DALAM rumah tangga, masalah keuangan sering menjadi salah satu ujian yang paling berat. Ada istri yang merasa kebutuhan keluarga terus meningkat, sementara penghasilan suami terasa tidak pernah cukup untuk memenuhi semuanya. Dari sinilah muncul keluhan seperti, “Kenapa gaji kamu selalu kurang?” atau “Sampai kapan kita hidup seperti ini?” Pertanyaannya, apakah seorang istri berdosa ketika mengeluhkan kondisi ekonomi keluarga kepada suaminya?
Pada dasarnya, mengungkapkan kesulitan kepada pasangan tidak otomatis menjadi dosa. Suami dan istri justru perlu saling terbuka mengenai kebutuhan rumah tangga, kemampuan ekonomi, dan kesulitan yang sedang dihadapi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keluhan tersebut disampaikan, apakah menjadi pembicaraan untuk mencari solusi atau justru berubah menjadi penghinaan dan merendahkan pasangan.
BACA JUGA: Anak Ga Mau Ngaji, Orang Tua Boleh Mukul?
Dalam Islam, suami memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak sesuai dengan kemampuan serta kebutuhan yang patut. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Talaq ayat 7 bahwa orang yang mampu hendaknya memberikan nafkah menurut kemampuannya, sedangkan orang yang rezekinya terbatas memberikan nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya. Ayat ini menunjukkan bahwa kemampuan ekonomi juga menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai nafkah.
Karena itu, istri boleh menyampaikan bahwa kebutuhan tertentu belum terpenuhi. Misalnya, biaya sekolah anak meningkat, kebutuhan makanan bertambah, atau ada tagihan penting yang belum dapat dibayar. Menyampaikan kondisi tersebut secara jujur berbeda dengan mencela suami karena penghasilannya kecil.
Masalahnya sering muncul ketika keluhan berubah menjadi perbandingan. Seorang istri mungkin melihat suami temannya mampu membeli rumah, mobil, atau membawa keluarga berlibur, kemudian membandingkannya dengan kondisi suaminya sendiri. Kalimat seperti, “Suami orang lain bisa memberikan ini dan itu, kenapa kamu tidak bisa?” dapat melukai harga diri pasangan dan membuat pembicaraan tentang keuangan semakin sulit.
Padahal, setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Besarnya gaji bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang suami dalam menjalankan tanggung jawabnya. Ada suami yang penghasilannya sederhana tetapi berusaha keras, jujur, tidak malas, dan menggunakan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan keluarga.
Sebaliknya, ada pula kondisi ketika suami sebenarnya mampu tetapi tidak mau bertanggung jawab. Misalnya, penghasilannya digunakan untuk kesenangan pribadi sementara kebutuhan dasar istri dan anak diabaikan. Dalam keadaan seperti ini, persoalannya bukan sekadar gaji yang kecil, melainkan sikap terhadap kewajiban nafkah yang perlu dibicarakan secara serius.
Istri juga perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan makanan, tempat tinggal, pakaian yang layak, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya tentu harus diperhatikan. Sementara itu, keinginan seperti barang bermerek, liburan mahal, atau gaya hidup yang mengikuti orang lain tidak selalu harus dipenuhi ketika kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan.
Namun, suami juga tidak seharusnya menggunakan alasan “yang penting sudah memberi nafkah” untuk menutup semua pembicaraan. Jika penghasilan memang tidak mencukupi, suami dan istri perlu duduk bersama menghitung pemasukan serta pengeluaran secara realistis. Dari sana mereka bisa menentukan mana kebutuhan yang harus diprioritaskan, mana yang dapat dikurangi, dan apakah diperlukan sumber penghasilan tambahan.
Islam juga mengajarkan agar pasangan saling membantu dalam menghadapi kesulitan. Jika istri memiliki penghasilan, membantu kebutuhan keluarga dapat menjadi bentuk kerja sama selama dilakukan berdasarkan kesepakatan yang baik. Tetapi bantuan tersebut sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk merendahkan suami atau mengungkit setiap rupiah yang telah dikeluarkan.
Begitu pula suami seharusnya menghargai usaha istri jika ia ikut membantu ekonomi keluarga. Jangan sampai suami menganggap bahwa seluruh urusan finansial adalah tanggung jawabnya seorang diri tetapi pada saat yang sama melarang istri menyampaikan kondisi keuangan yang sebenarnya. Rumah tangga akan lebih sehat ketika masalah ekonomi dibicarakan sebagai masalah bersama, bukan sebagai arena untuk mencari siapa yang paling bersalah.
Keluhan juga bisa menjadi tanda bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Terkadang seorang istri bukan hanya menginginkan lebih banyak uang, tetapi ingin merasa bahwa suaminya berusaha memperbaiki keadaan. Karena itu, suami perlu mendengarkan keluhan tanpa langsung menganggap istrinya tidak bersyukur, sementara istri juga perlu menyampaikan perasaannya tanpa merendahkan perjuangan suami.
Jika kondisi ekonomi sedang sulit, pasangan dapat membuat anggaran sederhana. Catat pemasukan, kebutuhan pokok, utang yang harus dibayar, biaya pendidikan, transportasi, dan kebutuhan lain yang benar-benar penting. Setelah itu, sepakati bersama batas pengeluaran agar masalah “gaji tidak pernah cukup” dapat dilihat berdasarkan angka, bukan hanya berdasarkan perasaan.
Perlu diingat pula bahwa bersyukur bukan berarti tidak boleh berusaha memperbaiki keadaan. Seorang Muslim boleh merasa lelah, khawatir, dan ingin memiliki kehidupan yang lebih baik selama perasaan tersebut tidak membuatnya mengingkari nikmat Allah atau melakukan sesuatu yang haram. Justru rasa syukur seharusnya berjalan bersama ikhtiar untuk mencari jalan keluar.
BACA JUGA: Anak Tidak Mau Ngaji Tapi Betah Main Game, Bagaimana?
Jadi, bolehkah istri mengeluh karena gaji suami tidak pernah cukup? Boleh menyampaikan keluhan dan kesulitan, terutama jika tujuannya untuk mencari solusi dan memperbaiki kondisi keluarga. Yang harus dihindari adalah keluhan yang berubah menjadi penghinaan, mencela suami, terus-menerus membandingkan dengan orang lain, atau menuntut sesuatu di luar kemampuan tanpa mempertimbangkan keadaan keluarga.
Rumah tangga bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling banyak memberikan uang, tetapi tempat dua orang saling menghadapi ujian. Ketika penghasilan suami terbatas, istri dapat menyampaikan kebutuhan dengan bijak, sementara suami perlu tetap berusaha sesuai kemampuannya. Jika keduanya mampu menjaga komunikasi, mengatur keuangan, dan saling menghargai, kesulitan ekonomi dapat menjadi ujian yang dihadapi bersama, bukan alasan untuk saling menjatuhkan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

