PADA dasarnya, kematangan dan kekokohan ilmu tidak dapat diraih kecuali melalui penelaahan yang berulang serta kebiasaan membaca yang konsisten. Ilmu bukan sekadar dipahami sekali, tetapi diperdalam melalui pengulangan yang terus-menerus hingga meresap dalam jiwa.
Para ulama terdahulu memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Imam Nawawi, misalnya, dikisahkan membaca kitab Al-Wasith hingga 400 kali. Al-Farabi membaca karya-karya Aristoteles sampai 100 kali untuk memahami kedalaman pemikirannya. Sementara itu, Abu Ahmad bin Tamim mengulang bacaan kitab karya Abbas bin Al-Farisi hingga 1.000 kali.
Tidak kalah mengagumkan, Sayid Ashiluddin membaca Shahih Bukhari sebanyak 120 kali. Adapun Ibnu Atsir menghimpun sekitar 3.000 kisah dan hadis Nabi ﷺ dalam satu karya setelah meneliti dan memilahnya selama kurang lebih 10 tahun.
Semua itu menunjukkan bahwa kematangan ilmu lahir dari kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan dalam mengulang serta mengkaji. Jerih payah para ulama dalam mendidik diri mereka sendiri, meski penuh kelelahan, pada akhirnya mengantarkan mereka menjadi imam dan rujukan umat dalam ilmu pengetahuan. []
Sumber; Abdul Fattah Abu Ghuddah, Kisah Ulama Terdahulu Mengelola Waktu, GIP, 2025
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

