Asal Usul Nama Muhammad pada Presiden Soeharto

3 Min Read
Oleh Foto dari: Tutut Soeharto

PADA tahun 1991, langkah itu dimulai dari tanah jauh.
Dari istana menuju padang pasir.
Dari jabatan menuju penghambaan.

Soeharto berangkat haji.
Bersama Siti Hartinah, istri yang setia mendampingi.
Rombongan kecil. Tapi maknanya besar.

Mereka tiba di Mekkah.
Kota yang tak pernah tidur oleh doa.
Kota yang menelan gelar, menyisakan hamba.

Sambutan datang dengan kehormatan.
Bukan sembarang sambutan.
Diwakili oleh Pangeran Majid bin Abdul Aziz.
Utusan langsung dari Raja Fahd.

BACA JUGA: Presiden Soeharto: Kalau Ajal Saya Sampai

Fasilitas disiapkan.
Royal Guest House.
Tempat yang sunyi tapi megah.
Juga tenda khusus di Arafah.
Di sana, semua tetap sama.
Putih. Panas. Dan fana.

Dalam catatan sejarah haji kenegaraan, ini bukan hal baru.
Pemimpin dunia memang sering mendapat perlakuan khusus.
Sebagai tamu negara.
Sebagai simbol hubungan diplomatik.
Sebagai bentuk penghormatan.

Namun, kejadian itu berbeda.
Tidak sekadar fasilitas.
Tidak sekadar jamuan.

Sebuah surat datang.
Dari seorang raja kepada seorang presiden.
Isi yang sederhana.
Namun dalam maknanya.

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Raja Fahd memberikan pilihan nama.
Nama-nama yang agung.
Nama-nama yang penuh sejarah.

Untuk Soeharto: Mohammad atau Ahmad.
Untuk Ibu Tien: Siti Fatimah atau Siti Maryam.

Nama bukan sekadar bunyi.
Ia doa.
Ia identitas.
Ia arah.

Dalam tradisi Islam, mengganti atau menambahkan nama saat haji bukan hal asing.
Banyak jamaah melakukannya.
Sebagai simbol kelahiran kembali.
Sebagai penanda hijrah batin.

Soeharto memilih Mohammad.
Nama yang berat.
Nama Nabi.
Nama yang memikul teladan.

Ibu Tien memilih Siti Fatimah.
Nama putri Rasulullah.
Lembut. Kuat. Mulia.

Sejak itu, nama itu melekat.
Bukan sebagai gelar resmi.
Namun sebagai jejak spiritual.

Peristiwa ini jarang dibicarakan.
Namun ia hidup dalam arsip.
Dalam cerita para saksi.
Dalam ingatan yang pelan.

BACA JUGA: Kisah Haru Mbak Tutut: Diajari Masukkan Benang ke Lubang Jarum oleh Bu Tien Soeharto

Di balik kekuasaan, ada momen sunyi.
Di balik protokol, ada ruang batin.
Di tanah Arafah, semua setara.
Semua menunggu ampun.

Seorang presiden pun memilih nama.
Seperti manusia biasa.
Yang ingin lebih dekat.
Yang ingin lebih ringan.

Dan di antara panas pasir itu,
nama menjadi doa.
Doa yang dibawa pulang.
Ke negeri yang jauh. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *