“APA doamu belum dikabulkan?”
Pertanyaan itu jatuh pelan, seperti daun kering di serambi hati. Seorang ulama tua—wajahnya teduh, matanya dalam—tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya merapikan tasbih, lalu berkata seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku berdoa kepada Allah untuk suatu keperluan sejak dua puluh tahun yang lalu,” ujarnya.
“Doaku belum juga dikabulkan. Tapi aku tidak berhenti berharap. Aku yakin, suatu hari Allah akan mengabulkannya.”
Aku terdiam. Dua puluh tahun. Dalam hitungan manusia, itu hampir seperempat umur. Dalam hitungan ambisi, itu terlalu lama. Tapi dalam ucapannya, tidak ada nada kecewa. Yang ada justru ketenangan—seolah doa itu sendiri sudah menjadi jawaban.
“Apakah dua puluh tahun tidak terlalu lama?” tanyaku hati-hati.
Ia menoleh. “Lama menurut siapa?”
—
“Coba kau tanya pada Nabi Ibrahim,” katanya kemudian. “Berapa lama beliau berdoa untuk memiliki anak?”
Aku teringat ayat itu. Doa yang singkat, tapi berat maknanya.
Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn.
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang saleh.”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalām memanjatkan doa itu bukan di usia muda. Ia berdoa ketika rambutnya telah memutih, ketika tubuhnya melemah, ketika secara hitungan manusia harapan sudah hampir ditutup. Tahun demi tahun berlalu. Doa itu tidak langsung dijawab.
“Tapi Allah tidak pernah lupa,” kata sang ulama pelan.
“Ketika doa itu dikabulkan, bukan sekadar anak yang diberikan, melainkan anak yang menjadi bagian dari sejarah tauhid.”
Aku mengangguk. Ismail lahir bukan hanya sebagai buah doa, tapi sebagai awal mata rantai panjang kenabian.

“Lalu Nabi Zakariya,” lanjutnya, suaranya makin lirih.
“Pernahkah kau bayangkan sunyinya mihrab ketika beliau berdoa sendirian?”
Aku membayangkan seorang nabi tua, berdiri di tempat ibadah, berdoa tanpa saksi kecuali langit.
Rabbi lā tadhar-nī fardan wa anta khairul-wārithīn.
“Ya Tuhanku, jangan Engkau biarkan aku hidup seorang diri.”
Ia berdoa bertahun-tahun. Doanya naik, tapi belum turun jawaban. Sampai akhirnya Allah memberinya Yahya—bukan sekadar anak, tapi nabi yang suci, yang lembut, yang agung.
“Allah menunda,” kata sang ulama, “bukan karena tidak mampu, tapi karena sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar keinginan.”
—
Aku pikir kisah itu sudah cukup. Tapi ia menghela napas, lalu berkata, “Namun ada doa yang jarak waktunya jauh lebih panjang.”
Ia menatap jauh, seolah melihat Mekah ribuan tahun silam.
“Nabi Ibrahim berdiri di lembah tandus. Tidak ada kota, tidak ada peradaban. Hanya Ka‘bah yang baru ditegakkan. Lalu ia berdoa.”
Aku tahu doa itu.
Rabbanā wab‘ats fīhim rasūlan minhum…
“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka.”
Doa itu tidak dijawab dalam satu abad. Tidak juga dalam sepuluh abad. Generasi berganti. Zaman berubah. Dan baru ribuan tahun kemudian, seorang bayi lahir di Mekah—Muhammad bin Abdullah ﷺ.
“Rasulullah sendiri bersabda,” ujar sang ulama, suaranya bergetar halus,
‘Aku adalah doa ayahku Ibrahim.’
Aku merinding. Doa seorang nabi dijawab lintas zaman. Pengabulannya melampaui usia pendoanya.
“Jadi,” katanya pelan, “kalau doamu belum dikabulkan sepuluh atau dua puluh tahun, itu belum apa-apa.”
—
Aku lalu teringat Rasulullah ﷺ sendiri. “Apakah Nabi pernah menunggu doanya?”
Ulama itu tersenyum. “Sering.”
Ia mengisahkan Rasulullah ﷺ di Madinah, menengadah ke langit, berharap kiblat dipindahkan ke Ka‘bah. Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan. Sekitar enam belas bulan Rasulullah ﷺ menunggu, berdoa, berharap, tanpa protes, tanpa keluhan.
“Al-Qur’an bahkan merekam gerakan wajah beliau,” katanya.
‘Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit.’
“Doa itu dikabulkan,” lanjutnya, “tapi setelah Allah menenangkan hati Nabi-Nya dengan penantian.”
BACA JUGA: Menjadi Sahabat Surat Al-Baqarah
Aku terdiam lama. Dua puluh tahun tiba-tiba terasa kecil. Bukan karena doaku lebih ringan, tapi karena Allah jauh lebih besar dari persepsiku tentang waktu.
“Jadi,” tanyaku lirih, “apa sebenarnya fungsi doa?”
Ulama itu tersenyum, kali ini lebih hangat.
“Doa bukan alat menekan Allah,” katanya.
“Doa adalah cara Allah menjaga hatimu tetap hidup, tetap berharap, tetap bergantung.”
Ia menatapku dalam-dalam.
“Selama kau masih berdoa, kau belum ditinggalkan.”
Dan di saat itu aku mengerti:
doa yang belum dikabulkan bukan doa yang gagal.
Ia sedang berjalan.
Pelan, pasti, menuju waktu yang paling tepat menurut langit. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


