Sumatera-ku, Indonesia-ku

2 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SUMATERAKU -ku, tanah hijau bermahkota cahaya,
Hutan dan sungaimu dulu berzikir sepanjang masa,
Kini arus mengamuk, menelan doa dan asa,
Banjir bandang datang membawa luka yang terasa.

Dari lereng sunyi hingga ke muara yang terluka,
Air cokelat berlari tanpa mengenal jeda,
Rumah-rumah hanyut bersama tangis yang tertata,
Anak kecil memeluk harap di dada ibunya.

Kami di seberang pulau ikut basah oleh rasa,
Meski kaki tak terendam, hati kami ikut terluka,
Sebab derita saudara bukan sekadar berita,
Ia mengetuk nurani, membelah sunyi jiwa.

Air mata jatuh bersatu dengan hujan yang mendera,
Doa-doa naik lirih dari banyak penjuru nusantara,
Kami tak lagi bertanya siapa yang salah dan berkuasa,
Di hadapan duka, semua ego runtuh tak bersisa.

Kini bukan soal siapa yang paling berjasa,
Bukan tentang warna, nama, atau suara kuasa,
Kini hanya tentang tangan yang sedia terbuka,
Mengangkat beban bersama, meski tubuh sendiri terluka.

Mari bersatu, bahu membahu dalam dada yang sama,
Menjadi jembatan bagi yang nyaris tenggelam asa,
Sebungkus nasi, sehelai selimut, seteguk air doa,
Kadang lebih berharga dari pidato penuh kata-kata.

Sumatera-ku, kau mengajar kami makna saudara,
Bahwa laut dan gunung bukanlah sekat semata,
Ketika satu titik nusantara jatuh oleh bencana,
Seluruh tubuh Indonesia ikut gemetar merasanya.

Di antara lumpur dan kayu yang hanyut tak bernama,
Kami melihat keteguhan yang tak pernah purna,
Ibu-ibu menanak doa di tungku yang tersisa,
Para ayah menggali harapan dari puing yang ada.

Anak-anak bertanya dengan mata penuh cahaya,
“Apakah besok masih ada sekolah dan tawa?”
Kami menjawab dengan suara yang bergetar jaga,
“Selama kita bersama, harapan takkan binasa.”

Sumatera-ku, Indonesia-ku, satu tubuh satu luka,
Deritamu adalah derita seluruh bangsa,
Mari rawat negeri dengan cinta yang nyata,
Agar bencana tak lagi menjadi warisan duka.

Bila hari ini kami datang membawa tangan dan doa,
Esok semoga engkau bangkit dengan senyum yang sama,
Dari banjir bandang kita anyam kembali cahaya,
Sebab Indonesia hidup dari persatuan jiwa-jiwa. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *