BANYAK orang pernah merasakan semangat yang kuat untuk memulai shalat dhuha. Di awal, niat terasa mantap dan hati terdorong untuk berubah menjadi lebih baik. Namun, kenyataan yang sering terjadi justru berbeda. Semangat itu perlahan memudar. Hari ini dikerjakan, besok ditinggalkan. Pekan ini rutin, pekan depan hilang sama sekali.
Masalahnya bukan pada niat awal, tapi pada kemampuan menjaga konsistensi. Shalat dhuha terasa ringan saat semangat datang, tapi menjadi berat ketika rutinitas kehidupan mengambil alih. Di sinilah pentingnya memahami bahwa istiqamah bukan sekadar soal motivasi, melainkan soal fondasi yang kuat.
1. Kurangnya Pemahaman: Menganggap Dhuha Sekadar Tambahan
Salah satu akar utama masalah adalah kurangnya pemahaman tentang keutamaan shalat dhuha. Banyak yang menganggap dhuha hanya sebagai ibadah sunnah biasa, yang boleh dikerjakan atau ditinggalkan tanpa konsekuensi berarti.
Padahal, shalat dhuha memiliki nilai yang sangat besar. Ia adalah bentuk syukur atas nikmat anggota tubuh yang Allah berikan setiap hari. Ketika seseorang tidak memahami hal ini, maka meninggalkan dhuha terasa ringan. Tidak ada rasa kehilangan, karena memang tidak dianggap penting.
Sebaliknya, ketika pemahaman sudah benar, maka dhuha tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan kebutuhan ruhani.
BACA JUGA: Benarkah Shalat Dhuha Bisa Membuka Pintu Rezeki?
2. Niat yang Menyempit: Terjebak pada Urusan Rezeki
Masalah berikutnya adalah niat yang kurang tepat. Banyak orang mengaitkan shalat dhuha hanya dengan pembuka rezeki. Akibatnya, ibadah ini dipersempit menjadi sarana untuk mendapatkan keuntungan dunia.

Ini bukan berarti salah berharap rezeki, tetapi menjadi masalah ketika itu dijadikan tujuan utama. Ketika hasil yang diharapkan tidak segera terlihat, semangat pun menurun. Ibadah jadi terasa sia-sia, padahal sejatinya tidak demikian.
Niat yang benar adalah mengharap ridha Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Rezeki hanyalah bagian dari karunia yang bisa datang dalam berbagai bentuk, tidak selalu materi.
3. Tidak Punya Sistem: Mengandalkan Mood, Bukan Kebiasaan
Istiqamah bukan dibangun dari semangat sesaat, tetapi dari kebiasaan yang terus dijaga. Banyak orang gagal istiqamah karena hanya mengandalkan mood. Ketika sedang semangat, dhuha dikerjakan. Ketika malas, langsung ditinggalkan.
Masalahnya, mood itu tidak stabil. Ia naik turun. Jika ibadah bergantung pada mood, maka konsistensi tidak akan pernah tercapai.
Solusinya adalah membangun sistem. Tentukan waktu tetap untuk dhuha, mulai dari jumlah yang ringan seperti dua rakaat, dan lakukan setiap hari. Dengan cara ini, dhuha tidak lagi bergantung pada perasaan, tapi menjadi bagian dari rutinitas.
4. Kebingungan Teknis: Menunda karena Tidak Yakin
Hal lain yang sering terjadi adalah kebingungan tentang waktu dan jumlah rakaat. Sebagian orang ragu: kapan waktu terbaik dhuha? Berapa rakaat yang ideal? Apakah harus banyak agar bernilai?
Keraguan seperti ini sering berujung pada penundaan. Padahal, shalat dhuha itu sederhana. Waktunya dimulai setelah matahari terbit hingga sebelum zuhur. Minimal dua rakaat, dan boleh ditambah sesuai kemampuan.
Yang terpenting bukanlah jumlahnya, tapi konsistensinya. Lebih baik sedikit tapi rutin daripada banyak tapi jarang.
5. Kehilangan Rasa: Ibadah Tanpa Kehadiran Hati
Masalah yang paling halus namun sangat berpengaruh adalah tidak merasakan dampak spiritual dari shalat dhuha. Ada yang sudah mencoba rutin, tapi merasa tidak ada perubahan. Hati tetap gelisah, pikiran tetap penuh.
Ini biasanya karena kurangnya kekhusyukan. Shalat dilakukan, tapi hati tidak benar-benar hadir. Bacaan dilafalkan, tapi tidak direnungkan. Akibatnya, ibadah terasa kering dan tidak membekas.

Padahal, kekuatan ibadah terletak pada kehadiran hati. Ketika seseorang benar-benar fokus dan sadar bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah, maka meskipun hanya dua rakaat, dampaknya bisa sangat dalam.
BACA JUGA: Bolehkah Shalat Dhuha Berdekatan dengan Shalat Dzuhur?
Penutup: Istiqamah Itu Dibangun, Bukan Ditunggu
Dari semua penjelasan ini, jelas bahwa sulitnya istiqamah dalam shalat dhuha bukan karena ibadahnya berat, tetapi karena fondasi yang belum kuat. Masalahnya saling berkaitan, mulai dari pemahaman, niat, kebiasaan, hingga kualitas ibadah itu sendiri.
Kalau ingin istiqamah, maka perbaikannya harus dimulai dari dalam. Perbaiki cara pandang, luruskan niat, bangun kebiasaan kecil, dan latih hati untuk hadir dalam setiap shalat.
Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Justru dengan memulai, kita belajar menjadi lebih baik. Dan jika suatu hari terlewat, jangan berhenti. Kembali lagi, meskipun perlahan.
Karena istiqamah bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu bangkit dan melanjutkan langkah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


