Syaqiq az-Zahid dikenal sebagai seorang yang banyak berinteraksi dengan berbagai karakter manusia—ada yang baik, ada pula yang jahat. Dari pergaulan itulah, ia tidak hanya menilai orang lain, tetapi justru menjadikannya cermin untuk menilai dirinya sendiri.
Ia berkata,
“Apabila engkau mengingat seseorang yang berbuat kejahatan, sementara engkau tidak merasa kasihan kepadanya, maka berarti engkau lebih jahat darinya.”
Perkataan ini mengajarkan bahwa melihat keburukan orang lain seharusnya melahirkan rasa iba, bukan kesombongan. Sebab, hati yang keras terhadap kesalahan orang lain bisa jadi tanda adanya penyakit dalam diri.
Ia melanjutkan,
“Dan apabila engkau mengingat seseorang yang berbuat kebaikan, sementara engkau tidak merasakan manisnya ketaatan kepada Allah di dalam hatimu, maka engkau termasuk orang yang jahat.”
Di sini, kebaikan orang lain seharusnya membangkitkan kerinduan untuk mendekat kepada Allah. Jika tidak, itu menandakan hati telah tumpul dan jauh dari kepekaan spiritual.
Dengan demikian, pergaulan bukan sekadar ruang untuk mengenal orang lain, tetapi juga sarana untuk mengenal diri sendiri. Baik dan buruknya orang lain sejatinya adalah ujian bagi hati—apakah ia menjadi lembut dan sadar, atau justru semakin keras dan lalai. []
Sumber: Abul Laits As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, Pustaka Amani, 1999
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

