Mengapa Ada Orang Tidak Pernah Shalat Tapi Hidupnya Terlihat Sangat Beruntung?

Yudi
By Yudi
7 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

PERNAHKAH kita bertanya-tanya, mengapa ada orang yang terlihat tidak pernah shalat tetapi hidupnya justru penuh kemudahan? Kariernya bagus, hartanya banyak, keluarganya terlihat bahagia, bahkan berbagai keinginannya seperti mudah tercapai. Sementara itu, ada orang yang berusaha menjaga shalat, rajin beribadah, tetapi kehidupannya masih dipenuhi ujian, kesulitan ekonomi, atau masalah keluarga.

Pertanyaan seperti ini sebenarnya muncul karena kita sering mengukur keberuntungan hanya dari apa yang terlihat oleh mata. Rumah bagus, kendaraan mewah, pekerjaan dengan penghasilan tinggi, kesehatan, dan popularitas sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang mendapatkan kehidupan yang baik. Padahal dalam Islam, banyaknya harta dan kemudahan hidup tidak selalu menunjukkan bahwa Allah meridai seluruh keadaan seseorang, sebagaimana kesulitan hidup juga tidak otomatis berarti Allah sedang membenci seseorang.

BACA JUGA: Bolehkah Shalat Isya di Tengah Malam?

Shalat sendiri memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Shalat bukan sekadar aktivitas yang dilakukan agar seseorang mendapatkan rezeki lebih banyak atau kehidupannya selalu lancar, tetapi merupakan kewajiban dan bentuk penghambaan seorang Muslim kepada Allah. Karena itu, ketika seseorang meninggalkan shalat tetapi mendapatkan banyak kenikmatan dunia, keadaan tersebut tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menganggap bahwa meninggalkan shalat adalah sesuatu yang menguntungkan.

Kita juga perlu memahami bahwa dunia memang diberikan kepada manusia dengan keadaan yang berbeda-beda. Ada orang yang mendapatkan kekayaan meskipun tidak banyak beribadah, sementara orang lain yang taat justru hidup sederhana. Ada yang diberi kesehatan, jabatan, dan popularitas, sedangkan orang yang saleh harus menghadapi berbagai kesulitan. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan dunia dan tidak bisa dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan kedudukan seseorang di hadapan Allah.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sementara dibandingkan kehidupan akhirat. Dalam Surah Ali Imran ayat 185 disebutkan bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. Artinya, ukuran keberhasilan seorang manusia tidak berhenti pada apa yang berhasil dikumpulkannya selama hidup di dunia.

Karena itu, seseorang yang memiliki banyak harta tetapi meninggalkan kewajiban kepada Allah tidak seharusnya membuat kita merasa bahwa dirinya pasti lebih beruntung. Kita juga tidak boleh terburu-buru memastikan bahwa segala kesenangan yang dimilikinya merupakan tanda keridaan Allah. Hanya Allah yang mengetahui keadaan hati, amal, ujian, dan akhir kehidupan seseorang.

Dalam ajaran Islam terdapat pula konsep istidraj, yaitu ketika seseorang terus mendapatkan kenikmatan sementara dirinya semakin jauh dari Allah, lalu kenikmatan tersebut justru menjadi jalan menuju kebinasaan jika tidak disikapi dengan benar. Konsep ini sering dikaitkan dengan peringatan dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang ketika melupakan peringatan Allah, dibukakan berbagai pintu kesenangan, kemudian mereka mendapatkan akibat dari perbuatannya. Namun, kita harus berhati-hati menggunakan istilah istidraj kepada orang tertentu karena kita tidak mengetahui keadaan batin dan akhir kehidupannya.

https://s.shopee.co.id/gODiEsGCE

Selain itu, jangan sampai kita membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain hanya berdasarkan tampilan luar. Kita mungkin melihat seseorang memiliki mobil baru, rumah besar, bisnis sukses, dan kehidupan keluarga yang tampak harmonis, tetapi kita tidak mengetahui persoalan yang sedang dia hadapi. Sebaliknya, seseorang yang terlihat sederhana dan sering mengalami kesulitan belum tentu berada dalam keadaan buruk di hadapan Allah.

Ujian juga tidak selalu berbentuk kesulitan. Kekayaan, kesehatan, jabatan, pasangan, anak, dan popularitas semuanya dapat menjadi ujian bagi manusia. Orang yang memiliki banyak harta diuji dengan bagaimana ia mendapatkan dan membelanjakannya, sedangkan orang yang hidup kekurangan diuji dengan kesabaran, ikhtiar, dan bagaimana ia menjaga dirinya dari perbuatan yang haram.

Hal yang paling penting adalah tidak menjadikan rezeki dunia sebagai pengganti kedekatan kepada Allah. Jika seseorang mendapatkan kekayaan, seharusnya kekayaan tersebut membuatnya semakin bersyukur, semakin rajin beribadah, dan semakin banyak membantu orang lain. Begitu pula ketika seseorang menghadapi kesulitan, ia tetap perlu berusaha sambil menjaga shalat dan memohon pertolongan kepada Allah.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak pernah shalat tetapi hidupnya terlihat sangat beruntung? Jawabannya, jangan jadikan keadaan tersebut sebagai ukuran kebenaran atau kesalahan dalam beribadah. Shalat tetap merupakan kewajiban seorang Muslim, sementara keberhasilan duniawi merupakan bagian dari rezeki dan ujian yang diberikan Allah kepada manusia dengan kadar yang berbeda-beda.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap shalat. Jangan sampai kita berpikir, “Saya sudah shalat, mengapa rezeki saya belum sebanyak dia?” karena shalat bukan transaksi yang membuat seseorang wajib mendapatkan kekayaan tertentu. Seorang Muslim menjalankan shalat karena Allah memang memerintahkannya, sedangkan urusan rezeki, bentuknya, waktunya, dan kadarnya berada dalam ketetapan Allah.

Bisa jadi seseorang yang hidup sederhana justru mendapatkan ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan uang. Bisa jadi pula orang yang memiliki banyak harta sedang menghadapi ujian yang berat dalam kehidupannya. Oleh karena itu, daripada sibuk menghitung keberuntungan orang lain, lebih baik kita memperbaiki hubungan kita sendiri dengan Allah dan memastikan kewajiban yang menjadi tanggung jawab kita tidak ditinggalkan.

BACA JUGA: Boleh Gak Shalat Istisqa Dilakukan di Rumah Masing-masing?

Pada akhirnya, dunia bukanlah tempat untuk menentukan siapa yang benar-benar menang dan siapa yang benar-benar kalah. Kekayaan, jabatan, rumah, kendaraan, dan popularitas akan berakhir ketika kehidupan manusia berakhir, sedangkan amal akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban di hadapan Allah. Maka, ketika melihat seseorang yang tidak shalat tetapi kehidupannya tampak sangat sukses, jangan sampai kita iri kepada keadaan tersebut hingga meninggalkan kewajiban yang justru menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.

Jika saat ini kita merasa hidup belum seberuntung orang lain meskipun sudah berusaha beribadah, jangan langsung menganggap bahwa Allah tidak menyayangi kita. Teruslah shalat, berdoa, bekerja, dan berusaha memperbaiki kehidupan dengan cara yang halal. Sebab keberuntungan seorang Muslim tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang berhasil ia miliki di dunia, tetapi juga dari apakah kehidupannya membawanya semakin dekat kepada Allah dan mendapatkan keselamatan di akhirat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *