MEROKOK sering dianggap sebagai jalan cepat untuk menenangkan diri.
Saat cemas datang, tangan spontan mencari rokok.
Lalu api dinyalakan.
Asap dihirup dalam-dalam.
Beberapa menit terasa lebih ringan.
Pikiran sedikit tenang.
Tubuh terasa lebih rileks.
Namun ketenangan ini sebenarnya semu.
Nikotin dalam rokok bekerja sangat cepat.
Zat ini masuk ke paru-paru.
Lalu menuju otak hanya dalam hitungan detik.
Di otak, nikotin memicu pelepasan dopamin.
Dopamin adalah senyawa yang berhubungan dengan rasa nyaman dan reward.
Inilah alasan mengapa perokok merasa lebih tenang setelah merokok.
Tetapi ada jebakan biologis di baliknya.
Efek nyaman nikotin berlangsung singkat.
Setelah itu kadar nikotin menurun.
Tubuh mulai mengalami withdrawal ringan.
Muncul gelisah.
Sulit fokus.
Mudah marah.
Cemas kembali meningkat.

Akhirnya seseorang ingin merokok lagi.
Siklus ini terus berulang.
Secara ilmiah, merokok saat cemas bukan mengatasi kecemasan.
Justru memperkuat ketergantungan nikotin.
Banyak penelitian menunjukkan perokok memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi dibanding non-perokok.
Karena sistem saraf terus dipaksa naik turun oleh nikotin.
Selain berdampak pada mental, bahaya terbesar ada pada tubuh.
Asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia.
Ratusan di antaranya beracun.
Puluhan lainnya bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.
Contohnya formaldehida.
Amonia.
Karbon monoksida.
Tar.
Karbon monoksida mengikat hemoglobin lebih kuat dibanding oksigen.
Akibatnya suplai oksigen ke organ berkurang.
Jantung bekerja lebih keras.
Pembuluh darah menyempit.
Tekanan darah meningkat.
Dalam jangka panjang, risiko penyakit berat meningkat drastis.
Merokok berkaitan erat dengan kanker paru.
Penyakit jantung koroner.
Stroke.
PPOK atau penyakit paru obstruktif kronis.
PPOK membuat seseorang sulit bernapas.
Aktivitas ringan terasa berat.
Naik tangga pun melelahkan.
Menurut banyak data kesehatan global, rokok menjadi salah satu penyebab kematian yang dapat dicegah terbesar di dunia.
Artinya, banyak kematian sebenarnya bisa dihindari bila paparan rokok dihentikan.
Ironisnya, seseorang merokok untuk menenangkan diri.
Padahal ia sedang memasukkan faktor risiko penyakit mematikan ke dalam tubuhnya setiap hari.
Kecemasan memang nyata.
Namun rokok bukan solusi.
Cara yang lebih sehat jauh lebih efektif.
Latihan napas dalam.
Olahraga ringan.
Tidur cukup.
Mengurangi kafein berlebihan.
Konseling psikologis.
Meditasi.
Atau terapi perilaku kognitif.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Metode-metode ini membantu mengelola akar kecemasan.
Bukan sekadar menutupinya sesaat.
Tubuh manusia dirancang untuk pulih.
Tetapi tubuh juga memiliki batas.
Setiap batang rokok memberi beban tambahan.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Mungkin dampaknya tidak terasa hari ini.
Namun akumulasinya bisa muncul bertahun-tahun kemudian.
Kesehatan bukan dibangun dalam semalam.
Begitu pula kerusakannya.
Apa yang dihirup hari ini, bisa menentukan kualitas hidup di masa depan.
Bahkan menentukan panjang pendeknya usia seseorang. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


