SALAH satu pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan seorang Muslim adalah, jika semua takdir sudah ditentukan oleh Allah, lalu untuk apa kita masih harus berusaha? Pertanyaan ini muncul ketika seseorang mengalami kegagalan, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, atau menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Sebagian orang bahkan berpikir bahwa jika hasil akhirnya sudah ditetapkan, manusia cukup menunggu tanpa perlu melakukan banyak usaha.
Dalam Islam, keyakinan terhadap takdir tidak berarti manusia diperintahkan untuk meninggalkan usaha. Allah mengetahui dan menetapkan segala sesuatu, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk melakukan ikhtiar sesuai kemampuan yang dimilikinya. Karena itu, percaya kepada takdir dan berusaha bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan berjalan bersama dalam kehidupan seorang Muslim.
BACA JUGA: Rahasia Takdir Ilahi: yang Dibenci pun Menjadi Jalan Kebaikan
Nabi Muhammad ﷺ juga mengajarkan pentingnya mengambil sebab dan kemudian bertawakal kepada Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, terdapat nasihat untuk mengikat unta terlebih dahulu kemudian bertawakal kepada Allah. Pesan tersebut menggambarkan bahwa tawakal bukan berarti membiarkan sesuatu tanpa usaha, tetapi melakukan langkah yang mampu dilakukan kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Bayangkan seseorang yang sedang mencari pekerjaan tetapi berkata, “Kalau memang rezeki saya sudah ditentukan, saya tidak perlu melamar ke mana-mana.” Cara berpikir seperti ini keliru jika dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban berusaha. Bisa jadi Allah menetapkan rezekinya melalui pekerjaan yang didapat setelah ia mengirim lamaran, mengikuti wawancara, belajar keterampilan baru, dan terus mencoba meskipun beberapa kali mengalami penolakan.
Hal yang sama berlaku dalam urusan kesehatan. Ketika seseorang sakit, keyakinan bahwa hidup dan mati berada dalam ketetapan Allah bukan alasan untuk menolak pengobatan atau mengabaikan kesehatan. Berobat, menjaga pola hidup, beristirahat, dan berkonsultasi dengan tenaga medis merupakan bagian dari ikhtiar, sedangkan kesembuhan pada akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.
Dalam urusan ibadah pun manusia diperintahkan untuk berusaha. Seseorang tidak boleh mengatakan bahwa jika Allah sudah menakdirkannya menjadi orang baik, maka ia tidak perlu shalat, belajar agama, atau menjauhi dosa. Justru usaha manusia dalam menaati perintah Allah merupakan bagian dari kehidupan yang telah Allah kehendaki dan menjadi tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan.
Lalu bagaimana dengan orang yang sudah berusaha keras tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan? Di sinilah keimanan kepada takdir memiliki peran penting. Seorang Muslim memahami bahwa tugas manusia adalah berusaha dengan cara yang benar, sedangkan hasil akhir tidak selalu dapat dikendalikan oleh manusia.
Misalnya seseorang sudah bekerja dengan sungguh-sungguh tetapi bisnisnya mengalami kerugian. Ia tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa semua usahanya sia-sia karena hasilnya tidak sesuai keinginan. Ia dapat mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, belajar dari pengalaman, kemudian mencoba kembali jika memang masih memiliki kesempatan.
Keimanan kepada takdir juga membantu manusia menghadapi keberhasilan dengan sikap yang benar. Ketika mendapatkan pekerjaan bagus, memiliki harta banyak, atau berhasil mencapai cita-cita, seorang Muslim tidak seharusnya merasa bahwa semua itu semata-mata karena kemampuan dirinya sendiri. Usaha memang dilakukan oleh manusia, tetapi kemampuan, kesempatan, kesehatan, dan berbagai sebab yang mendukung keberhasilan juga merupakan nikmat dari Allah.
Sebaliknya, ketika mengalami kegagalan, seseorang tidak perlu tenggelam dalam keputusasaan. Kegagalan dapat menjadi ujian, pelajaran, atau jalan menuju sesuatu yang belum diketahui manusia. Namun, menyebut semua kegagalan sebagai “pasti ada hikmahnya” juga tidak berarti kita harus berhenti mengevaluasi diri, karena bisa saja kegagalan terjadi akibat keputusan yang kurang tepat dan perlu diperbaiki.
Takdir juga tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan dosa. Seseorang tidak bisa berkata, “Saya berbuat maksiat karena memang sudah ditakdirkan,” lalu menganggap dirinya tidak bertanggung jawab. Sebelum melakukan perbuatan, manusia memiliki pilihan dan kemampuan untuk mempertimbangkan apakah tindakan tersebut benar atau salah, sehingga alasan takdir tidak menghapus kewajiban untuk menaati Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap yang tepat adalah menggabungkan ikhtiar, doa, dan tawakal. Ikhtiar berarti melakukan usaha yang halal dan masuk akal, doa menunjukkan ketergantungan kepada Allah, sedangkan tawakal berarti menyerahkan hasil kepada-Nya setelah melakukan usaha. Ketiganya membuat seorang Muslim tidak mudah sombong ketika berhasil dan tidak mudah putus asa ketika mengalami kegagalan.
BACA JUGA: Dari Air yang Ditimba, Takdir Jodoh Nabi Musa pun Tiba
Karena itu, pertanyaan “kalau takdir sudah ditentukan, mengapa harus berusaha?” sebenarnya dapat dijawab dengan memahami bahwa manusia tidak mengetahui takdir yang akan terjadi kepadanya. Kita tidak tahu apakah usaha hari ini akan menghasilkan keberhasilan atau justru membawa kita kepada pengalaman yang berbeda. Yang kita ketahui adalah bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan mempertanggungjawabkan pilihan serta perbuatannya.
Pada akhirnya, percaya kepada takdir seharusnya membuat seorang Muslim lebih tenang, bukan lebih malas. Kita berusaha sebaik mungkin dengan cara yang halal, berdoa meminta pertolongan Allah, kemudian menerima hasil yang telah Allah tetapkan dengan lapang dada. Jika berhasil, kita bersyukur; jika gagal, kita mengevaluasi usaha dan tetap bersabar tanpa kehilangan harapan kepada Allah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

