Kain Kafan Mus’ab bin Umair

Nasrulloh Baksolahar
2 Min Read
Foto: Islampos

DI Makkah, nama Mus’ab bin Umair pernah identik dengan kemewahan. Ia dikenal sebagai pemuda paling rapi dalam berpakaian dan paling harum aromanya. Bahkan, orang-orang yang melewati jalan yang baru saja ia lewati sering berkata, “Mus’ab baru saja lewat dari sini.”

Namun, kehidupan itu berubah drastis ketika ia mengenal Islam. Suatu hari, ia terlihat memasuki Dar al-Arqam—tempat Rasulullah ﷺ membina para sahabat secara sembunyi-sembunyi. Peristiwa itu diketahui oleh Utsman bin Thalhah dan dilaporkan kepada ibunya.

Reaksi keluarganya keras. Ia dikurung, diisolasi dari dunia luar, dan dipaksa meninggalkan keyakinannya. Namun, Mus’ab memilih jalan yang berbeda. Ia berhasil meloloskan diri dan berhijrah ke Habasyah demi menjaga imannya.

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Sekembalinya ke Makkah, ujian itu belum berakhir. Ibunya memutus seluruh dukungan, bahkan tidak memberinya sepeser pun harta. Mus’ab yang dahulu hidup dalam kemewahan kini menghadapi kemiskinan yang nyata—semua karena satu pilihan: bersujud hanya kepada Allah.

Perubahan itu terekam jelas dalam kesaksian Ali bin Abi Thalib. Ia pernah melihat Mus’ab mengenakan pakaian kasar yang bertambal, jauh dari kemewahan masa lalunya. Melihat itu, Rasulullah ﷺ pun tak kuasa menahan air mata.

Ketika ditanya tentang perbandingan hidupnya dahulu dan sekarang, Mus’ab menjawab dengan tegas:
“Keadaan sekarang lebih baik daripada keadaan dahulu.”

Pernyataan itu bukan sekadar jawaban, tetapi penegasan tentang revolusi diri—perubahan nilai, orientasi, dan makna hidup.

BACA JUGA: Rumah Al-Arqam-nya Yatsrib

Puncak dari perjalanan itu tampak ketika ia gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud. Abdurrahman bin Auf meriwayatkan bahwa saat itu, kain kafannya hanya selembar. Jika kepalanya ditutup, kakinya terbuka; jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka.

Dari kemewahan menuju kesederhanaan, dari kelimpahan menuju kekurangan—kisah Mus’ab bin Umair bukan tentang kehilangan, melainkan tentang transformasi. Kain kafannya menjadi simbol paling jujur: bahwa kemuliaan sejati tidak diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang dikorbankan. []

Sumber: Mahmud Al-Misri, Ensiklopedia Sahabat, Pustaka Imam Syafi‘i, 2016 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *