KEKERASAN dalam rumah tangga (KDRT) bukan sekadar persoalan emosi sesaat. Ia adalah masalah serius yang berakar pada pola pikir, pengalaman hidup, dan kegagalan mengelola diri. Memukul istri bukan tanda kejantanan, melainkan tanda ada sesuatu yang rusak dalam diri pelakunya. Lalu, apa saja faktor yang membuat sebagian lelaki melakukan hal ini?
1. Pola Asuh dan Lingkungan Sejak Kecil
Banyak pelaku KDRT tumbuh dalam keluarga yang penuh kekerasan. Sejak kecil mereka melihat ayah memukul ibu, dan tanpa sadar menganggap itu hal “normal”. Kekerasan yang diwariskan lintas generasi sering kali terus berulang jika tidak diputus.
2. Emosi yang Tidak Terkelola
Marah, cemburu, frustrasi, atau stres ekonomi sebenarnya adalah emosi manusiawi. Masalahnya, sebagian lelaki tidak pernah belajar cara mengekspresikan emosi secara sehat. Akibatnya, kemarahan dilampiaskan dengan pukulan, bukan dengan dialog.
BACA JUGA: 5 Nasihat untuk Suami yang Ramah kepada Orang Lain, tapi Kasar kepada Anak dan Istri
3. Mentalitas Superior dan Salah Paham tentang Kepemimpinan
Ada lelaki yang meyakini bahwa menjadi suami berarti berkuasa penuh atas istri. Ketika istri berbeda pendapat, dianggap melawan. Padahal, kepemimpinan dalam rumah tangga bukan soal dominasi, melainkan tanggung jawab dan kasih sayang.
4. Rendahnya Rasa Percaya Diri
Ironisnya, banyak pelaku kekerasan justru memiliki rasa tidak aman yang tinggi. Mereka merasa terancam jika istri lebih pintar, lebih mandiri, atau lebih vokal. Kekerasan dijadikan alat untuk menutupi rasa inferior dan mempertahankan “kendali”.
5. Pengaruh Alkohol, Narkoba, atau Kebiasaan Buruk
Konsumsi alkohol dan narkoba sering menurunkan kontrol diri dan memperbesar agresivitas. Dalam kondisi ini, konflik kecil bisa berubah menjadi kekerasan fisik yang berbahaya. Dalam Islam, khamr dan narkoba haram hukumnya.
6. Pembenaran Agama atau Budaya yang Keliru
Sebagian pelaku menggunakan dalih agama atau adat untuk membenarkan tindakannya. Padahal, tidak ada ajaran agama yang membolehkan pemukulan sebagai pelampiasan amarah atau bentuk kekuasaan.
BACA JUGA: Bolehkah Suami Istri Sembarangan Kentut di Depan Pasangan?
7. Tidak Pernah Mendapat Konsekuensi
Kekerasan sering terus berulang karena pelaku tidak mendapat sanksi tegas—baik dari keluarga, lingkungan, maupun hukum. Diamnya sekitar sering ditafsirkan sebagai izin untuk terus melakukan kekerasan.
Penutup
Memukul istri bukan masalah “emosi sesaat”, melainkan bentuk kekerasan yang harus dihentikan. Lelaki yang sehat adalah mereka yang mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab, dan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin. Jika kekerasan dibiarkan, yang hancur bukan hanya tubuh korban, tapi juga jiwa anak-anak dan masa depan keluarga.
Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami KDRT, mencari bantuan bukan aib—itu langkah berani untuk menyelamatkan hidup. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

