IBNU Qayyim رحمه الله menegaskan bahwa seorang hamba menempuh perjalanan menuju Allah bukan dengan kekuatan tubuhnya, melainkan dengan tekad, hasrat, dan kekuatan hatinya. Banyak orang mampu bergerak secara fisik, tetapi sedikit yang benar-benar berjalan secara ruhani.
Karena itu, hakikat takwa bukanlah semata-mata tampak pada gerak anggota badan, melainkan bersemayam di dalam hati. Anggota tubuh hanyalah penerjemah, sedangkan pusat keputusan dan nilai ada pada qalb.
Allah ﷻ menegaskan prinsip ini dalam firman-Nya:
“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-Ḥajj [22]: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa pengagungan terhadap syiar-syiar Allah—termasuk ibadah kurban—bukan sekadar perkara lahiriah, tetapi cerminan ketundukan dan keikhlasan hati.

Ketakwaan Hati dalam Praktik Kurban
Dalam tafsir tahlili dijelaskan bahwa memilih hewan kurban yang baik, sehat, dan layak bukan sekadar tuntutan fiqh, melainkan indikasi kebersihan niat dan kesungguhan hati dalam beribadah. Para sahabat bahkan menggemukkan hewan kurban mereka sebagai bentuk penghormatan kepada syiar Allah.
Abu Umamah bin Sahal berkata:
“Kami menggemukkan hewan kurban di Madinah, dan kaum Muslimin pun menggemukkannya.” (HR. al-Bukhari)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan batasan kualitas hewan kurban agar ibadah ini tidak dilakukan dengan sikap meremehkan:
“Empat macam hewan yang tidak sah untuk kurban: yang buta sebelah dan jelas kebutaannya, yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas pincangnya, dan yang sangat kurus hingga tidak bersumsum.” (HR. al-Bukhari dan Ahmad)
Semua ini kembali pada satu titik: pengagungan kepada Allah lahir dari kesadaran hati, bukan dari sekadar pemenuhan bentuk.
Takwa yang Sampai kepada Allah
Allah ﷻ kembali menegaskan hakikat ini dalam firman-Nya:
“Daging dan darah hewan kurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.” (QS. Al-Ḥajj [22]: 37)
Ayat ini turun untuk meluruskan pemahaman, ketika sebagian kaum Muslimin hampir meniru praktik kaum musyrik yang melumuri Ka‘bah dengan darah kurban. Allah memutuskan semua simbol kosong itu dan mengembalikan nilai ibadah kepada niat, ikhlas, dan ketakwaan hati.
Karena itu, penyembelihan diperintahkan disertai penyebutan nama Allah dan takbir, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam hadis Jabir bin Abdillah:
“Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu, dari Muhammad dan umatnya. Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar.” (HR. Abu Dawud)
Semua lafaz, gerak, dan tata cara itu adalah sarana; yang diterima Allah adalah hati yang tunduk dan berserah.
Cita-Cita Tinggi dan Nilai Amal
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa takwa itu berada di hati. Maka, orang yang cerdas bukan semata yang memperbanyak amal lahiriah, tetapi yang menempuh perjalanan dengan:
- cita-cita yang tinggi,
- tujuan yang lurus,
- dan niat yang benar.
Sering kali, seseorang dengan amal yang tampak sedikit dapat mengungguli orang yang bersusah payah dengan amal besar, karena cinta, keikhlasan, dan himmah yang mengiringinya. Cita-cita yang tinggi mampu menghilangkan rasa letih dan menjadikan perjalanan menuju Allah terasa nikmat.
Dengan ketenangan batin, seorang mukmin yang berhati kuat bisa melampaui derajat orang yang banyak amalnya, tetapi dangkal niatnya. Di sinilah pentingnya memahami perbedaan dan keterkaitan antara Islam (amal lahir) dan Ihsan (kesadaran batin).
BACA JUGA: Menghidupkan Malam: Bekal Sunyi bagi Dakwah yang Berat
Rasulullah ﷺ sebagai Teladan Puncak
Meski Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sempurna dalam iman, cita-cita, dan kedekatan dengan Allah, beliau tidak pernah mengurangi amal. Justru beliau:
- shalat malam hingga bengkak kakinya,
- berpuasa dengan penuh semangat,
- berjihad dengan jiwa dan raga,
- bersikap lembut kepada sahabat,
- dan menjaga amal sunnah secara konsisten.
Beliau menyempurnakan kekuatan hati dengan kesungguhan amal, sebuah keseimbangan yang tidak akan sanggup ditandingi oleh manusia mana pun setelahnya.
Penutup
Perjalanan menuju Allah tidak diukur dari jauhnya langkah kaki, tetapi dari kedalaman hati. Amal adalah kendaraan, tetapi tekad, cinta, dan takwa adalah bahan bakarnya. Tanpa kekuatan hati, amal menjadi kering. Namun dengan hati yang hidup, amal yang sedikit pun bisa bernilai besar di sisi Allah.
Inilah rahasia kekuatan seorang mukmin. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


