GORENGAN memang menjadi salah satu makanan yang sangat mudah ditemukan dan digemari banyak orang. Harganya relatif murah, rasanya gurih, teksturnya renyah, dan praktis disantap saat sarapan sebelum beraktivitas. Namun, kalau gorengan menjadi menu sarapan setiap hari, apalagi dalam jumlah banyak dan jarang disertai makanan bergizi lainnya, kebiasaan ini bisa membawa sejumlah dampak kurang baik bagi kesehatan.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak dan kalori pada gorengan. Proses menggoreng membuat makanan menyerap minyak, sehingga kandungan kalorinya dapat meningkat dibandingkan makanan yang dimasak dengan cara direbus atau dikukus. Jika seseorang setiap pagi mengonsumsi beberapa gorengan dan sepanjang hari juga mendapatkan banyak kalori dari makanan lain, asupan energi yang berlebihan dapat menyebabkan berat badan meningkat secara perlahan.
BACA JUGA: Buka Puasa Makan Gorengan dan Minuman Es Manis, Gimana?
Masalahnya sering kali tidak terasa dalam waktu singkat. Seseorang mungkin makan gorengan setiap pagi selama berbulan-bulan tanpa merasakan keluhan berarti. Namun, apabila pola makan tersebut membuat total asupan kalori, lemak jenuh, garam, dan gula menjadi terlalu tinggi, dampaknya dapat muncul dalam jangka panjang, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik dan pola makan yang sehat.
Sarapan dengan gorengan juga belum tentu memberikan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk memulai aktivitas. Sebuah bakwan, tahu isi, risol, atau tempe goreng memang dapat memberikan energi, tetapi kebutuhan tubuh bukan hanya energi. Tubuh juga membutuhkan protein yang cukup, serat, vitamin, mineral, serta berbagai zat gizi lainnya agar dapat bekerja secara optimal.
Jika gorengan menjadi satu-satunya menu sarapan, seseorang bisa saja merasa kenyang tetapi belum tentu mendapatkan komposisi nutrisi yang seimbang. Kondisi ini berbeda dengan sarapan yang mengombinasikan sumber karbohidrat, protein, sayur atau buah, dan sumber lemak yang lebih sehat. Karena itu, persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak makan gorengan”, tetapi seberapa sering, seberapa banyak, bagaimana cara memasaknya, dan seperti apa keseluruhan pola makan seseorang.
Kebiasaan makan gorengan setiap pagi juga perlu diperhatikan jika gorengan tersebut dibuat menggunakan minyak yang sudah dipakai berulang kali. Pemanasan minyak berulang dapat menyebabkan perubahan kimia pada minyak dan menghasilkan senyawa hasil oksidasi. Karena itu, kualitas minyak dan cara pengolahan makanan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan, bukan hanya jenis gorengannya.
Selain minyak, makanan yang biasa menemani gorengan juga patut diperhatikan. Ada orang yang sarapan beberapa gorengan sambil minum teh manis, kopi dengan banyak gula, atau minuman kemasan. Jika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari, total kalori dan gula yang masuk ke tubuh dapat menjadi cukup tinggi tanpa disadari.
Bagi orang yang memiliki masalah pencernaan tertentu, makanan berlemak juga dapat membuat keluhan terasa lebih berat. Sebagian orang dapat mengalami rasa begah, mual, atau tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan berminyak dalam jumlah banyak. Respons setiap orang memang berbeda, tetapi jika keluhan berulang setiap kali makan gorengan, sebaiknya kebiasaan tersebut tidak diabaikan.
Hal lain yang sering terlupakan adalah kandungan garam pada makanan yang digoreng. Gorengan sendiri mungkin tidak selalu terasa sangat asin, tetapi bumbu, saus, kecap, sambal, atau makanan pendampingnya dapat menambah jumlah natrium. Jika pola makan secara keseluruhan tinggi natrium, terutama pada seseorang yang memiliki tekanan darah tinggi atau berisiko mengalaminya, pengurangan makanan tinggi garam dapat menjadi langkah yang penting.
Lalu apakah berarti gorengan sama sekali tidak boleh dimakan saat sarapan? Tidak sesederhana itu. Bagi orang yang sehat, sesekali menikmati gorengan dalam porsi wajar tidak otomatis membuat seseorang sakit. Yang lebih perlu diwaspadai adalah ketika gorengan menjadi kebiasaan harian, porsinya banyak, minyaknya tidak berkualitas, dan hampir tidak ada makanan bergizi lain dalam menu sarapan.
Sarapan sebenarnya bisa dibuat tetap praktis tanpa harus selalu mengandalkan gorengan. Misalnya, seseorang dapat memilih telur, tempe atau tahu yang tidak selalu digoreng, oatmeal, roti gandum, nasi dengan lauk berprotein, serta menambahkan buah atau sayuran sesuai kebutuhan. Dengan pilihan yang lebih beragam, tubuh memperoleh berbagai zat gizi yang tidak selalu bisa didapatkan dari gorengan.
Bukan berarti seseorang harus langsung menghilangkan semua gorengan dari kehidupannya. Jika selama ini terbiasa makan tiga atau empat gorengan setiap pagi, perubahan bisa dilakukan secara bertahap dengan mengurangi porsinya. Gorengan juga dapat diganti sebagian dengan makanan yang lebih bergizi sehingga lidah dan kebiasaan makan perlahan menyesuaikan.
Kita juga perlu melihat kebiasaan makan secara keseluruhan. Seseorang yang makan satu gorengan saat sarapan, banyak bergerak, mengonsumsi sayur dan buah, mendapatkan protein cukup, serta menjaga berat badan tentu memiliki kondisi yang berbeda dengan seseorang yang setiap pagi makan banyak gorengan, sepanjang hari mengonsumsi makanan ultra-proses, jarang bergerak, dan memiliki kelebihan berat badan. Jadi, satu jenis makanan tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran kesehatan seseorang.
Jika ingin tetap menikmati gorengan, beberapa hal sederhana dapat dilakukan. Pilih gorengan yang dibuat dengan minyak yang masih layak dan tidak digunakan berkali-kali, perhatikan porsinya, jangan menjadikannya satu-satunya makanan saat sarapan, dan imbangi dengan sumber protein, serat, serta makanan bergizi lainnya. Cara memasak yang lebih sedikit menggunakan minyak seperti dikukus, direbus, dipanggang, atau ditumis juga bisa menjadi alternatif.
BACA JUGA: Cara Bikin Gorengan Bala-bala yang Wow Rasanya! Ini Resepnya!
Pada akhirnya, gorengan bukan makanan yang harus ditakuti, tetapi kebiasaan mengonsumsinya setiap hari dalam jumlah berlebihan memang perlu diperhatikan. Sarapan seharusnya membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi untuk menjalani aktivitas, bukan sekadar membuat perut terasa penuh. Semakin beragam dan seimbang makanan yang kita konsumsi, semakin besar peluang tubuh mendapatkan nutrisi yang dibutuhkannya.
Jadi, kalau setiap hari sarapan dengan gorengan, bukan berarti tubuh pasti langsung mengalami penyakit tertentu. Namun, jika kebiasaan tersebut membuat asupan kalori dan lemak berlebihan serta menggantikan makanan yang lebih bergizi, dalam jangka panjang kebiasaan itu dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan. Sesekali menikmati gorengan boleh saja, tetapi menjadikannya menu utama setiap pagi sebaiknya dipikirkan kembali. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

