Kenapa Harus Jadi Murobbi?

4 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

TARBIYAH  bukan sekadar proses transfer ilmu. Ia adalah kerja peradaban. Di dalamnya ada sentuhan akal, penyucian hati, dan pembentukan fisik serta keterampilan. Karena itu, peran murabbi tidak ringan. Ia memikul amanah besar dalam membentuk manusia yang utuh, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan diwariskan oleh para ulama salaf.

Memperbaiki Manusia Secara Menyeluruh

Tugas utama murabbi adalah ishlah (perbaikan) pada tiga aspek pokok.

Pertama, akal. Murabbi menumbuhkan pemahaman yang lurus, ilmu yang shahih, dan cara berpikir yang benar. Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Ilmu bukanlah banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.” Maka tarbiyah akal tidak berhenti pada hafalan, tetapi melahirkan hikmah.

BACA JUGA: Alasan Mengapa Kita Harus Selalu Mengingat Kehidupan Abadi di Akhirat!

Kedua, hati. Inilah pusat iman, rasa takut kepada Allah, dan keikhlasan. Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa rusaknya hati lebih berbahaya daripada rusaknya badan. Karena itu murabbi wajib menghadirkan tarbiyah ruhiyah agar iman hidup, bukan sekadar slogan.

Ketiga, fisik dan keterampilan. Islam tidak melahirkan pribadi yang lemah. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengingatkan, “Mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah.” Tarbiyah harus melatih ketangguhan, kedisiplinan, dan kesiapan beramal nyata.

Menetapkan Target Tarbiyah yang Jelas

Tarbiyah tanpa tujuan akan kehilangan arah. Para ulama salaf sangat menekankan kejelasan ghayah (tujuan).

Target tarbiyah adalah lahirnya syakhsiyah Islamiyah, pribadi yang Islamnya tampak dalam akhlak, ibadah, dan muamalah. Bukan Islam simbolik, tapi Islam yang hidup.

Lebih dari itu, tarbiyah membentuk dai’yah, pribadi yang peduli dan mampu menyeru kepada kebenaran. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang memperbaiki dirinya dan memperbaiki orang lain.”

Tarbiyah juga melahirkan karakter harakiyah, siap bergerak dan berjuang, tidak pasif menyaksikan kerusakan. Serta memiliki ruh al-jama’ah, semangat kebersamaan dan ketaatan dalam barisan. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan, “Kebenaran itu bersama jama’ah, meski engkau sendirian di atasnya.”

https://s.shopee.co.id/8KjNfTuXxD

Menentukan Sarana dan Metode yang Tepat

Murabbi harus bijak dalam memilih wasail (sarana) dan uslub (metode). Para salaf mengajarkan bahwa metode harus sesuai dengan kondisi mad’u. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akalnya.”

Tarbiyah bukan proses instan. Ia membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kontinuitas. Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat dengan hikmah, bertahap, dan penuh kasih sayang.

Taqwim: Evaluasi yang Berkualitas

Evaluasi dalam tarbiyah tidak diukur dari lamanya ikut halaqah, bukan pula dari banyaknya materi yang disampaikan. Ukurannya adalah perubahan kualitas.

Apakah iman semakin kokoh?
Apakah akhlak semakin lurus?
Apakah kepedulian terhadap umat semakin kuat?

Inilah parameter yang ditekankan oleh para ulama. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Ilmu itu diamalkan, bukan sekadar diucapkan.”

BACA JUGA: Mengapa Harus Bersedekah dalam Berbisnis?

Dampak Tarbiyah yang Benar

Tarbiyah yang shahih akan melahirkan pribadi yang peka terhadap kondisi Islam dan umat. Ia tidak tenang melihat kemungkaran, ketidakadilan, dan keterpurukan.

Ia terdorong untuk berkontribusi dengan tenaga, waktu, dan harta. Bukan menunggu diseru, tetapi bergerak karena kesadaran iman. Dari sinilah lahir harakatul inqadz, gerakan penyelamatan dan pembelaan terhadap umat yang tertindas dan terpinggirkan.

Keutamaan Menjadi Murabbi

Murabbi bukan sekadar pengajar. Ia adalah pewaris tugas Rasulullah ﷺ. Tugas yang mulia, tetapi berat.

Ucapan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sangat dalam maknanya:
“Seandainya tidak ada murabbi, niscaya aku tidak mengenal Rabb-ku.”
Ini menunjukkan betapa besar pengaruh tarbiyah dan peran orang-orang yang mendidik dengan keikhlasan.

Penutup

Tarbiyah adalah jantung dakwah. Tanpanya, gerakan akan rapuh dan mudah runtuh. Murabbi adalah pilar kebangkitan umat. Dan harakatul inqadz tidak akan lahir kecuali dari umat yang benar-benar tertarbiyah.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang mendidik dan dididik di atas jalan para salafus shalih.

Wallahu a‘lam. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *