ketika menemukan sebuah klaim agama yang menarik, jangan langsung membagikannya hanya karena disampaikan oleh tokoh yang disukai. Periksa siapa yang menyampaikan, apa sumbernya, bagaimana penjelasan ulama mengenai masalah tersebut, dan apakah ada dalil yang mendukungnya.
Orang tua dan para pendidik juga memiliki peran penting dalam menghadapi fenomena ini. Melarang anak menggunakan media sosial saja tidak cukup jika mereka tidak diberikan kemampuan untuk memilah informasi. Anak justru perlu diajarkan bagaimana menggunakan media sosial dengan cerdas, termasuk membedakan konten hiburan, opini pribadi, informasi ilmiah, dan fatwa atau penjelasan keagamaan.
Para ustaz dan lembaga dakwah pun perlu memahami perubahan cara anak muda mengonsumsi informasi. Dakwah yang benar tidak harus selalu disampaikan dengan cara yang kaku dan sulit dipahami. Selama substansi agama tetap dijaga, penggunaan bahasa yang sederhana, visual yang menarik, dan media sosial sebagai sarana dakwah justru dapat membantu ilmu agama menjangkau lebih banyak generasi muda.
Di sisi lain, anak muda juga sebaiknya tidak membuat kesimpulan bahwa ustaz itu kuno hanya karena gaya penyampaiannya berbeda dengan influencer. Ilmu agama membutuhkan kehati-hatian karena kesalahan dalam memahami persoalan tertentu dapat berpengaruh terhadap ibadah dan kehidupan seseorang. Justru karena itulah, anak muda perlu belajar membangun kebiasaan bertanya kepada orang yang benar-benar memiliki ilmu ketika menghadapi persoalan agama.
Ada pula alasan psikologis mengapa influencer terasa lebih dekat. Influencer sering membagikan kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi, kegagalan, keberhasilan, bahkan masalah keluarga sehingga pengikut merasa mengenalnya secara personal. Kedekatan semacam ini dapat membuat seseorang memberikan kepercayaan yang sangat besar, bahkan sampai menganggap pendapat idolanya sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.
Padahal, mengagumi seseorang tidak berarti harus mengikuti semua perkataannya. Seorang muslim tetap harus menempatkan kebenaran di atas figur yang disukai. Jika seorang influencer mengatakan sesuatu yang benar, kita boleh mengambil manfaat dari perkataannya, tetapi jika ia menyampaikan sesuatu yang keliru dalam urusan agama, kita tidak boleh menerimanya hanya karena memiliki banyak pengikut.
BACA JUGA: Ketika Hewan Menjadi Guru Akhlak dalam Peradaban Islam
Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata tentang memilih percaya kepada influencer atau ustaz. Persoalan yang lebih penting adalah belajar membangun standar dalam menerima informasi. Anak muda perlu memahami bahwa orang yang paling terkenal belum tentu paling berilmu, orang yang paling banyak ditonton belum tentu paling benar, dan orang yang berbicara paling meyakinkan belum tentu memiliki dasar ilmu yang kuat.
Media sosial sebenarnya bisa menjadi sarana yang sangat baik untuk mendekatkan generasi muda kepada ilmu agama. Namun, penggunaannya harus disertai sikap kritis, tabayyun, dan kemauan untuk belajar dari sumber yang terpercaya. Jangan sampai jumlah followers menjadi ukuran kebenaran, karena dalam Islam kebenaran tidak ditentukan oleh popularitas, melainkan oleh dalil dan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

