SHALAT punya waktu yang sudah ditentukan. Bukan seperti pekerjaan rumah yang bisa dikerjakan nanti kalau sudah mood.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari, rasa malas kadang datang tanpa diundang. Azan sudah terdengar, tetapi tubuh terasa berat. Hati berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.”
Masalahnya, “nanti” kadang berubah menjadi terlalu nanti. Akhirnya, shalat dikerjakan menjelang habis waktunya. Bahkan ada yang sengaja menundanya sampai waktu shalat hampir berakhir.
Lantas, apakah boleh mengakhirkan shalat hanya karena malas?
BACA JUGA: Apakah Boleh Berlari ke Masjid agar Tidak Tertinggal Rakaat Shalat?
Shalat Memiliki Waktu yang Ditentukan
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat tidak hanya diperintahkan untuk dikerjakan, tetapi juga memiliki ketentuan waktu.
Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya sengaja menunda shalat tanpa alasan yang dibenarkan syariat.
Misalnya, azan Zuhur sudah berkumandang. Seseorang sebenarnya bisa segera berwudhu dan shalat, tetapi ia memilih bermain ponsel terlebih dahulu. Kemudian menonton video. Setelah itu makan. Lalu berkata, “Nanti saja, masih panjang waktunya.”
Jika kebiasaan seperti ini terus dilakukan, rasa malas bisa menjadi penghalang serius antara seseorang dan shalatnya.
Bagaimana Jika Masih dalam Waktu Shalat?
Perlu dibedakan antara mengakhirkan shalat tetapi masih dalam waktunya dan membiarkan waktu shalat sampai habis.
Jika seseorang mengakhirkan shalat dan tetap menunaikannya sebelum waktunya berakhir, shalatnya tidak otomatis menjadi tidak sah hanya karena dikerjakan di bagian akhir waktu.
Namun, sengaja menjadikan rasa malas sebagai alasan untuk terus menunda shalat bukanlah sikap yang sepatutnya dimiliki seorang Muslim.
Terlebih jika penundaan tersebut membuat seseorang terbiasa shalat di ujung waktu dan selalu berada dalam risiko kehilangan waktu shalat.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan pentingnya menjaga shalat pada waktunya. Ketika ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan besarnya perhatian Islam terhadap pelaksanaan shalat sesuai waktunya.
Jangan Menunggu Semangat untuk Shalat
Salah satu jebakan rasa malas adalah menunggu semangat datang.
“Kalau sudah agak segar, saya shalat.”
“Kalau pekerjaan selesai, saya shalat.”
“Kalau sudah tidak ngantuk, saya shalat.”
Padahal, shalat bukan ibadah yang hanya dilakukan ketika hati sedang bersemangat.
Justru shalat adalah kewajiban yang harus dijaga dalam keadaan lapang maupun sibuk, sedang bersemangat maupun sedang malas.
Kalau menunggu mood bagus untuk shalat, bisa-bisa mood-nya tidak pernah datang.
Karena itu, ketika waktu shalat tiba, biasakan segera mengambil wudhu dan berdiri menghadap Allah. Jangan terlalu banyak bernegosiasi dengan rasa malas.
Bagaimana Jika Sengaja Sampai Keluar Waktu?
Ini persoalannya jauh lebih serius.
Jika seseorang sengaja menunda-nunda shalat karena malas hingga waktunya habis, maka ia telah meninggalkan kewajiban yang waktunya telah ditentukan. Perbuatan tersebut merupakan dosa besar dan tidak boleh dianggap sebagai perkara ringan.
Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang menyia-nyiakan shalat, “Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti keinginan syahwat, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59).
Karena itu, jangan membiasakan diri berada di batas akhir waktu shalat hanya karena malas.
BACA JUGA: Apakah Boleh Menegur Orang yang Sedang Shalat?
Lawan Malas dengan Segera Berdiri
Rasa malas mungkin datang. Itu manusiawi.
Tetapi jangan menjadikannya alasan untuk meremehkan shalat.
Ketika azan terdengar, berhentilah sejenak dari aktivitas. Letakkan ponsel. Tinggalkan pekerjaan yang bisa ditunda. Ambil wudhu dan tunaikan shalat.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati akan menjadi kuat dengan ketaatan dan menjadi lemah ketika mengikuti hawa nafsu.
Shalat tidak membutuhkan kita menunggu menjadi sempurna. Kita justru membutuhkan shalat agar hati menjadi lebih baik.
Jadi, boleh saja seseorang mengerjakan shalat di akhir waktunya selama masih berada dalam waktu yang ditentukan, tetapi sengaja mengakhirkannya hanya karena malas bukan kebiasaan yang patut dipelihara.
Jangan sampai kita begitu mudah menyediakan waktu untuk dunia, tetapi selalu meminta “sebentar lagi” ketika Allah memanggil kita melalui azan.[]
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

