AHMAD bin Ali bin Ja‘far meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Katib berkata:
“Apabila seorang hamba memfokuskan dirinya kepada Allah secara total, maka anugerah pertama yang Allah berikan adalah rasa cukup dengan-Nya, sehingga ia tidak lagi bergantung kepada selain-Nya. Barangsiapa bersabar, niscaya ia akan sampai kepada Allah.”
Dalam kesempatan lain Ibnu Katib mengungkapkan:
“Jika rasa takut (kepada Allah) bersemayam di dalam hati, maka lisan tidak akan berucap kecuali dengan sesuatu yang bermanfaat.”
Dari sini tampak bahwa kondisi hati sangat menentukan kualitas amal, termasuk dalam berdzikir. Abu Qasim al-Mishri juga menuturkan kisah tentang Ibnu Katib, yang berkata:
“Sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada hamba manisnya berdzikir kepada-Nya. Jika ia merasa senang dengannya dan mensyukurinya, maka Allah akan menenteramkannya dengan kedekatan kepada-Nya. Namun jika ia lalai untuk bersyukur, maka dzikir itu hanya akan berjalan di lisannya, sementara manisnya akan dicabut.”
Dengan demikian, kemampuan untuk berdzikir bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan nikmat besar yang menuntut rasa syukur. Sebab, hanya dengan syukur itulah dzikir berubah dari sekadar ucapan menjadi sumber ketenangan dan kedekatan dengan Allah. []
Sumber: Ibnul Jauzy, Shifatush Shafwah, Pustaka Azzam, 2015
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

