Keletihan Taat dan Maksiat

4 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

KITA sering bertanya dalam diam:
Mengapa hati yang kemarin terasa ringan hari ini terasa berat?
Mengapa ibadah yang dulu mengalir kini harus ditarik dengan susah payah?

Para ulama menjawabnya dengan satu kalimat sederhana: karena ketaatan adalah bagian dari iman. Dan iman—sebagaimana ditegaskan oleh para ahli hadits dan fiqh—bertambah dan berkurang.

Jika iman bisa naik dan turun, maka segala aktivitas yang hidup di dalamnya pun mengikuti hukum yang sama. Baik dalam wilayah i‘tiqad maupun amaliah, ia bisa menjulang tinggi hingga puncak, lalu turun perlahan hingga melemah pada suatu masa.

Di sinilah manusia diuji.

Orang yang berhasil bukanlah mereka yang selalu berada di puncak, tetapi mereka yang tidak kehilangan adab ketika berada di puncak, dan tidak keluar dari rel ketika berada di lembah. Ia tidak larut dalam euforia ketika iman meninggi, dan tidak pula melampaui batas ketika iman melemah.

Ia berjalan dalam satu pagar yang sama: sunnah Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan bahasa yang sangat manusiawi:

“Setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa lemah. Barangsiapa pada masa lemahnya masih berada di atas sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk.”

Dalam riwayat lain:

“Barangsiapa masa semangatnya berada di atas sunnahku, maka ia telah mendapat petunjuk.”

Kalimat ini seperti dialog lembut antara langit dan bumi. Ia tidak menuntut kita selalu kuat, tetapi menuntut kita tetap lurus saat lemah.

Segala bentuk ketaatan memang memiliki ritmenya sendiri. Kadang naik, kadang turun. Ada yang terasa jelas dan menyakitkan, ada pula yang turun tanpa disadari—pelan, halus, nyaris tak terdengar.

Namun, mengikat naik-turunnya iman dengan sunnah, tanpa menodainya dengan kehinaan dan kerendahan jiwa, itulah sebuah keindahan. Keindahan yang tenang. Keindahan yang dewasa.

https://s.shopee.co.id/AUnqOacF0x

Keindahan itu akan semakin sempurna bila seorang mukmin mampu menahan diri dari keinginan lepas kendali—keinginan untuk membalas, merasa paling benar, atau mempertahankan ego. Karena dari sanalah sering lahir kelengahan, egoisme, dan pertengkaran yang menggerus pahala amal jama‘i.

Bahkan, tidak jarang ia berubah menjadi penghalang untuk bersama orang-orang shaleh di surga.

Dua keindahan ini—menjaga sunnah saat iman naik dan turun, serta menahan diri dari kehancuran ego—akan menjadi perhiasan seorang mukmin. Hingga wajahnya, ketika bersama orang-orang shaleh, bercahaya seperti bulan purnama di malam hari, sebagaimana digambarkan Rasulullah ﷺ.

Karena itu, pemeriksaan hati menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Agar seorang mukmin mengenali ritme imannya: bersyukur ketika iman bertambah, dan bersegera menyusuli ketika iman berkurang.

Berangkat dari kesadaran inilah, Al-Junaid berseru dengan kalimat yang tajam namun penuh kasih:

“Periksalah hal-hal yang bisa menodai hatimu.”

BACA JUGA: Kekuatan Hati Seorang Mukmin

Al-Junaid menyebut semua yang mengurangi iman sebagai noda. Sesuatu yang mengeruhkan kejernihan, yang membuat hati merasa tenang pada tempat yang keliru. Noda-noda ini halus, licik, dan menipu.

Ia memberimu gambaran, tetapi tidak pernah memberi hakikat.
Ia menjatuhkanmu ke bumi yang lesu setelah semangat.
Ia mencuri identitasmu—identitas seorang hamba yang pernah termasuk dalam barisan hati-hati yang bersatu.

Dan sering kali, kita baru menyadarinya ketika letih telah terlalu dalam. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *