PERNAHKAH kita merasa tidak nyaman ketika melihat teman mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, memiliki rumah baru, atau meraih kesuksesan yang selama ini kita impikan? Di satu sisi, kita ingin ikut bahagia. Namun, di sisi lain, muncul perasaan iri karena kehidupan orang lain terlihat lebih baik daripada kehidupan kita sendiri.
Perasaan seperti ini cukup manusiawi. Setiap orang memiliki keinginan, harapan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, rasa iri bisa berkembang menjadi dengki yang membuat seseorang sulit menerima kebahagiaan orang lain.
Lantas, apakah berdosa jika seseorang merasa iri melihat kesuksesan temannya? Bagaimana Islam mengajarkan umatnya menyikapi keberhasilan orang lain?
BACA JUGA: Gibah Itu Termasuk Dosa Apa Tidak?
Rasa Iri Tidak Selalu Berarti Dosa
Dalam Islam, perasaan yang muncul di dalam hati perlu dibedakan berdasarkan sifat dan dampaknya. Ada perasaan ingin memperoleh kebaikan seperti yang dimiliki orang lain, tetapi tanpa berharap nikmat tersebut hilang dari pemiliknya. Perasaan ini dikenal sebagai ghibthah dan tidak sama dengan dengki yang tercela.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali terhadap dua orang: seseorang yang Allah beri harta lalu ia menghabiskannya dalam kebenaran, dan seseorang yang Allah beri hikmah lalu ia memutuskan perkara dengannya serta mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa keinginan untuk memiliki kebaikan seperti orang lain dapat menjadi sesuatu yang terpuji, terutama jika mendorong seseorang melakukan amal saleh.
Misalnya, ketika melihat teman sukses dalam bisnis yang halal, kita terdorong untuk bekerja lebih tekun. Atau ketika melihat seseorang rajin bersedekah, kita termotivasi agar lebih dermawan. Perasaan semacam ini seharusnya diarahkan menjadi semangat memperbaiki diri, bukan alasan untuk membenci orang lain.
Dengki yang Menginginkan Nikmat Orang Lain Hilang
Berbeda dengan keinginan untuk memperoleh kebaikan, dengki muncul ketika seseorang tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat. Bahkan, ia berharap kesuksesan tersebut hilang, meskipun dirinya tidak memperoleh manfaat apa pun dari hilangnya nikmat itu.
Sikap ini tercela karena dapat merusak hati dan hubungan antarmanusia. Seseorang yang dikuasai dengki mungkin mulai meremehkan pencapaian temannya, menyebarkan keburukannya, atau merasa puas ketika orang tersebut mengalami kegagalan.
Allah SWT berfirman, “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5).
Ayat tersebut mengajarkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan dengki. Perasaan ini tidak boleh dibiarkan tumbuh hingga mendorong seseorang melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Karena itu, ketika muncul rasa tidak senang melihat kesuksesan teman, kita perlu segera mengevaluasi diri. Jangan sampai perasaan yang awalnya hanya sesaat berubah menjadi kebencian yang terus dipelihara.
Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Iri?
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengelola rasa iri. Pertama, belajar menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup dan waktu keberhasilan yang berbeda. Kesuksesan teman bukan bukti bahwa kita telah gagal menjalani kehidupan.
Kedua, biasakan mendoakan kebaikan bagi orang yang berhasil. Meskipun pada awalnya terasa sulit, doa yang baik dapat membantu kita melatih hati agar tidak terus-menerus dikuasai perasaan negatif.
Ketiga, fokuslah pada usaha yang bisa dilakukan. Daripada menghabiskan waktu membandingkan pencapaian, gunakan energi tersebut untuk meningkatkan kemampuan, memperbaiki pekerjaan, dan memperbanyak amal saleh.
Keempat, ingatlah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Setiap orang memiliki karunia yang berbeda, baik berupa kesehatan, keluarga, kesempatan belajar, maupun rezeki yang mencukupi. Mensyukuri nikmat sendiri membantu kita melihat kehidupan dengan lebih jernih.
BACA JUGA: Apakah Menegur Anak-Anak Ketika Shalat Membatalkan Shalat?
Belajar Bahagia atas Kebahagiaan Orang Lain
Merasa iri sesaat tidak otomatis menjadikan seseorang berdosa. Yang perlu diwaspadai adalah ketika rasa iri dipelihara menjadi dengki, mendorong kebencian, atau diwujudkan dalam tindakan zalim. Karena itu, jangan berputus asa ketika mendapati hati belum sepenuhnya lapang.
Jadikan kesuksesan teman sebagai pengingat bahwa Allah memberikan kesempatan dan karunia kepada manusia dengan cara yang beragam. Kita boleh memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi jangan sampai keinginan tersebut membuat kita berharap orang lain kehilangan kebahagiaannya.
Pada akhirnya, keberhasilan orang lain tidak mengurangi kesempatan kita untuk berbuat baik dan meraih keberhasilan sendiri. Belajarlah memperbaiki diri tanpa merendahkan orang lain, serta memohon kepada Allah agar hati dijauhkan dari dengki. Sebab, hati yang bersih akan lebih mudah bersyukur, berusaha, dan ikut bahagia ketika orang lain mendapatkan kebaikan.[]
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

