BUAT apa qiyamulail atau tahajjud?
Malam turun perlahan.
Sunyi merapat.
Dunia seperti menarik napas panjang.
Di sepertiga malam.
Saat banyak tubuh terlelap.
Ada jiwa yang bangun.
Pelan.
Sadar.
Menghadap.
Qiyamulail bukan sekadar ibadah.
Ia adalah jeda.
Dari riuh pikiran.
Dari lelah yang tak terlihat.
Tubuh berdiri.
Lalu rukuk.
Lalu sujud.
Gerak yang sederhana.
Namun dalam.

Di situlah beban mulai luruh.
Satu per satu.
Tanpa suara.
Secara ilmiah, tubuh manusia memiliki ritme alami.
Disebut ritme sirkadian.
Pada malam hari, hormon melatonin meningkat.
Membantu tidur.
Menenangkan sistem saraf.
Namun ketika seseorang bangun untuk qiamulail.
Dengan niat yang tenang.
Tanpa paksaan.
Tubuh tidak terganggu.
Justru menemukan keseimbangan baru.
Penelitian dalam bidang neuropsikologi menunjukkan,
aktivitas spiritual seperti doa dan meditasi
mampu menurunkan kadar hormon stres, kortisol.
Pikiran menjadi lebih jernih.
Lebih stabil.
Seorang ahli kesehatan mental,
sering menyebutkan bahwa momen hening di malam hari
memberi ruang bagi otak untuk “reset”.
Mengurangi overthinking.
Menguatkan fokus.
Dalam qiyamulail, itu terjadi secara alami.
Napas lebih teratur.
Detak jantung melambat.
Otot-otot melepas tegangnya.
Gerakan shalat sendiri,
secara medis menyerupai peregangan ringan.
Melancarkan aliran darah.
Menjaga fleksibilitas tubuh.
Mengurangi risiko kekakuan sendi.
Sujud.
Posisi paling rendah.
Namun justru paling menenangkan.
Dalam posisi itu,
aliran darah ke otak meningkat.
Memberi suplai oksigen lebih baik.
Mendukung fungsi kognitif.
Memperkuat daya ingat.
Bukan hanya fisik.
Qiyamulail menyentuh yang lebih dalam.
Pikiran yang kusut.
Perlahan terurai.
Hati yang gelisah.
Menemukan tempat pulang.
Ahli psikologi menyebutnya sebagai efek regulasi emosi.
Ketika seseorang merasa terhubung
dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya,
tingkat kecemasan menurun.
Rasa aman meningkat.
BACA JUGA: Ada Apa dengan Bekam dengan Perut Kosong?
Dan qiyamulail menghadirkan itu.
Tanpa alat.
Tanpa biaya.
Hanya kesadaran.
Di tengah gelap.
Ada cahaya yang tidak terlihat.
Namun terasa.
Orang yang rutin bangun malam,
sering menunjukkan kualitas tidur yang lebih baik.
Bukan karena durasi.
Tapi karena kedalaman.
Tidurnya lebih berkualitas.
Bangunnya lebih segar.
Qiyamulail mengajarkan ritme.
Kapan berhenti.
Kapan kembali.
Tubuh menjadi lebih peka.
Pikiran lebih terarah.
Dan perlahan,
hidup tidak lagi terasa berat.
Karena setiap malam,
ada tempat untuk meletakkan lelah. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


